Sukses Dengan Mempersempit Tujuan

Tujuan HidupMembaca buku Seven Years to Seven Figures karangan Michael Masterson seperti memutar lagi kaset yang berisi lagu-lagu lama, karena di buku ini – lagi-lagi – menekankan pentingnya menentukan prioritas dalam mencapai tujuan hidup.

Penulis yang sebelumnya terkenal lewat buku Early to Rise ini tanpa tedeng aling-aling langsung menggedor paradigma kita akan proses yang dibutuhkan untuk meraih impian. Memiliki kekayaan bersih senilai jutaan dolar dalam rentang waktu tujuh tahun memang terdengar naif dan tampak mustahil. Namun argumennya masuk akal juga. Kuncinya adalah perubahan secara radikal dalam hal membuat prioritas.

Perubahan radikal yang seperti apa? Ternyata cukup sederhana, yaitu berusaha membuat tujuan-tujuan hidup sesempit mungkin hingga hanya satu tujuan yang tersisa, dan jadikan itu prioritas yang benar-benar utama.

Misal, seperti yang dicontohkan oleh penulis lewat pengalaman pribadinya sendiri, ia pada mulanya memiliki beberapa tujuan yang spesifik untuk kehidupannya kelak. Lalu setelah mengikuti serangkaian kursus yang diprakarsai oleh Dale Carnegie, ia ditantang untuk mengidentifikasi sepuluh tujuan yang paling penting. Kemudian mempersempitnya menjadi lima tujuan. Dipersempit lagi menjadi tiga, dan akhirnya diharuskan tuk memilih hanya satu tujuan sebagai tujuan utama.

Ia pun menukil kata-kata sang mentor…

…walapun kebanyakan orang tidak sukses karena tidak memiliki tujuan yang didefinisikan secara jelas, sebagian orang justru gagal mencapai kemajuan karena memiliki tujuan yang sangat banyak.

Dengan cara ini, penulis mengaku sukses meraih kekayaan dalam waktu yang relatif singkat dan itu dibuktikan dengan kisah-kisah inspiratif orang-orang yang mengikuti ajarannya di sepanjang buku ini.

Dan perumpamaan tuk mendahulukan prioritas utama diatas prioritas yang lain disajikan pula di buku ini lewat cerita apik berikut:

Seorang profesor filsafat dan para muridnya sedang berdiri dalam sebuah gudang. Di depan mereka terdapat sebuah ember kaleng besar serta beberapa kotak berisi batu dan pasir.

Sang profesor mengangkat kotak berisi batu-batuan besar, masing-masing berdiameter sekitar sepuluh sentimeter, dan menuangnya ke dalam ember. Batu-batu itu mencapai bagian atas ember dan dia bertanya kepada murid-muridnya apakah ember itu sudah penuh.

“Sudah penuh!” jawab para muridnya.

Sang profesor mengambil kotak lain yang berisi batu-batuan berdiameter sekitar 2,5 sentimeter dan menuangkannya ke dalam ember. Batu-batu yang lebih kecil ini mengisi ruang kosong di antara batu-batu besar tadi. Kemudian dia bertanya lagi apakah ember itu sudah penuh.

Para muridnya melihat ember itu dan menjawab, “Ya, sudah penuh!”

Sang profesor kemudian menuangkan isi kotak ketiga yang berisi batu kerikil. Para muridnya kemudian melihat ke dalam ember dan sepakat mengatakan bahwa ember telah penuh.

Akhirnya, sang profesor menuang sebuah kotak berisi pasir di atas batu besar, batu kecil dan batu kerikil – dan sekali lagi – untuk keempat kalinya para murid harus mengakui bahwa ember itu telah penuh.

“Lakukan hal paling penting terlebih dahulu,” profesor menasehati para muridnya, “dan lebih sedikit hal dalam skala prioritas. Dengan demikian Anda dapat mengisi hidup Anda hingga empat kali, tidak hanya satu kali. Jika Anda melakukan hal-hal tidak penting terlebih dahulu, niscaya Anda akan mengisi ember Anda dengan pasir, sehingga tak ada ruang yang tersisa lagi untuk yang lain.”

Hmm, sukses dengan mempersempit tujuan. Boleh juga :)

Share Button

About Darin

Hai, terima kasih sudah membaca artikel di blog ini. Untuk selanjutnya, Anda bisa berlangganan artikel secara gratis via RSS Feed atau lewat Email. Dan untuk mengenal saya lebih dekat, mari cuap-cuap bareng di Twitter dan jangan lupa sempatkan buka laman About dan Arsip blog ini.
This entry was posted in Inspirasi and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Sukses Dengan Mempersempit Tujuan

  1. Joko Sutarto says:

    Cukup masuk akal juga teorinya, Mas. Dengan fokus hanya ke satu tujuan memang pikiran akan manteng fokus ke goal setting. Apapun itu tujuan hidupnya. Ibarat kereta tak perlu tola-tole mikiran pakai rel/jalan yang mana lagi. Hanya lurus dan terus fokus pada komitmen supaya cepat sampai di tujuan. Nah, tinggal masalahnya menyingkirkan beberapa tujuan lain dan fokus ke satu tujuan utama ini yang butuh perjuangan. karena rata-rata orang pasti punya gegayuhan (keinginan) lebih dari satu dalam hidupnya. Betul?

    • Darin says:

      Betul pak Joko. Analogi rel itu cocok sekali. Istilahnya kita ‘dipaksa’ tuk mengikuti jalur yang ada dan sudah ditetapkan.
      Ya, rata2 kita memang begitu dan jujur saja itu susah sekali tuk dihilangkan pak hehe. Tapi usaha harus tetap ada.
      Trims tambahannya pak :)

  2. Ami says:

    aku jadi ingat first thing first, maksudnya kalo semua pengen dilakukan malah semua gak jadi. Dan fokus pada yang diputuskan jadi prioritas. Kalo aku sih sering banget ngikutin insting dan intuisi, tapi juga banyak berdoa supaya semua dimudahkan… Alhamdulillah sejauh ini fine fine aja…

  3. Andi sakab says:

    Berarti fokus dalam satu mimpi ya kang? Kalo kebanyakan mimpi ya ga fokus ya kang?

  4. awitara says:

    ini terkadang menimpa setiaporang, intinya hanya fokus pada satu tujuan..
    sayangnya manusia rakus untuk memenuhi semua ujuannya…

  5. Agus Siswoyo says:

    Mau curhat dikit nih. Kebetulan dalam beberapa bulan ini saya pegang banyak project penulisan. Mulai dari klien portal berita, majalah digital, toko online dan lain-lain. Maunya sih bisa langsung beres dalam satu hari. Jadi saya kerjain semuanya secara bersamaan. Efeknya, nggak ada satupun yang selesai. Hiks! #nangis

    Nah, saya mulai mempersempit tujuan seperti kata mas Darin. Aturannya: One Project Per Day. Satu hari satu project saja. Nggak perlu banyak-banyak. Dengan begitu kita bisa lebih fokus dan pikiran nggak buyar kemana-mana. Sekian curhat hari ini. #eaaa

    ………. <<<<>>>>> …..

    Untuk blog pribadi, saya yakin semakin spesifik topik blog kita makin besar kemungkinan sukses. Makin mahir kita pada satu profesi, makin bagus persepsi di mata pengunjung. Too much skills mungkin bagus bagi sebagian kecil orang, tetapi bagi kebanyakan orang bisa menjadi bumerang di kemudaian hari.

    Enjoy blogging, enjoy writing!

  6. Grandchief says:

    Memiliki tujuan yang spesifik dan bisa fokus ke tujuan tersebut terasa begitu nyaman untuk di jalankan mas,walau terkadang tantangannya kita tak sadar bila memiliki tujuan yang bercabang ketika keinginan membuyarkan kata fokus.

    Konsisten dengan apa yang di jalani memiliki banyak tantangan yang harus di atasi dengan sebaik mungkin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *