Spirit of Learning dan Bahaya Arti Menunggu

Selama bekerja sebagai freelancer di salah satu proyek di Kupang, saya kerap merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh Ketua Tim saya. Meski beliau adalah seorang insinyur bertitel CES dari Perancis di bidang hidrologi dan hiraulika, tapi kemana-mana selalu menenteng buku dasar-dasar hidrologi edisi lama. Hmm, bukankah seharusnya ilmu-ilmu dasar sudah tak jadi masalah dan sudah pasti rumus-rumus dan formula tentang rekayasa itu telah melekat di otaknya?

Saya makin heran ketika mendengar jawaban beliau ketika saya menanyakan hal tersebut. Apa jawabnya? Untuk bahan belajar.

Beliau kemudian bercerita, bahwa ilmu di dunia ini, termasuk bidang hidrologi dan hidrolika, akan terus berkembang. Akan banyak software-software baru bermunculan tuk mempermudah kalkulasi, rumus-rumus baru tuk menghasilkan pendekatan perhitungan yang lebih cepat dan akurat, dan tentu saja itu tak akan bisa diikuti tanpa menyimak kembali dasar-dasarnya.

Hal ini membuat saya berfikir… Continue reading

Benarkah Banyak Membaca Dapat Menyebabkan Kemalasan Dalam Berfikir?

Any man who reads too much and uses his own brain too little falls into lazy habits of thinking, just as the man who spends too much time in the theater is tempted to be content with living vicariously instead of living his own life.

Petikan kata-kata dari Albert Einstein itu kontan membuat saya merinding, terutama kalimat pendahulunya: Any man who reads too much and uses his own brain too little falls into lazy habits of thinking.

Sebagai seorang penikmat buku, sindiran itu serasa layaknya hook kiri Oscar de la Hoya yang mendarat telak di hidung yang tak mancung ini, namun sekaligus juga sukses memancing keingintahuan saya: apakah memang benar begitu?

Rajin Membaca, Malas Berfikir

Saya jadi teringat, di satu sesi berbalas komentar (saya lupa di artikel yang mana), saya dan Pak Joko (admin diptara.com) pernah menyinggung masalah Continue reading

Sukses Dengan Mempersempit Tujuan

Tujuan HidupMembaca buku Seven Years to Seven Figures karangan Michael Masterson seperti memutar lagi kaset yang berisi lagu-lagu lama, karena di buku ini – lagi-lagi – menekankan pentingnya menentukan prioritas dalam mencapai tujuan hidup.

Penulis yang sebelumnya terkenal lewat buku Early to Rise ini tanpa tedeng aling-aling langsung menggedor paradigma kita akan proses yang dibutuhkan untuk meraih impian. Memiliki kekayaan bersih senilai jutaan dolar dalam rentang waktu tujuh tahun memang terdengar naif dan tampak mustahil. Namun argumennya masuk akal juga. Kuncinya adalah perubahan secara radikal dalam hal membuat prioritas.

Perubahan radikal yang seperti apa? Continue reading

Gaya Belajar Mandiri Di Tengah Serbuan Sarimin Dan Lumba-Lumba

Pada umumnya, kita akrab dengan istilah life style. Gadget terbaru, fashion terkini, akses informasi teraktual, pun mode pergaulan yang berorientasi virtual di social media, itulah ‘gaya’ yang menghiasi sebagian besar hidup di masyarakat, alias gaya hidup. Kalau begitu adanya, lalu bagaimana dengan gaya belajar atau learning style? Continue reading

Kembali Tersentuh Dengan Kekuatan Sebuah Keyakinan

Hari Minggu ini, saya ditemani beberapa cangkir kopi hangat dan chit-chat dengan teman satu mess, menikmati pagi yang mendung dengan menonton acara TV. Saat itu kami tengah menonton salah satu acara talkshow yang sudah tak asing lagi: Oprah Winfrey Show.

Di pembukaan acara, Oprah memperkenalkan seorang wanita berkebangsaan Zimbabwe yang telah mewujudkan impian masa kecilnya. Topik ini sebenarnya sudah umum, hingga kemudian wanita yang bernama Tererai Trent ini menceritakan kisahnya yang bermula dari sebuah tulisan di secarik kertas. Tulisan itu berbunyi: Continue reading