Saya punya teman yang jago basket, tapi dia ngga bisa gitar. Teman yang lain – sumpah – keren betul menggambar sketsa, tapi dia mengaku ngga pernah ngerti sama sekali dengan yang namanya pelajaran kimia.
Kelebihan dan kekurangan, terdengar lumrah, bukan?
Masalahnya, teman saya yang jago basket kepingin sekali tuk bisa nyanyi sambil main gitar dan dia menganggap hal itu sebagai satu kelemahan yang harus diperbaiki. Setali tiga uang dengan si master sketsa, berhubung cita-citanya adalah menjadi dokter, kekurangan dalam pelajaran kimia ia jadikan sesuatu yang harus dicari solusinya dengan segera.
Kemudian – taruhlah – si jago basket menjadi benar-benar bisa menyanyi dan memainkan gitar. Namun apakah kemampuannya sebanding dengan orang yang memang memiliki kemampuan dan bakat di bidang musik?
Pun si master sketsa, dengan kegigihannya mengikuti les privat dan bimbingan belajar, akhirnya ia bisa juga mengerti konsep reaksi kimia, jenis-jenis unsur dan hapal tabel periodik. Tapi dibanding mahasiswa teknik kimia yang memang memiliki minat dan hasrat di bidang kimia?
Dua kasus itu berakhir dengan jawaban yang sama: mereka hanya akan menjadi orang rata-rata di bidang yang dipilihnya.
Karena apa? Continue reading