Tentang Menebak Rejeki

Ada yang pernah berfikir bahwa alur kehidupan ini lucu? Saat sejenak menengok ke waktu yang silam, adakah sekilas melihat perbukitan yang menjulang dengan lembah-lembah yang curam, atau hanya hamparan padang rumput yang datar dan sedikit bergelombang?

Hidup ini penuh teka-teki. Tak pernah bisa kita tebak akhir episode dari cerita yang saat ini tengah kita jalani. Pun sedetik ke depan, mustahil kita menerka apa yang akan terjadi.

Makanya saya sangat terharu sekali saat Jum’at kemarin membaca sepenggalan kalimat di majalah dinding di salah satu masjid dekat kantor tempat kini saya bekerja: jika kita masih gemar menebak-nebak rejeki dari Allah, maka kita harus memeriksa kembali keimanan kita.

Menebak rejeki? Well, cerita seorang tukang becak dari Yogya yang bisa menyekolahkan anaknya hingga sarjana dan seorang anggota dewan (yang terhormat?) yang hidupnya kini carut marut adalah gambaran yang teramat pas.

Ya, kalau rejeki bisa ditebak, berapa sih pendapatan seorang tukang becak, dan berapa biaya pendidikan yang dikeluarkan hingga bisa menjadi sarjana? Terlihat tak masuk di akal, tapi itu jadi bukti nyata bahwa rejeki bukanlah hal yang bisa ditebak.

Kalau rejeki bisa ditebak, berapa sih pendapatan seorang anggota dewan, dan lalu kenapa ia masih saja merasa kurang hingga akhirnya terperosok ke jurang korupsi yang nista? Terlihat aneh, tapi itu asli adanya.

Dan kalau rejeki bisa ditebak, tak pernah terfikir oleh saya untuk bekerja di riuhnya kota metropolitan, ketika sebelumnya terbiasa menyepi di tepian sungai dan gelapnya hutan di Sulawesi, NTT dan Papua. Yang kemudian membuat saya berfikir, mungkin inilah episode hidup yang harus saya jalani berikutnya.

Seperti halnya potongan-potongan episode Riding the Bus, Being Stupid, Running, Internship dan Happiness dalam film fenomenal  Pursuit of Happyness, seperti itulah mungkin gambaran hidup seorang manusia dalam mengejar kebahagiaan. Namun karena hidup dan rejeki tak bisa ditebak, saya pun tak bisa menebak di titik episode manakah yang pas untuk menggambarkan kondisi saya saat ini.

Being stupid, mungkin? 😀

Yah, apapun ceritanya, yang penting akhirnya saya bisa menyapa kembali sahabat blogger semua. Welcome back!

Oh ya, apakah Anda juga suka menebak rejeki dan langkah berikutnya di hidup ini, lalu apa kesan Anda dengan tebakan dan kenyataan yang kini tengah dijalani? Share your opinion, please 🙂

Share Button
This entry was posted in Jurnal and tagged , , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

19 Comments

  1. Leo Ari Wibowo
    Posted 07/05/2012 at 12:04 | Permalink

    Syukuri saja apa yang ada. Kalau planning nggak jalan, ya cari jalan lain. Nggak neko-neko kalau saya mah orangnya. Mungkin terdengar nggak punya ambisi. Ya, mungkin memang iya.

    Rejeki berlimpah ≠ kebahagiaan

    Saya nggak munafik. Rejeki berlimpah pasti akan bahagia. Tapi kebahagiaan kan tidak harus dihitung dari banyaknya rejeki. Walaupun kebahagiaan saya mungkin jauh dari standar bahagia orang lain, tapi saya menemukan kebahagiaan dari apa yang saya jalani. Kan itu yang penting. Iya toh?

    Btw, welcome back mas.

    • Darin
      Posted 08/05/2012 at 08:12 | Permalink

      Yup, setuju mas Leo, merasa bahagia dengan mensyukuri apa yang tengah kita jalani adalah salah satu bentuk rejeki yang utama. Kalau soal materi pasti tak ada habisnya dan itu sangat relatif.

      Saya lebih suka menyebutnya Kebutuhan versus Keinginan. Karena ketika kita merasa cukup dengan pemenuhan kebutuhan, rejeki terasa longgar. Namun sayangnya banyak dari kita yang terlalu fokus dengan keinginan, sehingga merasa rejeki makin jauh kala keinginan itu tak tercapai. Padahal rejeki sudah ada jatahnya, kita hanya bertugas menjemputnya.. *kata ustad sih hehe 😀

      Trims sambutannya 🙂

      • Julie Gallo
        Posted 28/05/2012 at 15:17 | Permalink

        saya sering dengar orang bilang “anak membawa rejeki”. padahal kan anak yang baru lahir belum bisa ngapa-ngapain yah ?

        • Darin
          Posted 28/05/2012 at 16:25 | Permalink

          Logika memang begitu, tapi rejeki kadang jauh dari logika 🙂
          Istilah ‘anak membawa rejeki’ itu ada karena begitu banyaknya berkah yg didapat oleh si orang tua seiring kedatangan sang jabang bayi. Kalau mau bukti konkrit, buktikan saja sendiri mbak Julie 🙂

  2. applausr
    Posted 07/05/2012 at 13:25 | Permalink

    nice post nih…

    Memang hidup itu keajaiban… penuh dengan misteri… banyak yang terlihat hidup susah tapi anaknya semua berhasil… tapi ada yang kaya raya tapi hidupnya tak becus.. intinya kembali kepada rasa syukur kita yang lebih penting…

    • Darin
      Posted 08/05/2012 at 08:22 | Permalink

      Iya, syukur yang penting. Tanpa itu apapun serasa kurang ya.

  3. Posted 07/05/2012 at 16:17 | Permalink

    katanya ahli fikiran, wytwgt, what you think is what you get…
    Tuhan telah menciptakan otak kita dengan ajaib, dan energi dalam semesta ini sangat peka sekali dengan getaran pikiran kita, [katanya]

    • Darin
      Posted 08/05/2012 at 08:22 | Permalink

      Like this mas Sriyono! 🙂

  4. Posted 07/05/2012 at 21:59 | Permalink

    Hehehe sama mas,kadang saya juga mungkin 5 atau beberapa tahun yang lalu tak bisa menebak keadaan saat ini,sepertinya rejeki dan kehidupan tetap memunculkan sisi misterinya :mrgreen:

    • Darin
      Posted 08/05/2012 at 08:24 | Permalink

      Bener sekali mas, karena itulah harusnya kita tetap semangat menghadapi hari demi hari. Siapa tahu ada saat dimana kita dipertemukan oleh misteri2 lainnya yg belum terungkap hehe 😀

  5. Posted 08/05/2012 at 09:17 | Permalink

    Bukan menebak, tapi merencanakan sumber pendapatan kali ya lebih tepatnya… Dengan berusaha [bekerja] dan berharap yang di atas meridhai, ya insha Allah pendapatan yang kita harapkan dapat kita dapatkan tentu akan diberikan. Soal jumlahnya yang bisa jadi tanpa kita duga jadi lebih besar, lebih kecil, berlipat ganda, itu semua rahasiaNya.

    *tarik2 Mamah Dedeh buat ngelanjutin*

    • Darin
      Posted 10/05/2012 at 07:54 | Permalink

      Itu intinya mbak. Masalah kuantitas rejeki itu urusan-Nya, yang penting kita tingkatkan kualitas rejeki, yaitu membersihkan niat agar jadi barokah.
      *benerin kopiah sendiri 😀

  6. Posted 08/05/2012 at 09:30 | Permalink

    ah nggak, hidup itu simple kok…habis seneng sedih, habis sehat sakit, semua ada putaran waktunya jadi jangan pernah menolak paket tersebut karena akan sia sia saja.

    • Darin
      Posted 10/05/2012 at 07:55 | Permalink

      Ngga ada tombol ‘Like’ ya. Saya suka komen ini 🙂

  7. Posted 08/05/2012 at 12:25 | Permalink

    Makanya menabung itu menjadi penting kan :).

    • Darin
      Posted 10/05/2012 at 07:56 | Permalink

      Disini siapa yang bilang menabung itu ngga penting, ayo ngacung? 😀

  8. iskandaria
    Posted 08/05/2012 at 14:57 | Permalink

    Ditunggu nih pendapat mas Darin mengenai kehidupan di ibukota. Saya penasaran juga soalnya. Welcome to the jungle 🙂

  9. Fakry Naras Wahidi
    Posted 11/05/2012 at 18:16 | Permalink

    kalau saya sih bukan menebak iya,
    tetapi sudah yakin dengan rejeki yang diberikan oleh Tuhan.

    kalau hari ini belum dapet,
    mungkin rejeki itu masih dalam perjalanan menuju tempat saya,
    dan akan sampai ketika saya membutuhkannya,
    heheh…

  10. Posted 10/06/2012 at 16:53 | Permalink

    Syukuri yang hidup ini adalah anugerah mas …
    (d’Masiv) …. 😀

One Trackback

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
*