The Best of Me

Ada saat dimana kita merasakan hal yang terbaik. Dan setelah masa itu lewat, bolehlah berkilas balik demi meresapi lagi sensasinya, mempelajari inspirasinya, dan sebagai cambuk tuk mencipta hal-hal terbaik di masa datang.

Kapan saya mengalami momen-momen itu? Sebenarnya banyak. Namun setelah merenung dan menimbang, saya pilih beberapa momen dari kaleidoskop pribadi, yang mungkin bisa jadi pengingat diri maupun sobat semua para pembaca.

(image credit: wallpapergate)

Saat SD, di waktu segala sesuatunya indah, tanpa masalah, tanpa keluh kesah, entah bagaimana asal muasalnya, saya terpilih menjadi Dokter Kecil. Program itu dijalankan oleh Departemen Kesehatan tuk memilih sepasang siswa-siswi terbaik di tiap SD di satu Kotamadya. Katanya sih proses berlangsung ketat. Namun saya tak tahu apa-apa, kecuali ujug-ujug dipakaikan jubah putih dan dikalungi stetoskop, diberi sepatu mengkilap dan untuk kemudian rame-rame berombongan menuju pertemuan di hall yang besar.

Tak ada yang serius, saya hanya main-main dengan replika kerangka manusia, ikut berhamburan menjerit saat tikus putih berlarian di lantai, juga menyicipi pasta gigi berbagai rasa. Saya tak sempat melihat pancaran bangga kedua orang tua yang setia mengantar, ataupun saat mereka memperlihatkan kepada saya sebuah piagam dan dipajang di ruang keluarga seraya berkata “Kamu bakal jadi orang pinter“. Itu semua terlewati, karena saya langsung berlari ke lapangan, menyambut kawan sepermainan dengan segenggam kelereng.

Saya tak sadar, piagam itulah yang memuluskan saya melewati masa SMP dan SMA terbaik di kota kelahiran.

Berwarnanya SMA, tak seceria saat kartun buatan saya terpampang di Majalah Dinding sekolah. Berawal coretan iseng di papan tulis sewaktu giliran piket siang yang lupa saya hapus, paginya seisi kelas heboh. Dan semua jadi tahu saat saya buru-buru menghapusnya dengan wajah menahan malu. Dari situ, entah dari mana datangnya, saat istirahat saya didatangi kakak kelas berambut gondrong, dan menawarkan saya mengisi rubrik kartun di Mading.

Saya ingat, waktu itu saya belum punya karakter khusus dalam menggambar kartun. Saya hanya nge-fans pada Fido Dido, figur ceking berambut jigrak dengan kaus dan sepatu kebesaran. Fido Dido-lah inspirasi saya, hingga setelah melewati beberapa edisi, kakak kelas berambut gondrong – yang ternyata redaktur Mading – memberi wejangan saat mentraktir teh botol di kantin sekolah: “Kamu punya bakat. Sekarang tinggal bikin karakter bikinan kamu sendiri. Yang unik. Jadi semua tahu, cuma kamu yang bisa bikin karakter kayak gitu.

Masih terngiang kata-kata itu, meski – sumpah – saya lupa nama si kakak kelas!

Lanjut, berpisah dengan SMA, saya makin menjadi di perkuliahan. Saat ikut perkumpulan mahasiswa satu jurusan, saya membuat pengumuman-pengumuman perkumpulan dengan model kartun. Aneh memang. Saat itu Jurusan Sipil tak seberwarna Arsitek, yang papan pengumumannya hanya berisi teks-teks menjemukan. Barulah sejak pengumuman berisi hal yang tak biasa, rapat perkumpulan jadi ramai di tiap minggunya.

Puncaknya, saya diberi amanat tuk membuat modul mata kuliah Hidrologi dengan format komik. Sejak itulah saya mulai percaya, bahwa melakukan kesenangan atau hobby pun bisa menghasilkan! Ya, sebuah PC, scanner dan printer langsung mendarat di kamar kos sempit saya, bahkan sebelum coretan pertama komik tercipta. Dari situ juga saya mulai belajar tentang tanggung jawab dan pentingnya menjaga kepercayaan.

Hasilnya, modul komik jadi, dosen senang, yang dikuliahi girang (karena jarang-jarang dapat modul kuliah berbentuk komik), dan saya, bisa juga main game Age of Empire lewat PC sepuasnya. Horay! 😀

Begitulah, dari sedikit rewind ke belakang, menjenguk petuah mutiara dari sana, dan memantulkannya ke keadaan sekarang, saya mengambil kesimpulan bahwa:

  • Kata-kata orang tua adalah sebuah do’a dan sugesti yang kuat.
  • Jadilah unik. Buatlah sesuatu yang berbeda. Bakat tak ada artinya tanpa usaha.
  • Melakukan pekerjaan yang disukai, lebih nikmat daripada terus-menerus berkhayal dan berkaca dari apa yang telah orang lain miliki.

Sobat punya versi sendiri dari The Best of Me? Share it!

Share Button

About Darin

Hai, terima kasih sudah membaca artikel di blog ini. Untuk selanjutnya, Anda bisa berlangganan artikel secara gratis via RSS Feed atau lewat Email. Dan untuk mengenal saya lebih dekat, mari cuap-cuap bareng di Twitter dan jangan lupa sempatkan buka laman About dan Arsip blog ini.
This entry was posted in Inspirasi, Jurnal and tagged , , , . Bookmark the permalink.

63 Responses to The Best of Me

  1. adya says:

    Setuju,sih. Tapi talenta tanpa dukungan orang tua itu percuma. Siapa yang mau membiayai?

    Cita-cita dapat terwujud jika menekuni sesuatu yang jadi passion kita. Tapi percuma kalo lingkungan keluarga yang nggak kondusif…….. Jadi, beruntunglah anda punya keluarga yang kondusif. Hahaha

    • andi sakab says:

      wah, ternyata kalah cepat euy 😀

    • Darin says:

      Keluarga yang kondusif, hmm..dalam hal apa? Materi? Kasih sayang? Saya kira itu semua relatif, dan tak bisa dijadikan tolok ukur. Yang penting, kita jadikan masa lalu sebagai pelajaran. Yang di atas itu cuma manis2nya aja, biar enak, padahal getirnya ya banyak.. hehe :))

      • @bangsaid says:

        Saya setuju sih kalo dibilang itu relatif

        Tapi, saya merasakan ketika dulu Ayah saya tidak pernah sama sekali mensupport segala hal tentang musik. Bahkan membeli alat musik, saya & Ibu harus curi – curi dari Ayah.

        Semuanya berubah saat kita berani memberikan bukti 😉

        • Darin says:

          Nah itu buktinya. Tak ada yg sempurna di dunia ini sebelum kita menyempurnakannya sendiri. Faktor luar hanya stimulus. Kalau kita sendiri tak memanfaatkannya, ya percuma.

          Sip, lanjutkan bro! :)

  2. andi sakab says:

    pertamax, gan. :mrgreen:

    kilas balik nih ceritanya. btw kembangin bakat komiknya saya salah satu fansnya kalo jadi buku komik :)

  3. Joko Sutarto says:

    Ha… Ha…. Ha…. Mas Darin ini punya hobi menggambar kartun (kartunis) tapi mengapa sekolah dan pekerjaannya di bidang teknik? Mestinya kuliah di seni dan jadi seniman itu seharusnya. Ini tentu hobi yang tak nyambung samasekali dengan pekerjaannya, kecuali kalau sengaja disambung-sambungkan. :)

    Ini sedikit mirip juga dengan masa kecil saya yang sampai kini sangat menggilai dunia sastra tapi siapa sangka sekarang profesinya malah terdampar jadi tukang insinyur. 😀
    Tapi Mas Darin lebih hebat dari saya sejak kecil sudah punya talenta dan banyak prestasi.

    • andi sakab says:

      saya terdampar jadi sales jalanan, mas. padahal minat dan hobby saya di bidang penulisan 😀

    • Darin says:

      Hihi, iya pak. Itulah, mungkin pas SMA belum terorientasi dgn baik, jadinya ikutan saran keluarga saja. Dan sepertinya betul, seni belum bisa jadi sandaran hidup waktu itu. Kalau sekarang entah, mungkin prospeknya bagus kali ya? hehe 😀
      Weleh, senasib brarti pak. Terus pelampiasannya ke blog, gitu ya? Hahaha sama deh! 😀

      • Joko Sutarto says:

        Termasuk bidang sastra pun sampai kini banyak diyakini orang katanya tak punya masa depan karena hanya mendidik orang jadi sastrawan, seniman dan penulis saja. :(

  4. Arief mw says:

    Flash back pada masa2 terbaik & berprestasi sering sy lakukan u/ menguatkan keyakinan mas. Keyakinan bhw sy mampu mencapai goal2 yg sdh dibuat.

    Btw, secuplik kisahnya menarik

    • Darin says:

      Trims mas Arief sudi mampir, maaf seadanya hehe 😀
      Betul mas, kalau inget itu, biasanya kita terpacu dan menerapkan semangatnya di masa sekarang.

  5. blogger admin says:

    “Banyak orang mengatakan bahwa intelektual yang membuat seseorang menjadi ilmuan hebat. MEREKA SALAH!.
    Yang membentuk ilmuan hebat adalah karakter”
    (Albert Einstein)

    Ketika seseorang kehilangan hartanya sebenarnya ia “TIDAK KEHILANGAN APAPUN”
    Ketika ia kehilangan kesehatannya ia baru “KEHILANGAN SESUATU”
    Akan tetapi
    Ketika ia kehilangan KARAKTER ia pasti ‘KEHILANGAN SEMUANYA”

    Billy graham.jr

    • Darin says:

      Quote-nya keren2 bang Hendro 😀 Ya, karakter itu yg perlu diasah, sama juga saat membuat karakter komik. Harus unik dan beda :)

  6. kurniasepta says:

    Ooo,, seneng gambar alias komikus, saya gak bisa mengambar :(

  7. aldy~PF says:

    Mungkin ada baiknya, sesekali postingannya dalam bentuk komik 😀

  8. Selamat tahun baru semoga makin sukses

  9. Irfan Mustofa says:

    hehe,
    flashback menarik kang :)

    jadi binung sma kayak ane gini punya bakat apaan #sedih #moNyemplungkelaut

  10. iskandaria says:

    Wah, mas Darin ternyata jago bikin kartun. Itu yang di header bikin di kertas, lalu discan ya mas? Atau cuma hasil olah photoshop? (termasuk avatar ma Darin juga).

    • Darin says:

      Yang header cuma pake Corel, sedikit transparansi dan bumbu2 dikit, trus diclip di kotak header. Kalo avatar, itu efek ‘stamp’ photosop mas :)

  11. hehe, flashback ke belakang memberikan kita kekuatan kedepan 😀

  12. agoest says:

    kalau saat terbaik saya apa ya?..
    sepertinya pada saat memutuskan untuk menikah di tengah tentangan ada moment terbaik,di saat saya berani mengambil keputusan dan kemudian mempertanggungjawabkannya tanpa pernah menyesali….

    • Darin says:

      Wah sama kalo gitu mas Wid. Saya blum lulus kuliah saja sudah nikah, dan anehnya itu malah memperlancar segala urusan :)
      Memang benar kata orang. Cepatlah menikah, urusan rejeki sudah ada yang mengatur.

      • agoest says:

        betul,hidup lebih teratur,manajemen keuangan ketika sudah mempunyai keluarga lebih teratur juga…

  13. Deny Gnasher Setiyadi says:

    Wah, saya jadi terinspirasi untuk menulis The Best of Me :) Terima kasih yah, Mas Darin. Salam kenal :)

  14. achoey says:

    Saat aku SD adalah saat keceriaanku tertebar
    Saat aku kuliah adalah saat kedewasaanku tumbuh
    Dan dalam rentang itu, ada masa di mana aku terseok-seok mencari warna
    Dan aku kini
    harus mampu menjadi sosok yang baik dan bertanggung jawab

  15. Mars says:

    Wah…
    Kenangan yang indah dan menyenangkan…
    Saya sendiri tak bisa menyusun hal menyenangkan yang pernah saya alami…
    Banyak, tapi hanya ada dalam ingatan.
    Nggak bisa menuangkan seperti Mas Darin… 😀

  16. Pingback: Waktu Terbaik « Setiyadism

  17. inge says:

    Om… bisa gambar sketsa nggak?? he he…

    yup, lakukan yang terbaik jangan cuman ngayal #ingetindirisendirinih hikz

    • Darin says:

      Bisa dong, cuma sketsa kan? :) Dulu rajin banget nge. Sekarang berhubung dah kerja, coret-coret mulai berkurang. Ini sekarang mulai kumat lagi hehe 😀

      Semangat Nge! Ayo bikin cerpen, kirim ke nulisbuku(dot)com. Katanya mereka bisa publish sendiri lho :)

  18. dHaNy says:

    Seperti kata Butet, “HUEBAATT”

    Saya sangat setuju mas Darin, setiap manusia pasti memiliki satu kelebihan dibandingkan manusia lainnya dalam suatu hal. Artinya kita tidak boleh menyepelekan hasil kerja orang lain. Kita harus bangga dengan kelebihan kita dan orang lain harus tahu.

    • Darin says:

      Begitulah mas Dhany, yang saya ceritaka di atas cuma manis2nya saja. Sebetulnya pahit getir lebih banyak, tapi yah demi memotivasi diri gitu :)

      Btw, blog mas Dhany yang dulu kemana? Kok jadi Hello World lagi? Kena database-nya mas?

  19. Mood says:

    Saya juga suka fido dido, suka sama gaya rambutnya itu.
    Met taon baru, semoga kita semua bisa lebih baik lagi
    Salam.. .

  20. aden says:

    Mas,, boleh naya ga ???
    cara masukin “PEOPLE IS THIS MONT” yg ada di sebelah knan tulisan mas,, gmna yah ?????

  21. fatimah azzahra says:

    woow..sya suka dengan note ini….mengingatkan saya akan kenangan menjadi dokter kecil…saat itu pun saya ga ngerti knpa bisa d pilih…hoho..
    tapii karna itu saya jd berniat pengen jadi “dokter beneran” dan sedang k arah itu skrg…. hee….yg pasti semua karna dukungan dan doa orang tua :)

    thanks mas darin…… :)

    • Darin says:

      hehe, sesama mantan Dokter Kecil harus akur lho 😀
      Sip, semoga cita-cita masa kecil terkabulkan. Kalau saya dah melenceng hahaha

  22. kang ian dot com says:

    saya juga pernah ikutan dokcil..dan saluut buat kartunnya mas 😀
    mantap lah ^^

  23. Sky says:

    Saya masih belum menemukan the best of me…

    Blog ini keren banget ya… 😀
    Ndak bosan2 rasanya baca postingannya.

  24. sky says:

    ndak bosan rasanya baca ini…diulang2 pun tetap keren 😀

  25. john says:

    melakukan hal yang disukai, gue bangets itu bang Darin 😀

  26. ketinggalan komen disini.
    Sedih q mas kalo harus mengingat masa2 kecil. Masalahnya otak ini sudah dipenuhi sampah2 dunia, susah ingetnya.

    Saya tunggu komiknya mas.

  27. UntungNyata!com|Budhi K. Wardhana says:

    Sungguh Mas, tulisan anda sarat dengan nuansa dan karakter yang khas!

  28. Mutoharoh Hanafi says:

    Boleh saya melihat modul komiknya..? saya juga ingin mengembangkannya..

  29. Pingback: Cara Jitu Memicu Kreativitas Mencari Tema Tulisan Blog Ala Ollie | darinholic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *