3 Alasan Mengapa Menjadi Blogger Itu Lebih Banyak Duka Daripada Suka-nya

Artikel ini ditulis oleh Zaifhul Imam dari zaipad.com.

Jika kamu pernah nemu artikel yang gembar-gembor kalau menjadi blogger itu enak, kerjanya nyantai tapi punya penghasilan yang tinggi, eits, jangan keburu mupeng dulu. Karena saya kasih tahu aja, bahwa semuanya itu bullshit alias omong kosong belaka a.k.a tidak semudah itu ferguso.

Why?

Duka Blogger
Sumber gambar: pexels.com

Yah, karena saya seorang blogger dan mengalami sendiri seluk beluk profesi yang satu ini, blogging bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Entah kalau ada yang menganggap ngeblog cuma hobby atau aktivitas sambil lalu semata, that’s okay. Tapi benang merahnya toh tetap sama: blogging is not easy.

Layaknya pekerjaan formal maupun informal yang penuh suka duka, blogging pun setali tiga uang. Kadang suka, kadang duka. Namun dari pengalaman pribadi, prosentase duka saat ngeblog faktanya jauh lebih mentereng ketimbang suka-nya. Jadi nggak heran, sudah banyak blogger di luar sana yang layu sebelum berkembang dan bergelimpangan di dunia maya.

So, apa saja sih duka yang sering dialami oleh seorang blogger itu? Jawabannya tentu subyektif, tergantung dari perspektif masing-masing blogger. Namun bila pertanyaan tersebut ditujukan kepada saya, maka inilah tiga di antara sekian banyak duka yang sering saya alami:

1. Sudah menulis susah payah, tapi sayang, yang baca cuma segelintir

Sebagai blogger, tentu pekerjaan utamanya adalah menulis, menulis, dan menulis. Menghadirkan konten dalam bentuk tulisan yang solutif, menarik, dan bermanfaat buat siapa saja yang membacanya, adalah aktivitas yang bisa dibilang krusial bagi seorang blogger.

Akan tetapi, sebetulnya tugas saya di sini bukan hanya sekedar menulis, melainkan masih banyak lagi hal lain yang masuk dalam to-do-list, seperti:

  • Melakukan riset kata kunci
  • Melakukan riset bahan tulisan
  • Mencari, men-download, atau membuat dan menaruh gambar yang relevan ke dalam artikel
  • Melakukan optimasi SEO pada artikel
  • Mengedit (membuat tulisan lebih mengalir, pemilihan diksi, merangkai kalimat dan paragraf, de el el)
  • Mempromosikan artikel (promosi di sosial media, blogwalking, guest post, de el el)

Semua itu saya lakukan secara konsisten dengan satu tujuan: tulisan ini bisa hadir di halaman pertama google dan berpeluang dibaca oleh lebih banyak orang.

Suka Duka Blogger
Sumber gambar: pexels.com

Namun ironisnya, meski saya sudah melakukan semua hal di atas, yang sering terjadi adalah tetap saja sulit sekali bagi artikel saya untuk bisa nangkring di pejwan. Kalaupun berhasil, paling cuma tampil beberapa waktu saja. Serius! Apalagi kalau saya sudah jarang update konten di blog seperti blog darinholic ini *wkwk*

Hal ini kemudian secara tidak langsung bertanggungjawab pada minimnya tingkat keterbacaan artikel. What the hell? Sudah susah payah riset sana sini, nulis, ngoprek gambar, video, dan segala rupa, tapi yang baca cuma sedikit sekali. Kalaupun ada, palingan dari sesama blogger juga, yang ujung-ujungnya – yah – cuman pengen nitip link doang *xixi piss*

Makanya dalam hati kadang-kadang saya sering ngeluh: β€œYaelah, udah nulis panjang-panjang, begadang tiap malam dan bela-belain jarang ke cafe, hasilnya yang baca segini doang? Kampret lah!” πŸ™

Nah, gara-gara fakta itulah yang kemudian membuat saya sekarang memutuskan tuk mulai membuat podcast. Kenapa? ya supaya ada variasinya, dan supaya nggak cepat gila juga *haha*

2. Dapat email tawaran kerjasama dari brand, tapi sayang brand-nya suka menghilang tiba-tiba

Kurang lebih lima bulan sejak blog saya pertama kali launching, alhamdulillah banget saya mendapatkan satu email tawaran kerjasama dari salah satu perusahaan di Indonesia. Bentuk kerjasamanya berupa content placement, dimana tugas saya hanyalah sekedar menerbitkan artikel yang sudah mereka siapkan dengan beberapa ketentuan tertentu.

Pada email pertama, mereka masih sebatas menanyakan soal tarif saja, yang saya balas lengkap beserta syarat-syarat lainnya yang berlaku di blog saya. Setelah itu, blank. Nggak ada respon. Hingga akhirnya – sekitar beberapa minggu yang lalu – muncul lagi email baru dari mereka yang menanyakan nomor rekening.

β€œOhh, berarti mereka sepakat dong sama tarifnya”, begitu pikir saya.

Alhasil, saya pun memberikan informasi nomor rekening ke mereka. Kemudian mereka membalas, lalu saya balas lagi, dan – yaah – lha kok mereka hilang lagi. Dan sampai saat artikel ini ditulis, saya tidak lagi pernah mendengar kabar dari mereka.

Kecewa? Jelas. Tapi ya mau bagaimana lagi? Toh setelah saya tanya-tanya ke blogger -blogger senior, ternyata idem. Mereka juga bilang kalau kejadian seperti yang saya alami itu adalah hal yang lumrah dalam dunia perbloggeran. What?

3. Sudah diterima AdSense, tapi penghasilan cuman receh

Bagi kalian yang baru saja mulai ngeblog, AdSense mungkin menjadi salah satu prioritas kalian saat ini. Sama seperti waktu saya dulu ketika awal ngeblog, yang – alhamdulillah – tujuan tersebut sudah tercapai di tanggal 17 Januari 2019 kemarin.

Senang? Oh, jelas lah. Tapi sayang seribu sayang, itu hanya berlangsung sementara saja. Karena ternyata pendapatan dari AdSense itu jauh panggang dari api sodara-sodara!

Penghasilan Adsense Blogger
Sumber gambar: pexels.com

Sangat sulit untuk meraih dolar kalau trafik kita masih dibawah dari 1.000 pengunjung per hari. Bahkan meski trafik sudah mencapai 2.000, 3.000, atau taruhlah 10.000 pengunjung per hari, tetap saja tidak akan ada perubahan yang signifikan pada penghasilan kita bila pengunjungnya jarang yang ngeklik iklan.

Dan asal kalian tahu saja, di Indonesia itu jarang banget ada orang yang ngeklik iklan. Terlebih jika kita main di niche blog, wah susyeeh πŸ™

Jadi, dengan segala hormat, janganlah ada yang menganggap semua blogger yang blognya terpasang adsense itu kaya raya. Nggak! Nggak selalu. Adsense itu adalah murni fungsi dari trafik. Artinya jika trafik blog kita tinggi, nggak selalu penghasilan kita akan tinggi. Tapi sebaliknya, jika trafik blog kita minim, maka bisa dipastikan penghasilan yang diperoleh juga segitu-gitu aja.

β€’ β€’ β€’

Well, saya kira tiga hal di atas cukup sebagai presentasi dari sekian banyak duka yang kerap saya alami sebagai seorang blogger. Dan perlu diingat, saya sama sekali tidak berniat untuk mengecilkan semangat bagi yang hendak mulai ngeblog lho. Saya hanya ingin berbagi sudut pandang, sekaligus siapa tau bisa menjadi refleksi dan membantu teman semua agar tidak grasa-grusu terjun menjadi seorang blogger sebelum tahu apa saja duka-duka yang akan ditemui di depan sana.

Nah, bagaimana dengan kamu? Bagi para blogger yang kebetulan juga punya cerita duka, kisah pilu, atau curahan hati yang lama terpendam, boleh juga dong bagi-bagi di kolom komentar πŸ™‚

However, blogging should be fun, right?

Adalah blogger yang telah berkontribusi di komunitas DarinHolic. Berminat? Sila lihat tata caranya di laman Guest Blogger.

8 comments On 3 Alasan Mengapa Menjadi Blogger Itu Lebih Banyak Duka Daripada Suka-nya

  • Maaf buat mas penulis tamu. Tulisan ini subyektif banget. As I do my blogging activities, I enjoy it, I love it, and I never regret it. Last, money follow me even I am sleeping at night. It’s about passion and focus. Kalau sudah terlanjur jadi blogger ya jangan setengah-setengah. Efek coba-coba seringnya berakhir duka.

    • Blogger senior muncul neh πŸ˜€
      Bener mas, kalau sudah lama ngeblog, menikmati prosesnya dan menghasilkan, artikel ini nggak relevan. Tapi sebagai ajang curhat bagi blogger yang masih berjuang, it’s okey, karena secara nggak langsung bisa dijadikan motivasi tersendiri.
      Btw, kalimat akhirnya ngeri betul: efek coba-coba seringnya berakhir duka… tuh dengerin tuh blogger!

    • Of course, since it is my article, then it has been and will always be subjective. Dan seperti yang juga sudah saya katakan di akhir paragraf, bahwa tulisan ini hanya untuk sekedar sharing pengalaman saja dan utamanya untuk mengcounter teman-teman blogger di luar sana yang seringkali menutup-nutupi kesulitan yang mereka lalui saat nge-blog. By this, I mean it’s impossible to have a great blog with a big passive income without having to get through some hardships and struggle. Maka dari itu, saya ingin bilang bahwa ngeblog itu juga kurang lebih sama dengan kehidupan ada suka dukanya. Dan di sini saya coba menekankan dukanya agar para blogger pemula atau yang baru mau berencana ngeblog bisa kebuka matanya dengan sejumlah kesulitan yang pasti bakal mereka lalui juga ketika memutuskan untuk mulai ngeblog.

      Demikian, mas. Salam kenal πŸ™‚

  • Aku termasuk yang sudah lama ngeblog, tapi gak tenar-tenar dan sedikit sekali menghasilkan. Haha! Eh tapi itu barangkali karena aku nggak fokus ya ngeblognya. Ngeblogku santai banget. Aku ngeblog ya buat hobi aja. Gak ada niche, gak ada pusing soal SEO, dll. Tapi jujur sih nih ya, sesantai-santainya aku ngeblog, tetap pengen punya banyak pembaca dan banyak yang komentar. Memang sedih sih sudah capek-capek nulis, eh yang baca cuma sedikit. πŸ™ Kalau sudah begini, penghiburanku cuma ngomong ke diri sendiri, “Gpp, Kimi. Kamu ngeblog kan buat kenang-kenangan. Dan biar kamu tambah pintar juga.” πŸ˜€

    • Tos dulu Kim, karna kita sama πŸ˜€ Penghasilan di blog ini paling banter ya dari content placement. Sempat pasang iklan lokal n adsense tapi kok ga ngefek. Klik ga ada, ruwet di tampilan iya πŸ˜€
      Ya, membohongi diri sendiri lah kalau ada blogger yang woles nulis tanpa mengharapkan pembaca. Tetep ada perasaan pengen dibaca. Dan kayaknya persaaan itu berbanding lurus dengan effort menulis. Makin serius nulis, perasaan pengen dibaca makin tinggi. Jadi kebayang kalau dah mati-matian memproduksi artikel yahud tapi sepi visitor. Itu mungkin yg bikin gundah gulana mas Zai di atas.
      ‘Blog buat kenang-kenangan’.. hmm ya bisa jadi. Blog could be the best legacy for our journey through life.

    • Maka dari itu mas, saya katakan bahwa kalau pengin benar-benar ngeblog dan meraih banyak pembaca itu prosesnya gak gampang. Gak cuman asal nulis doang. Tetapi butuh riset keywordnya juga, butuh promosinya, butuh link building, butuh guest postnya, dan lain sebagainya which is intinya adalah ribet. Tapi ya mau gimana lagi? kalau emang mau blognya terkenal dan banyak pembaca, ya harus laluin proses tersebut.

      Namun, hal ini tidak berlaku bagi para blogger yang merupakan artis, tokoh publik, penulis, dan lain-lain. Untuk blogger yang seperti itu, mereka tidak butuh SEO untuk mendapatkan trafik.

  • Ini yang banyal gagal paham gan, banyak blogger pemula sekarang mengganggap menjadi blogger itu mudah padahal banyak hal perlu diketahui sebelum benar-benar menjadi blogger, apalagi menjadi fulltime blogger. Kadang banyak yang beranggapan menjadi blogger bisa dengan mudahnya mendapatkan uang dari online atau dari blog yang dibuat padahal gak segampang itu. Banyak yang perlu dipelajari salah satunya yahh Seo dan lainnya.

Leave a reply:

Your email address will not be published.