Bertemu Megahnya Jembatan Meteor dan Lalat Kampret di Elelim

Wes tak cobo ngelalekne jenengmu soko atiku
Sak tenane ra ngapusi isih terno sliramu
Duko pujane ati nanging koe ora ngerti
Kowe wes tak wanti wanti…

“Mas, bangun, Mas!”

Dengan malas, saya membuka headset. Ngulet sejenak, lalu kemudian terkejut saat keluar dari mobil. Saya kira istirahat makan, nggak taunya ada pohon tumbang…

jalan di elelim

Saat mendekat, sudah banyak orang yang berkerumun untuk mencari jalan bagaimana caranya membereskan barikade dadakan itu. Maklum saja, selain menjadi ruas utama transportasi darat dari arah Jayapura ke Elelim dan sebaliknya, jalan ini pun menjadi urat nadi perekonomian di daerah sekitar.

Dan setelah sekitar satu jam bergelimang keringat, satu persatu dari deretan mobil yang sejak tadi mengantri pun  meluncur kembali.

Meh sambat kaleh sinten nyen sampun mekaten
Merana urip ku
Aku welasno kangmas, aku mesakno aku
Aku nangis, nganti metu eluh getih putih..

“Mas, woy, bangun!”

Yes, makan! Saya bergegas keluar dan menuju bak belakang, loh, tapi kenapa semua orang berjalan ke depan?

jalan jayapura elelim papua

Pohon tumbang.. LAGI? What the…

Dari informasi para supir truk kayu yang biasa beroperasi di sini, ruas jalan menuju Elelim di Kabupaten Yahukimo ini memang rawan pohon tumbang. Di beberapa spot, kondisi tanah tak sestabil area lain, yang membuat daya cengkeram akar pohon-pohon di sepanjang jalan – terutama yang berada di lereng – mudah lengser ditiup angin.

Syahdan, berhubung terik matahari sudah melewati ubun-ubun, ‘kebetulan’ itu pun menjadi timing yang tepat untuk menggelar acara makan siang.

pohon tumbang jalan elelim

Jika dihitung-hitung, sejak berangkat subuh hingga makan siang, perjalanan ini sudah memakan waktu delapan jam. Titik lokasi survey diperkirakan masih sekitar kurang setengah perjalanan lagi, yang berarti, kalau lancar, saya dan tim baru bisa selonjoran di camp saat ba’da Maghrib.

Tapi teori tetaplah teori, karena yang terjadi selanjutnya adalah..

Mau selfie di sini?

Saya melongok ke depan. WOW.

jembatan meteor elelim papua

Akhirnya saya bertemu juga dengan jembatan kesohor ini.

Jembatan Meteor namanya. Jembatan gantung dengan konstruksi baja yang membelah sungai Mamberamo sepanjang 235 meter ini dibangun selama tiga tahun (1993 – 1996), alias 22 tahun sudah ia berdiri di tengah lebatnya hutan Kabupaten Yalimo, Papua. Fyi, tingkat ke-keren-annya membuat pusing pala barbie akibat jalan jauh-jauh 300 kilo-an dari Jayapura pun raib entah kemana.

Wanna check the video?

“Sudah, nanti kita pulang baru puas-puasin selfie lagi di sini!” Seru pak supir.

Betul juga. Hari sudah mulai beranjak sore. Setelah bergegas menyesap kopi susu yang tersisa, tim kembali bergerak menuju pegunungan Elelim. Here the shots!

kondisi jalan elelim yalimo papua
kondisi ‘tanah bergerak’ yang bikin konstruksi jalan gak pernah beres
kecelakaan di elelim
hati-hati ya pak, nanti nyem… plung

Hari demi hari uwes tak lewati
Yen pancen dalane kudu kuat ati
Ibarate sego uwes dadi bubur
Nanging tresno iki ora bakal luntur

Berikutnya, survey topografi berupa desain penurunan grade kemiringan jalan pun dihelat. Dari titik awal di jembatan Pruku, menentukan ruas-ruas perencanaan, dan kemudian memanjang ke jembatan Kali Yahuli, hingga target survey sejauh sepuluh kilometer tercapai.

survey jembatan elelim
jembatan pruku yang ternyata belum ada jembatannya
kondisi jalan jayapura wamena papua
kebayang kalau ada rally di sini ya?

Ada yang menarik selama dua minggu berkutat dengan panas di Elelim, yaitu saya selalu ditemani oleh puluhan hingga ratusan teman seperjalanan. Siapa mereka?

lalat hutan papua
saya dan tim menyebutnya dengan lalat kampret 😀

Menurut teman yang sudah lama di sini, hewan itu disebut dengan lalat madu atau lalat hutan, atau ada juga yang menamakannya lalat babi. Jangan dimatiin! Katanya. Kalau kita mematikan satu dari mereka, nanti teman-temannya makin banyak yang datang. Jadi ya, whatever, mending didiemin aja meski geli-geli gimana gitu.

Well, awalnya memang menyebalkan. Ada teman satu tim yang tiap harinya bereksperimen bagaimana caranya menghalau serbuan lalat kampret ini. Pertama pakai Autan, nggak mempan. Berikutnya oles minyak kayu putih, nggak ada respon. Lalu shampoo, sabun, sampai solar pun dijadikan bahan uji, dan hasilnya? Tetap nihil.

Lalat hutan Papua ini katanya memang suka dengan keringat. Mereka menghisap keringat yang keluar dari pori-pori. Jadi jurus paling jitu untuk menghalaunya ya sebisa mungkin tangan tetap kering dan tak berkeringat. Lha ya susyeh, puanas’e ra umum, pak!

jalan jayapura wamena papua

Sekedar informasi, ruas jalan strategis nasional yang menghubungkan Jayapura dan Wamena  ini sudah mendekati finishing pekerjaan. Meski begitu, sudah lumayan banyak mobil-mobil yang berseliweran membawa penumpang maupun barang lewat sini. Ingat berita saat Pak Jokowi bermotor trail ria di Papua kan? Nah, jalan di Elelim ini yang akan tembus ke sana.

Sayang opo krungu tangise atiku
Mengharap koe bali nang jero ati iki

Yah, begitulah, kalau berbicara tentang Elelim, ingatan saya tiada lain dan tiada bukan, langsung tertuju pada dua hal: ketemu Jembatan Meteor dan lalat kampret. They’re awesome 🙂

Freelance Engineer • Books • WordPress •  Users • Digital Artist • Accidental iOS App Developer • Gamers • Find me on: Twitter | Instagram

5 comments On Bertemu Megahnya Jembatan Meteor dan Lalat Kampret di Elelim

  • Iiiih jijik deh lihat lalat madu/ hutan yg menempel di seluruh tangan 🙁 Memang bener ya kalau dimatiin satu aja, teman2nya berdatangan? Weleh2 hehehe. Aiih serunya jalan2 ke Elelim. Tanahnya begitu ya, mobil kudu khusus tuh yang ke situ.

    • Pertama kali ketemu memang risih mbak. Sampai lari-lari 😀 Tapi ya berikutnya jadi terbiasa.
      Mereka nggak gigit, cuma nempel aja gitu. Kalau dipites dan dirasain di lidah memang rasanya agak2 manis, makanya dinamain lalat madu.
      Ya, paling nggak mobilnya harus double gardan kalau mau lewat sini.

  • Kalau lihat foto-fotonya, betapa kita yang tinggal di luar Papua take-for-granted akan infrastruktur jalan raya. Semoga pembangungan jalanan lekas selesai.

    • Ya, disini nggak pernah ngeluh macem2. Sementara yg di Jawa bensin naik seribu aja demonya 3 bulan 😀

  • Info yg bermanfaat pak,masyarakat jg butuh update pembangunan di papua sana.2019 saya jumpa blog pak darin,hasil googling kepo bagaimana elelim itu,suami menempuh jalur darat dari wamena ke elelim,lebih jauh dari bokondini klo dari wamena katanya dan tdk ada signal telkomsel😭,wah bensin eceran emang masih mahal di wamena 18rb/liter,serba mahal,bersyukur kita yg bs hidup jauuuuh lebih murah dipulau jawa.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer