Mengapa Blog Seharusnya Tanpa Sidebar?

Jika Anda perhatikan, blog ini tak lagi menggunakan sidebar. Selain menjadi acuan standar dalam child theme Genesis yang saya pakai, ada beberapa alasan krusial yang mendasari pilihan saya tersebut.

blog tanpa sidebar

1. Fokus Pada Konten

Apa yang dicari saat mengunjungi sebuah blog? Tentu informasi yang ada pada konten. Lalu apakah pengunjung juga melihat-lihat sidebar blog yang bersangkutan? Mungkin ya, bisa juga tidak, tergantung persepsi dan alokasi waktu yang dimilikinya.

Dari pengalaman pribadi, karena saya seorang blogger, saya memperhatikan juga isi sidebar dari blog-blog yang saya kunjungi. Profil narablog, daftar artikel terbaru, terpopuler, tautan media sosial, hingga… iklan. That’s what we role as a blogger.

Tapi bila saya memposisikan diri sebagai pengunjung awam?

Studi yang dilakukan oleh Nielsen Norman menyimpulkan sesuatu yang menarik, bahwa 74 persen waktu pengunjung dialokasikan untuk memindai bagian atas situs, pun 26 persen sisanya dihabiskan saat scrolling ke bawah.

mengapa tidak menggunakan sidebar

Dari 74 persen waktu tersebut, porsi 57 persen untuk memindai header dan 17 persen-nya ke konten paling atas. Sedang nasib sisa 26 persen-nya terbagi dalam beberapa prosentasi kecil dan akan meningkat drastis di akhir sesi membaca konten.

Studi ini sesuai dengan efek resensi (recency effect), dimana level ketertarikan manusia mirip dengan grafik kurva U. Bagi blogger yang gemar blogwalking dengan waktu yang mepet pasti pernah mengalami, kan? Lihat judul, paragraf awal, kemudian langsung meluncur ke kolom komentar. πŸ™‚

efek resensi pembaca blog

Dan soal prosentasi tadi, ini bisa dilihat juga saat kita mencari informasi di google.

mata pengunjung blog

Dengan tanpa sadar, kita melakukan skipping pada beberapa elemen, seperti tautan iklan di daftar paling atas, image di kanan dan judul-judul artikel yang kurang relevan dengan pencarian.

Hal menarik lainnya, hipotesa fokus pada konten yang meyakinkan saya menerapkan blog tanpa sidebar adalah hasil studi Nielsen Norman selanjutnya, yaitu penemuan Pola Huruf F. What is that?

kelebihan blog tanpa sidebar

Eyetracking visualizations show that users often read Web pages in an F-shaped pattern: two horizontal stripes followed by a vertical stripe.

Gambar di atas adalah heatmaps, atau titik panas pandangan pengunjung sebuah situs yang merupakan hasil studi di tahun 2010 dan masih relevan ketika organisasi nirlaba itu melakukannya lagi di tahun 2016.

Beberapa poin yang diambil dari kedua studi tersebut antara lain:

  • Pengunjung web cenderung tidak membaca artikel secara detail kata per kata. Kalau pun ada, itu sangat jarang terjadi. Beda halnya jika pengunjung ingin mengetahui detail suatu produk yang ingin dibeli.
  • Dua paragraf awal adalah yang pemberi informasi yang utama, alias bagian yang terpenting bagi pengunjung web.
  • Pengunjung web kurang tertarik dengan paragraf yang rapat dan penuh kalimat. Sesuai pola huruf F, penglihatan pengunjung akan terus intens jika melompat-lompat melewati spasi antar paragraf. Adanya sub heading dan list akan membantu proses scanning pengunjung hingga akhir artikel.

Dan ditutup dengan satu kesimpulan wahid:

The biggest determinant for content usability is how users read online β€” and because people read differently, you have to write differently.

Ya, bila ingin ada pengunjung yang betul-betul membaca konten yang kita tulis, sudah seharusnya lah kita memikirkan cara penyajian konten agar sesuai dengan pola membaca mereka. Dan dengan memilih blog tanpa sidebar, itu akan membantu pengalaman membaca pengunjung (reading experience) lebih terfokus pada konten.

2. Meminimalisir Distraksi

Saat mencari informasi di internet, terkadang saya menemukan beberapa situs dengan konten bagus, namun.. bertabur iklan dan banner yang menyiksa pandangan. Dan sebagian besar sumber siksaan tersebut berlokasi di sidebar.

Padahal jika menilik studi di atas, sidebar seharusnya menjadi zona steril distraksi, karena memang faktanya berbicara demikian. Jika pola huruf F tak cukup meyakinkan, berikut hasil studi lanjutannya:

kelebihan blog tanpa sidebar kanan

Ternyata perhatian pengunjung web itu 80 persen jatuh ke layar sebelah kiri, yang berarti sidebar berada pada urutan sekian ratus sekian di skala prioritas pengunjung. Itu juga kalau pengunjung tertarik dengan konten. Kalau tidak? Apalah gunanya menjejali sidebar dengan widget?

Google sepertinya menyadari betul bagaimana memanfaatkan psikologis pembaca web. Coba saja perhatikan produk-produk layanannya: Google Analytics, Webmaster, Gmail, atau Adsense. Apa yang jadi persamaan? Sidebar terletak di sebelah kiri. Itu pun berisi navigasi, bukannya tautan-tautan ke halaman lain.

Juga untuk image atau banner iklan. Sebanyak apa pun banner iklan yang ditebar di blog, perhatian pengunjung nyatanya ‘lebih pintar’. Seperti contoh gambar di bawah, mereka akan otomatis memindai teks konten dan memilah, apa kontennya sesuai dengan informasi yang diharapkan?

posisi sidebar blog yang efektif

3. Sekarang Jamannya Ponsel Cerdas

Perkembangan teknologi smartphone membawa dampak yang tak bisa dibilang remeh untuk blogosphere. Kini developer-developer theme mau tak mau harus memastikan bahwa theme buatannya termasuk dalam jajaran mobile friendly. Apa akibatnya?

Layout halaman blog yang meriah saat diakses lewat desktop seketika menjadi ramping di layar ponsel. Kemana perginya sidebar yang telah Anda tata sedemikian rupa itu? Ya, merosot ke bawah. Tenggelam oleh konten dan kolom komentar.

blog tanpa sidebar di hape

Konsekuensinya jelas, kebanyakan pengunjung tak kan sampai melihat sidebar. Probabilitas dilihatnya pun sangat kecil jika pengunjung sampai scroll ke bawah setelah membaca konten maupun ikut sumbang komentar.

Kalau Begitu Apakah Sidebar Tidak Berguna?

Tergantung.

Dari 3 alasan yang saya kemukakan di atas, semua didasarkan pada pandangan subyektif saya selaku blogger yang ingin pengunjungnya lebih enjoy menikmati konten, minim distraksi, juga luwes diakses via ponsel. Kata ‘tidak berguna’ pun sepertinya kurang pas, tapi kalau diganti: apakah penggunaan sidebar efektif? Itu lain soal.

Sidebar sangat berguna bagi blogger yang memiliki misi khusus, semisal menjual produk ebook, buku, atau produk fisik lainnya. Sidebar bisa juga dijadikan lokasi form pendaftaran kursus keahlian tertentu.

Lebih dalam lagi, perhatikan kata-kata dari Brian Gardner – pendiri StudioPress berikut:

If you have a blog or website, I highly encourage you to take a long hard look at what’s on your page. Is it there because it should be there? Or is it there because you’re told it should be, or simple want to fill up space? Do you really need that widget in your sidebar? Is it really an effective use of your online real estate?

Ya, apakah widget-widget di sidebar itu memang seharusnya disana, atau karena untuk kepuasan Anda sendiri? Sebegitu pentingnya kah untuk menjadikan halaman blog ‘lebih penuh’ dengan sidebar?

Satu komentar yang menarik di artikel tersebut:

blog nggak pake sidebar

Right, no thanks.

Pendapat Anda tentang wacana blog tanpa sidebar ini?

Freelance Engineer β€’ Books β€’ WordPress β€’ ο£Ώ User β€’ Digital Artist β€’ Accidental iOS App Developer β€’ Gamer β€’ Poke me on Twitter

24 comments On Mengapa Blog Seharusnya Tanpa Sidebar?

  • Aku sih tetap pakai sidebar. Karena buatku sidebar itu penting, terutama kalau buka blog di laptop. Kalau main di blog lain, ya aku juga lihat-lihat sidebar-nya juga kok. Semacam buat navigasi juga. Aku malah bingung kalau gak ada sidebar-nya. Jujur, aku malah nggak terlalu suka blog theme yang terlalu clean, simple, minimalist, dan gak ada sidebar.

    Tapi, untuk di hp tentu saja lebih memilih theme yang ramah buat mobile dong. Kalau baca blog di hp, nah baru sidebar itu gak penting. Hehe.

    • Kamu berarti termasuk pengunjung ideal blog Kim πŸ™‚
      Ya, memang wacana ini nggak ideal untuk semua blogger. Ada juga mungkin yang kebingungan melihat blog tanpa sidebar karena sudah terbiasa lihat blog dengan sidebar. Tapi kalau untuk urusan membaca konten, ada kalanya sidebar itu nggak diperhatikan sama sekali.
      Yah, kembali ke pribadi masing2.

  • Penggunaan bilah sisi tergantung mood, kalau lagi moody ya dipasang, kalau lagi ndak ya disimpan ganti sama tema satu kolom yang bersih dan kinclong.

    For a writer, the sidebar doesn’t mean that much. But for a blogger, who is not a full-writer-mind-like person, a sidebar is essential.

    Saya penyuka tampilan yang bersih, tapi banyak bilah sisi sebenarnya bisa dibuat bersih. Sisanya tergantung pembaca, karena bilah sisi bukan sajian utama dalam blog, jadi ada atau tidaknya mungkin tidak akan berpengaruh kepada para pembaca sebagaimana keberadaan bantuan navigasi misalnya.

    • Sidebar tergantung mood. Baru denger saya, Bli πŸ™‚
      Betul sekali, tergantung mindset. Kalau pengunjung ber-mindset blogger yang terbiasa melihat sidebar akan terlihat sedikit ada yang kurang.
      Tapi toh tujuan pandangan pertama kali pasti ke konten. Navigasi dan semacamnya bisa ditaruh di bawah konten. Tapi ya memang perlu trik tersendiri untuk menyajikan navigasi yang baik di blog tanpa sidebar.

  • Blogku lebih banyak ttg craft & aku masih pakai sidebar karena aku juga suka ngaduk2 blog orang spt itu. Tapi aku juga sadar skrg orang byk lihat dari hp spt artikel diatas. Jadi sidebar jadi kedorong dibawah. Apalagi kalau artikel panjang, pengunjung jadi exhausted shg nggak memperhatikan apa yg dibawah sama sekali. Makanya di menu header aku kasih daftar menu buat bantu pengunjung menemukan apa yg mrk cari. Memang sih belum semua aku taruh di daftar isi tapi paling enggak yg paling banyak dicari orang dulu di blogku. Pernah bikin daftar isi otomatis pake html tapi kacau.
    Btw dari hpku, sebelah kiri atas, tulisan ketutup tulisan personal & notes.
    Thanks for sharing.

    • Ya mbak, saya juga lagi ngutak-ngatik navigasi biar pengunjung betah dan nggak nyasar. Makanya tadi css-nya masih semrawut, maaf kalau kurang nyaman πŸ™‚
      Untuk blog dengan visual produk-produk saya kira cocok memakai sidebar. Tapi betul kata mbak, dengan pengunjung yg sudah banyak mengakses lewat ponsel mau nggak mau harus memikirkan navigasi juga agar performa blog maksimal.
      Trims atas kritiknya mbak πŸ™‚

  • Ya akhirnya kembali kepada “tergantung” kebutuhan, karena memang yang dinamis adalah main blog, bukan sidebar. Tapi sidebar di sebelah kiri? wah ide menarik ini.. hehehe.

    • Iya kang. Nah, sidebar kiri boljug tuh kang πŸ˜€ Tapi katanya ngga bagus buat SEO, karena jadinya nanti di-crawl google duluan sebelum konten.

  • Pas bgt nemu artikel ini, lg galau mau no side bar ato nggak buat blog. Tks bgt Mas

  • ternyata masih lumayan banyak yang blogwalking ya.. Jadi inget zaman ke emasan ketiga blog masih berjaya, sebelum social media booming. ^_^

    • Bener mas Octa. Sekarang blogwalking kayaknya cenderung hanya seputar di blog2 yg ‘seumur’ saja haha
      Tapi ada juga blog2 yang baru saya kenal langsung kesengsem tulisannya n jadi pembaca reguler

  • Bener banget…saya kalo baca blog temenΒ² yaa cara F tadi. Trus kalo ada iklan, skip skip skip. He he…
    Belum nyoba sih tanpa side bar, walaupun saya perhatikan banyak yg udh beralih tanpa sidebar.
    Pernah baca, katanya side bar justru jangan di kiri, jadi ke distrak, jadi engga baca konten. Lupa…sumbernya…
    Makasih sharingnya. Salam kenal…

  • Terima kasih, sangat mencerahkan kak

  • Wah ternyata, oke lah, terimakasih min

  • Wah ulasan ini memberikan wawasan baru bagi saya secara teoritis. Daeri segi aplikatif sih sudah makanan sehari-hari. Saya pun mengakui–cukup terkejut juga sih, karena bisa menghadirkan grafik yang nyata–sering melakukan pola F saat jalan-jalan di blog teman. Hanya beberapa saja yang benar-benar saya nikmati satu per satu kata demi kata.

    Awal dulu saya menggunakan tema minimalis seperti ini, tanpa bilah sisi (bilah bawah iya). Kesannya, kalau diibaratkan rumah, lebih lapang dan luas. Jadi nafasnya lebih lega. Dan seperti yang tertulis di atas, fokus pada konten.

    Hingga jalan-jalan terus ke banyak blog, saya mengambil kesimpulan; bilah sisi penting untuk jadi ‘sekilas info’ sekaligus navigasi. Karena tersesat bukan hanya di hutan tapi di blog juga bisa, dan itu sering terjadi pada blog yang tanpa bilah sisi (sepengalaman saya).

    No thanks but thanks so much for the insight kak! πŸ˜€

  • Terkadang gak sabaran lihat web kok gak bergaya, padahal sidebar kadang bikin lambat lodingnya web

  • apakah blog tanpa sidebar loading nya lebih cepat daripada blog yang menggunakan sidebar ?

  • kayaknya tergantung selera masing-masing bro.
    tiap orang kan beda-beda, ada.

  • Saya suka dengan penjelasan ilmiah begini. Menarik. Dan … saya jadi aktif lagi mencari theme baru. Sudah seharusnya blog saya diupdate. Huhuhu …

Leave a reply:

Your email address will not be published.