Blogger di Pusaran Generasi Z

Sebagai seorang freelancer, saya sering sekali berkunjung ke kantor-kantor dari perusahaan yang berbeda. Dari sekedar main, diskusi sampai ke tingkat serius dan penting menyangkut pekerjaan.

Ada yang menarik dari acara kunjungan tersebut. Rata-rata pimpinan perusahaan mengeluhkan sulitnya mempertahankan karyawan, terutama dari kalangan muda. Setiap beberapa bulan atau minggu, ada saja karyawan yang memutuskan untuk keluar dan pindah.

Apa pasal? Sebagian besar dari mereka beralasan: sudah tidak betah. Padahal dari pengakuan bos-bos tersebut, mereka sudah melakukan apapun, menyediakan fasilitas, kendaraan bahkan dikuliahkan dan diberi pelatihan-pelatihan. Jadi sepertinya alasan tidak betah itu hanyalah sesuatu yang dibuat-buat.

Saya pun sempat menanyakan pada beberapa teman yang baru saja keluar dari perusahaan, dan jawaban-jawabannya memang luar biasa: nggak bebas, terlalu ketat, orang-orangnya ngga asyik *wow*.

Ini sesuai dengan tulisan Mbak Carolina, dan Dexter yang baru saya baca. Kalangan muda dari generasi yang disebut generasi Z ini sepertinya memang tak terlalu tertarik dengan jargon-jargon etika bekerja atau berpikir jenjang karir dalam jangka panjang.

Generasi Z? Siapakah Mereka?

Terkadang sulit membedakan antara generasi Z dan generasi milenial, dan telah banyak versi yang beredar tentang kurun waktu kelahirannya generasi ini. Namun secara umum, semua sepakat bahwa generasi Z adalah mereka yang lahir diantara tahun 1995 hingga 2012, sedang generasi milenial – atau bisa disebut juga generasi Y – muncul di era sebelumnya, yaitu yang lahir antara tahun 1980 hingga 1995.

Generasi yang disebut generasi Z ini memang berbeda dengan generasi sebelumnya. Jika generasi Y adalah yang ‘membentuk‘ teknologi, maka generasi Z adalah ‘bentukan‘-nya. Mereka lebih melek teknologi, bahkan hidup dengan teknologi.

generasi z

Kedekatan dengan teknologi ini membuat generasi Z memiliki pandangan hidup yang unik: mereka cenderung multi-tasking, aktualisasi diri yang tinggi, berpikiran lebih terbuka sekaligus pula memiliki perhatian besar pada perkembangan global. Jadi tak heran, disebabkan dunia digital yang menawarkan banyak pilihan, selain lebih cepat terjun ke dunia kerja, mereka pun mudah saja berpindah dari satu lahan pekerjaan ke yang lainnya.

Sangat jauh berbeda dengan generasi sebelumnya, yang untuk mencari pekerjaan harus melewati proses yang panjang. Itupun pada lahan yang terbatas. Dan jika beruntung diterima, sedapat mungkin kita memberikan impresi lebih di perusahaan demi menunjang karir.

Aliran informasi cepat dan gaya hidup digital yang melekat pun menjadikan generasi Z lebih optimis memandang masa depan. Namun tak bisa dipungkiri, adiksi ponsel cerdas dengan berbagai kompleksitasnya membuat mereka rentan dalam hal privasi dan perkembangan psikologis.

Bagaimana Blogging Di Era Generasi Z?

Meski prinsip-prinsip blogging masih ada yang relevan, namun dalam beberapa hal, blogosphere mengalami pergeseran yang cukup signifikan.

Kekuatan media sosial, booming vlogger dan perubahan algoritma google dalam melacak konten-konten relevan tak pelak membuat banyak blogger menyesuaikan sudut pandangnya.

Lihat saja bagaimana Copyblogger, HuffingtonPost dan Problogger yang kontennya kini lebih banyak menampilkan ide konten lama dan memperbaharuinya sesuai dengan kondisi terkini. Jika pun ada konten baru, itu akan mengulas tentang tips menguasai media sosial dan bukan lagi semata bagaimana membuat artikel yang persuasif.

Bagaimana di Indonesia?

Dari berbagai grup Facebook, saya mendapati banyak blogger muda yang masih berkutat dengan make money online. Setiap waktu yang dibahas bukan lagi cara bagaimana membangun situs atau blog yang profitable, tapi lebih spesifik lagi, yaitu bagaimana menghasilkan uang secara instan.

Ya, gaya hidup digital yang serba cepat membuat generasi Z seakan tak memiliki banyak waktu untuk ‘membangun’. Mereka adalah penikmat. Dengan limpahan informasi yang sedemikian besar dan godaan narsis yang kian memikat, blog bagi generasi Z hanyalah sekedar cemilan ringan di sela kesibukannya merambah dunia maya.

Menjadi Blogger Generasi Z

Menjadi blogger di pusaran generasi Z tentu menjadi tantangan tersendiri. Walau kita telah membidik segmen pembaca dari kalangan tertentu, keberadaan generasi Z tak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Entah blogger full-time maupun musiman kini seharusnya memikirkan lagi strategi ngeblog-nya. Tentu saja dengan pertimbangan yang matang. Jangan sampai malah mengorbankan brand yang telah atau sedang dibentuk hanya karena demi adaptasi.

Analoginya adalah seperti cerita saya di awal tadi, blog anggap saja sebuah perusahaan dan kita bos-nya, sedang pembaca adalah karyawan yang coba kita rekrut.

Bagaimana caranya agar mereka setidaknya menangkap pesan yang kita sampaikan tanpa langsung terdistraksi?

That’s the point.

Freelance Engineer • Books • WordPress •  Users • Digital Artist • Accidental iOS App Developer • Gamers • Find me on: Twitter | Instagram

6 comments On Blogger di Pusaran Generasi Z

  • Saya sih termasuk blogger musiman, kwkwkw :))
    Untungnya sekarang di kantor saya minimal kontrak 3thn, jadi mau gak mau ya wajib 3thn dulu baru bisa resign.
    Bisa sih kalo mau resign cuma harus bayar denda, kwkwkw 😆
    Suka heran sih sama yang suka resign gitu.
    Habis resign di A, eh gak berapa lama resign di kantor B, trus pindah lagi ke kantor C.
    Udah kayak kutu loncat kwkwkw 😆

    • Berarti fenomena ini bukan cuma di perusahaan konsultan ya, perbankan juga? Weleh2
      Nah, bagus tu peraturan kantornya, harus ndekem dulu 3 tahun baru bisa resign. Kalau mau keluar bayar denda wihihi saya jd keingetan novel my stupid boss 😀

  • menanggapi soal sulitanya mempertahankan karyawan, di satu sisi, perusahaan juga harus bisa evolve untuk beradaptasi.

  • Setiap sesuatu ada masanya, setiap masa ada sesuatunya, begitu pula dengan orang-orangnya dan alasan2nya.
    Dulu masih lajang saya karyawati, menikah lalu jadi emak2, dulu internet krok krok dulu baru konek (tel**instant), sekarang wifi dimana-mana. Dulu nonton 5 menit klip di yutub bisa 15 menit, skr 15 menit bisa 5 klip. Cara melawan dan menciptkan perubahan hanya dgn adaptasi dan inovasi. Yg tdk berubah hanya Persaingan itu sendiri. Dan akan tetap berbeda setiap generasi.
    Btw,, Generasi saya kok gak ada tercantum di atas hahaha..

    • Ya, begitulah mbak. Dulu pas jamannya internet baru2 muncul, punya akun email yahoo saja senangnya minta ampun 😂
      Wah, generasi X seperti kita2 ini sepertinya harus mengalah dulu mbak 😁

Leave a Reply to Zam Cancel Reply

Your email address will not be published.

Site Footer