Apakah kita termasuk blogger yang selalu menulis tentang kejadian sehari-hari, opini pribadi dan segala hal yang disukai tanpa mengindahkan trend di luar sana?

Yang ngacung lumayan.

Atau, apakah kita termasuk blogger yang hanya akan menulis tentang sesuatu yang sangat disukai pembaca, mesin pencari atau pihak ketiga lainnya dengan mengesampingkan kegemaran diri sendiri?

Banyak juga yang ngacung.

Idealisme versus selera pasar. Hmm

Gagasan ini lahir setelah saya membaca tulisan di kafegue yang berjudul Kenapa Harus Takut Kehilangan Pembaca Blog Anda? Disana Mas Iskandaria, sang narablog, menulis opininya tentang minimnya jumlah komentator di postingan seputar blogging seperti yang biasa beliau lakukan. Namun ajaibnya, postingan tentang Linux yang tak populer di mata pembaca setianya malah meraup trafik yang cukup signifikan dari pengunjung unik, yang notabene adalah pengunjung yang memang tengah mencari informasi seputar Linux.

Mengapa begitu? Saya kira ini sesuai dengan mantra yang sering diucapkan oleh para marketer:

Selalu ada ceruk pasar yang belum tergarap di sebuah pasar yang sudah sedemikian padat.

Ya, saat menulis topik postingan tertentu, tak ayal kita akan terbentur dengan pertanyaan-pertanyaan: apakah tulisan ini sesuai dengan target pembaca blog ini? Apakah sambutannya sesuai dengan yang saya harapkan? Atau, wah, kalau saya menulis tentang ini, bagaimana dengan pembaca setia yang kadung mencap blog ini selalu menulis topik-topik tertentu yang disukai oleh mereka?

Jadilah perang kepentingan.

Idealisme sementara tergusur untuk memenuhi selera pasar. Kita akan mati-matian memberi apapun yang pasar minta, karena memang – sepertinya – tujuan ngeblog kita adalah untuk sharing/berbagi.

Sebentar, blog untuk berbagi? Benar begitu? Bagaimana dengan komentar di sela-sela diskusi di postingan tersebut, Mas Is memberi satu perspektif yang bagus:

Kalau cuma diniatkan untuk berbagi, khawatirnya nanti malah jadi beban bagi yang punya blog. Jadi, sebenernya nggak perlu terlalu diniatkan untuk berbagi. Ngeblog kan bisa juga jadi sarana eksperimen, mempraktekkan pengetahuan, dokumentasi pribadi, mengembangkan diri, ekspresi/aktualisasi diri, dsb.

Right, sharing is not everything.

Terserah pendapat sobat mengenai hal ini, namun menurut saya, sharing atau berbagi hanyalah salah satu jalan untuk menjaga momentum perkembangan blog. Menulis tentang sesuatu yang sedang populer di mesin pencari, sesuai selera pembaca dan sebisa mungkin mendulang deretan komentar, it’s all fine. Itu memang tak jarang menjadi motivasi kita ngeblog. We are truly happy when readers happy.

Tapi jika kenyataan berkata lain?

Gila, udah nulis-nulis serius, pontang-panting cari referensi dan promosi brutal kian kemari, kok kotak komentar sepi bak kuburan? Kuburan mah mending ada pocong-nya, lha ini?

Sharing malah bisa berbalik menjadi bumerang, dan motivasi ngeblog – jika tak segera diinjeksi infus yang tepat – bisa langsung drop ke titik nadir, sodara-sodara!

Nah, untuk masalah komentar mengomentari, coba deh baca sindiran pedas oleh Mas Is ini:

Kalau memang cuma ingin menjaga agar yang biasa berkomentar tetap rutin berkomentar, menurut saya bukan itu esensi yang ingin kita capai dari aktivitas ngeblog. Ngeblog cuma untuk silaturahmi lewat saling berkomentar? Sesempit itukah tujuan kita ngeblog? Tentu tidak, bukan?

Panas kepedesan? Sure πŸ™‚

Jadi bagaimana solusi untuk memenangkan perang antara idealisme dan selera pasar ini? Jika kita benar-benar serius, mungkin jalan satu-satunya yang paling aman adalah membuat multi-blog. Seperti Darren Rowse yang sejatinya adalah penyuka fotografi, selain tetap mengembangkan problogger.net – blog yang sesuai dengan selera pasar berupa tips-tips blogging – juga membuat blog seputar fotografi. Di saat kegemarannya bertambah di topik yang lain, beliau pun membuat blog berikutnya, seperti di TwitTip.com yang mengulas tips-tips Twitter dan FeelGooder.com yang menulis artikel-artikel motivasi.

Terus kalau teteup keukeuh dengan satu blog? Pintar-pintarnya kita aja, dan kembali ke mantra marketer di atas tadi: selalu ada ceruk pasar yang belum tergarap di sebuah pasar yang sedemikian padat. Artinya, seperti yang telah dibuktikan sendiri oleh Mas Iskandaria, blogosphere ini terlalu sempit jika hanya mementingkan pembaca yang belum tentu loyal. Dan selalu ada trafik menjanjikan yang lain jika kita berani mencoba meng-explore kesukaan, hobby dan eksperimen pribadi di blog.

Jaminannya?

Nothing to lose. Blogging is fun, and should be.

Pendapat sobat?