Pentingnya Memahami Konteks Dari Hanya Sekedar Teks

Hashtag #DaruratLiterasi kembali mewabah.

Ada yang menyangkutpautkan dengan kemalasan orang menggali informasi lebih dalam, ada yang mengeluhkan abainya pemerintah dan instansi khususnya di koridor pendidikan, ada pula yang menyindir para orang tua yang kurang peka dengan perkembangan literasi anak.

Sebenarnya apa itu darurat literasi? Kenapa istilahnya jadi mendadak darurat?

Untuk literasi sendiri, menurut KBBI artinya adalah:

  • kemampuan menulis dan membaca
  • pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu
  • kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup

Ok, boleh lah itu menjadi teorinya, lalu apa yang jadi parameter-nya?

Dari sentilan Iqbal Aji Daryono saya banyak belajar, bahwa parameter tinggi rendahnya literasi bukanlah ditentukan oleh baik tidaknya sistem pendidikan, bukan pula berdasar mutu bacaan dan antusiasme membaca.

Literasi itu ternyata lebih dalam maknanya. Yaitu: sikap mental.

Dikepung Teks

Dulu, kita hanya membaca informasi dari media buku, koran, buletin dan majalah. Itu pun kita sendiri yang menghampiri media untuk mencari informasi tersebut. Namun kini di era internet, informasi bacaan seakan meluap seperti banjir bah. Kalau tidak pandai-pandai memfilter, apapun akan ditelan mentah-mentah yang ujungnya memancing kita untuk memproduksi ulang informasi itu dalam bentuk yang sesuai dengan kadar literasi kita sendiri.

Bambang Trim mendeskripsikannya dalam buku Menulispedia:

Keadaan memang semakin tidak terkendali. Informasi sampah dan informasi emas justru menyatu berebut perhatian. Pembaca yang tidak terlatih menjadi bingung, bahkan keliru menerima informasi.

Sebagai gambaran dari ‘keadaan yang tidak terkendali’ itu, berikut data limpahan informasi di internet versi Micro Focus di tahun 2017 kemarin:

  • Media sosial mendapat 840 akun baru setiap menit.
  • Sejak 2013, jumlah kicauan twitter meningkat 58% atau lebih dari 455,000 tweet per menit di 2017.
  • Penggunaan Youtube meningkat tiga kali lipat selama 2014-2016 dengan pengguna yang mengunggah video dengan total durasi 400 jam setiap menit tiap harinya. Dan di 2017, terakses 4.146.600 video setiap menit.
  • Pengguna Instagram mengunggah 46.740 juta foto setiap menit.
  • Sejak 2013, jumlah post di Facebook meningkat 22% setiap menit, dari 2,5 juta sampai 3 juta post per menit di 2016. Jumlah ini meningkat tajam lebih dari 300 persen dibanding tahun 2011 yang hanya sekitar 650.000 post per menit.
  • Setiap menit, ada 510.000 komentar di Facebook. 290.000 update status dan 136.000 foto terunggah.
  • Pengguna Facebook meng-klik tombol like sebanyak lebih dari 4 juta post setiap menit.
  • Ada 3.607.080 pencarian di Google per menit setiap hari.
  • 15.220.700 teks terkirim setiap menit.

Capek ya? Ya capek. Belum lagi di tahun 2018 ini.

Jadi benar apa yang ditulis Bambang Trim selanjutnya:

Kita benar-benar dikepung informasi dan hanya keandalan literasi yang dapat membuat kita menjadi penyintas (survivor). Karena itu, harus ada keinsafan terhadap keterampilan baca-tulis. Tanpa kemampuan membaca dan menulis yang mumpuni, kita akan mudah digempur ide-ide yang menyesatkan.

Ya, dan kalau tidak kuat digempur, cara paling gampang yang dilakukan adalah latah alias ikut-ikutan arus.

Contoh yang lagi hangat, soal tagar #UninstallGojek. Banyak toh yang kemudian rame-rame mengampanyekan aksi ini tanpa sandaran yang memadai. Asal semua yang bertabrakan dengan keyakinan langsung disikat. Lha kalau sandarannya apapun yang mendukung LGBT harus diblokir, Apple dan juga sejumlah brand juga begitu, terus berarti nggak usah pakai iPhone? Nah, kan, jadi ruwet.

Pahami dulu konteks-nya

Kemampuan memahami konteks suatu informasi tentu tak jauh dari bagaimana cara kita merespon informasi yang ada. Stephen R. Covey dalam bukunya 7 Habits Of Highly Effective People mencetus:

Seek first to understand, then to be understood.

Cari tahu dulu untuk mengerti, kemudian memahami. Jadi kalau keinginan untuk mengerti saja tidak ada, bagaimana untuk memahami isi informasi yang sebenarnya?

Seperti yang pernah saya tulis disini tentang bagaimana ulama-ulama klasik menggali kandungan ayat Al-Quran, metode untuk lebih memahami konteks ketimbang hanya sekedar membaca teks adalah sebuah proses yang membutuhkan sikap mental yang tak bisa dibilang remeh.

Kembali ke fenomena gerakan uninstall aplikasi Gojek dan LGBT tadi. Setelah kita mendapatkan update status, meme, atau kicauan jangan serta merta dong langsung ikut-ikutan mendukung aksi itu. Ya memang, isu LGBT sangat sensitif, karena terkait dengan norma dan keyakinan masing-masing individu. Tapi setidaknya kita bisa melihat apa yang mendasari fenomena tersebut.

Anda pernah membaca kabar ini?

Gojek Dukung LGBT?

Teks informasinya berbunyi: Terkait posting-an yang beredar di media sosial, perlu kami tegaskan itu merupakan pendapat dan interpretasi pribadi salah satu karyawan Go-Jek terhadap salah satu acara internal dengan tema keberagaman.

Anda baca teks nya, dan apa yang perlu digarisbawahi? Ya, pendapat dan interpretasi pribadi salah satu karyawan. Setelah itu, untuk lebih mengerti, Anda cari tahu apa itu artinya pendapat dan interpretasi pribadi. Jelajahi Kamus Besar Bahasa Indonesia jika perlu. Dan setelah mengerti, kemudian Anda kembali lagi ke gambaran besar informasinya. Setelah Anda paham, baru ambil kesimpulan.

Mudah toh?

Ya, betul, itu sama sekali nggak mudah, karena…

Mental dan sindrom dunia ketiga

Kenapa kita selalu reaktif terhadap isu agama? Kenapa kita terlalu mudah mengambil sebuah kesimpulan berdasar satu pijakan data? Kenapa juga kita sontak merasa super ketika bisa ikut arus yang anti-mainstream?

Tidak usah jauh-jauh mengawang tentang bagaimana UNESCO menyebut hanya 0,001 persen rakyat Indonesia yang memiliki minat baca, atau hasil studi Central Connecticut State University yang menempatkan Indonesia di urutan 60 dari 61 negara dalam hal literasi, kita berkaca saja deh pada kehidupan sehari-hari.

Ketika ada seorang ibu usia lanjut yang digebukin, apa yang kita lakukan? Kutuk rame-rame. Ada informasi atlit Indonesia yang dilarang mengenakan hijab, apa reaksi kita? Hajar bleh. Ada oknum majikan di Malaysia yang menganiaya asisten rumah tangga asal Indonesia? Ganyang Malaysia.

Senasib dengan Gojek.

Apa mental kita sudah sedemikian rapuh sehingga begitu malas memahami konteks? Apa dengan ikut-ikutan manasin suasana itu akan menambah kecerdasan kita dalam memproses satu informasi?

Masalah rendahnya literasi ini pun lalu dihubungkan dengan sindrom dunia ketiga, dimana tingkat kemiskinan, asupan gizi, kualitas pengajar dan infrastrutur menjadi tolok ukurnya.

Jadi jauh banget lah kalau dibanding Singapura, yang anak kecilnya saja langsung sadar menutup pop up situs dewasa saat browsing. Di sini, kita masih berkutat dengan problem mendasar pembangunan manusia, yang mesti akhirnya repot-repot mengeluarkan anggaran besar untuk pemblokiran situs-situs terlarang.

Apa yang bisa kita lakukan?

Lupakan saja masalah mental dan sindrom di atas. Yang bisa kita lakukan adalah persis seperti yang sering dikatakan oleh Aa Gym:

Mulai dari diri sendiri. Mulai dari hal kecil. Mulailah sekarang juga.

Ya, saya sebagai blogger misalnya. Berhubung bukan pemegang wewenang kebijakan strategis di pemerintahan, yang bisa saya lakukan saat ini adalah menulis artikel ini untuk mengajak kita semua agar lebih sadar tentang pentingnya memahami konteks. Saya menyadari, dengan menyuarakan opini dari isu-isu yang berkembang di masyarakat, hal itu sekaligus akan memberi edukasi tambahan bagi diri saya sendiri.

Dan saya yakin, Anda pasti punya cara unik Anda sendiri tuk menanggapi tagar #DaruratLiterasi ini.

Atau bisa ngikut cara ekstrim berikut:

Cara memahami konteks

Gimana? 😀

PS: Saya bukannya pembela atau pengguna setia Gojek (toh di Jayapura juga belum ada Gojek *lol*)

Seorang freelance engineer penyuka konten tentang teknologi dan desain, terutama seputar web development/UX design. Yuk, saling sapa di Twitter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.