Cara Memilih Template Blog Yang Cocok

Memilih template blog – katanya – itu seperti mencari jodoh. Cocok-cocokan.

Kalau kita bertipe romantis, template yang dipilih pun tak jauh-jauh dari kesan roman: adem, kalem plus bertabur pernik-pernik mungil. Lain halnya dengan yang dicap playboy. Warna genjreng dan template stylish jadi andalan tuk menonjol di kerumunan blogosphere.

Lebih luas lagi, ternyata template tak hanya melulu soal kepribadian. Faktor-faktor teknis seperti kemudahan kostumisasi, tingkat responsif, dan keandalan tampilan mobile juga ikut di keranjang pertimbangan. Belum lagi dari sisi SEO, kecepatan loading dan visualisasi pembaca, wah, urusan milih-memilih ini bisa makin ruwet.

Pemilihan template blog seharusnya sih mudah kalau kita tahu tujuan dan motivasi ngeblog. Tapi lama kelamaan kian repot juga, karena ada persinggungan kepentingan antara kesenangan pribadi dan tuntutan blogging. Ya mirip-mirip nuansanya dengan artikel perang kurusetra antara idealisme versus selera pasar yang pernah ditulis disini.

Terus, gimana caranya? Apa saja sih yang harus dipertimbangkan saat memilih template blog?

1. Perjelas tujuan blog

Tujuan ngeblog Anda apa? Makin spesifik makin baik, karena itu akan mempengaruhi tipe template yang dipilih. Jika tujuan blog sebagai portofolio, misalnya. Maka template yang berfokus pada produk, hasil karya dan catatan prestasi personal bisa jadi pilihan.

Contoh Template Blog Portofolio

Model template begini cocok juga untuk blog personal dengan periode update artikel yang seperlunya. Untuk blog yang tujuannya tuk menawarkan produk-produk komersil tentu jauh berbeda. Begitupun untuk blog ber-genre review.

2. Bagaimana gambaran konten blognya?

Anda suka berbagi foto-foto hasil traveling, atau lebih condong menyiarkan tulisan? Apakah Anda konsisten dengan format artikel tertentu?

Pertanyaan-pertanyaan itu akan mengerucut pada tema tampilan blog secara keseluruhan. Percuma saja jika template bagus tapi Anda tidak memperhatikan format kontennya. Satu artikel berisi foto-foto resolusi tinggi, update berikutnya berupa tulisan essay dengan panjang 1500-an kata, weh, ini tentu menimbulkan kesan janggal secara visual.

Konsistensi tipe konten juga menyangkut ukuran tampilan image, tipografi huruf sampai ke jumlah kolom. Blog dengan satu kolom full-width cocok bagi blogger yang ingin pembacanya terpusat hanya pada konten, sedang dua dan tiga kolom pas bagi blog dengan interaksi yang lebih dari sekedar membaca.

3. Suka sederhana atau kompleks?

Bayangkan sebuah perpustakaan. Apa yang ingin Anda tampilkan pada perpustakaan itu? Bagaimana susunan rak-raknya? Bagaimana sistem penelusuran buku-bukunya?

Sama halnya dengan template blog. Jika Anda suka yang simpel dan to the point, pilihlah template dengan kostumisasi standar dan tak berlimpah widget seperti halnya blog tanpa sidebar. Untuk yang berhasrat menjadikan blog lebih terlihat profesional, pastilah memilih template dengan opsi kostumisasi yang lebih dari biasa. Seperti theme Genesis yang saya pakai ini.

4. Jika bimbang, tanya saja pembaca

Jurus ini pas untuk blog dengan fans yang lumayan. Saat sepertinya perlu perombakan pada template blog, atau Anda butuh penyegaran rohani ngeblog dan bingung memilih template, permasalahan itu bisa langsung ditanyakan pada posting tersendiri. Siapa tahu dapat pencerahan dari pembaca?

bingung memilih template blog

5. Sadari bahwa tak mungkin membuat semua orang bahagia

Terlalu memikirkan visual dari sisi pembaca pun kadang bikin stres saat memilih template. Mau begini, khawatir pembaca bubar. Mau begitu, takut dianggap amatiran.

Blog memang didesain sebagai platform media komunikasi dua arah. Dan selain membaca konten, pengunjung pun pasti memberi kesan tertentu pada tampilan blog. Namun kalau terus menerus berpikir ke arah sana, waktu Anda yang dialokasikan untuk menulis konten akan tergerus. We can’t make everybody happy, pada konten, begitu pula pada template.

Namun di atas itu semua…

6. Content is a king

Right. Konten adalah raja. Esensi blog ada pada konten, dan template hanyalah aksesori yang membungkus konten. Apalah artinya menghabiskan waktu tuk memilih template blog yang cocok bila kita tak memiliki kekuatan pada konten-konten yang dibuat. Lebih parah lagi jika itu kelak menghilangkan momentum blogging yang sudah begitu asyik berjalan.

Well, apapun itu, pertimbangan memilih template adalah sebuah keniscayaan dan pasti dialami oleh semua blogger. Mengingat begitu berwarnanya tiap pribadi blogger, sebanyak itu pula lah kemungkinan-kemungkinan yang dipikirkan.

Tapi ada satu prinsip absolut yang semestinya jadi acuan, yaitu:

My blog, My rule.

So, sudahkah Anda memilih template yang cocok untuk blog Anda? Share, please.

Freelance Engineer • Books • WordPress •  User • Digital Artist • Accidental iOS App Developer • Gamer • Poke me on Twitter

2 comments On Cara Memilih Template Blog Yang Cocok

  • Setuju kalau ‘content is a king’ itu benerrr deh. template pendukung yang kudu dicari kayak jodoh. Aku juga lagi cari2 kira2 ntar ,mau ganti template yg lebih sesuai dengan kepribadian hihihi. Memang betul kita ga mungkin bikin semua orang bahagia. Yang penting hati senang ga ganggu orang. Tulisan juga bagus sewajarnya aja. Tq sharingnya ya.

Leave a reply:

Your email address will not be published.