Tawuran lagi, tawuran lagi.

Berita tentang maraknya tawuran mendadak semakin renyah, serenyah kuaci yang saya kunyah saat iseng memantau berita-berita di televisi. Tadinya hal tersebut saya tanggapi sambil lalu – yah namanya juga remaja – sampai kemudian tibalah pada statemen berita bahwa tawuran antar pelajar telah menimbulkan korban jiwa, yang menonjok ulu hati dan membuat kuaci di mulut ini serasa makin asin.

Waduh, kok bisa ya?

Dan sebelum saya memikirkan sebab musabab tragedi tersebut, ramailah media – baik cetak maupun visual – menganalisis dari berbagai sudut perspektif. Lebih dari itu, heboh pula tulisan demi tulisan yang terpublish di blog, forum maupun di situs-situs jurnalisme warga.

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

Seharusnya mereka tak begini…

Ada berita yang menanggapinya dari sudut pandang politis, bahwa kian agresifnya para pelaku tawuran adalah tak lebih dari apa yang mereka lihat pada diri figur-figur elit politik. Berita lainnya menuding pihak sekolah yang tak mampu mengontrol kegiatan extrakurikuler sepulang sekolah bagi anak didiknya. Kolumnis yang satu menyalahkan betapa longgarnya pencegahan tawuran oleh kepolisian, hingga akhirnya hanya bisa bengong saat apa yang ditakutkan terjadi. Tulisan sebelahnya malah lebih parah, menyalahkan warung-warung kecil di pinggir jalan yang sering dijadikan ladang ‘titipan’ berbagai macam senjata oleh para kontestan tawuran.

Ya, Anda pasti setuju dengan saya, meski opini disajikan dalam beragam kata dan topik, ujung benang merah dari luapan informasi itu sama saja, yaitu perbuatan menghilangkan nyawa seseorang tetaplah sebuah tindak kriminal.

Jauh sebelumnya, tawuran diidentikkan dengan kenakalan remaja. Satu level dengan aksi-aksi vandalisme, seperti mencoret-coret dinding dan/atau merusak fasilitas umum. Batas maksimalnya hingga dianggap mendekati kriminalitas pun masih bias, tergantung tingkat toleransi masyarakat lokal setempat. Namun jika sampai memakan korban jiwa seperti yang terjadi saat tawuran antara SMA 6 dan SMA 70 kemarin, tak ada istilah lain selain: itu adalah sebuah kejahatan absolut, baik bersifat direncanakan maupun spontanitas.

Oke, oke, yang terjadi biarlah terjadi. Permasalahan tawuran antar pelajar memang tak bisa diselesaikan hanya dengan satu upacara seremonial, deklarasi bersama atau plakat-plakat tertulis. Bukannya antipati, tapi dari pengalaman yang sudah-sudah, kegiatan-kegiatan tersebut hanya muncul setelah adanya insiden. Dengan kata lain, it’s too late.

Jadi, menilik judul dari artikel ini, dan sesuai dengan jargon ‘lebih baik mencegah daripada mengobati’, saya mengajak Anda para pembaca untuk sama-sama merenungkan: apa sih ya hal-hal yang bisa mencegah dan menanggulangi tawuran?

Sebagai orang awam dan sama sekali tak pernah terlibat tawuran (maklum, saya termasuk aliran low profile – high profit *hehe*), mungkin saya tak bisa merasakan secara langsung apa yang ada di fikiran para pelaku tawur. Apakah itu karena motif balas dendam? Permainan provokator? Gengsi sekolah? Rebutan pacar? Atau, hanya sebagai pengisi kekosongan dan penyalur emosi-emosi saat usia labil?

Nah, pada kesempatan ini saya ingin sekali sharing tentang sebuah filosofi mencegah dan menanggulangi yang kebetulan ada persamaannya saat saya bekerja di salah satu konsultan proyek banjir.

Mencegah Tawuran

Persamaan tawuran dan banjir? Sama-sama harus dicegah dengan kepala dingin.

Begini, dalam perspektif mencegah dan menanggulangi banjir, ada beberapa tahapan dan alternatif yang bisa dilakukan, tergantung dari seberapa urgent level banjir yang ingin dikendalikan. Seperti misalnya, untuk tahap paling darurat dan jangka pendek, pembangunan tanggul di sepanjang aliran sungai jadi pilihan utama. Untuk jangka menengah, pembangunan dam-dam pengendali sedimen, krib bronjong dan waduk pengendali banjir masuk dalam prioritas.

Sedang untuk jangka panjang, peristiwa banjir harus dilihat dalam skala yang lebih luas, yaitu menganalisisnya sebagai satu daerah aliran sungai (DAS), yaitu mencegah dan menanggulangi banjir dengan jalan merawat dan memelihara daerah hulu sungai.

Well, saya kira filosofi ini bisa diterapkan untuk mencegah dan menanggulangi tawuran. Contoh saja, untuk jangka pendek (harian), dimana intensitas bertemunya dua kelompok siswa lain sekolah sangat tinggi, tiap sekolah mengadakan kegiatan extra dengan jam kepulangan yang berlainan.

Misal, SMA 23 tiap Senin dan Rabu ada kegiatan pelatihan wirausaha, sedang SMA 36 tiap Selasa dan Kamis ada kegiatan mengulas kerajinan usaha kecil. Ramaikan pula dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat kerohaniahan agar kondisi emosional siswa tetap terjaga. Dengan begitu, selain ada kegiatan positif, frekuensi gesekan yang bisa menyulut tawuran pun bisa terminimalisir.

Untuk jangka menengah, adakan saja kegiatan sebangsa Pesta Seni dan Olahraga antar sekolah tiap semester dengan host bergiliran, lebih bagus lagi jika tuan rumahnya kolaborasi seperti halnya perhelatan Piala Dunia Korea – Jepang, dan akan lebih mantap bila digelar oleh 3 sekolah, dengan format 1 sekolah sebagai penyumbang fasilitas tempat dan 2 sekolah lainnya bertindak sebagai panitia.

Misal untuk semester ini, Pesta Putih Abu-Abu Tengah Tahunan diadakan di SMA 75, dengan SMA 14 dan SMA 33 sebagai panitia penyelenggara. Keren kan?

Lebih jauh lagi, untuk jangka panjangnya, cara mencegah dan menanggulangi tawuran adalah mengadakan event dengan skala yang lebih besar dan bersifat tahunan yang diselenggarakan oleh Pemda setempat. Misal, adakan liga futsal SMA se-Jabodetabek, yang diharapkan akan menimbulkan rasa kekompakan dan solidaritas antar siswa SMA satu kota. Bayangkan, jika tim futsal SMA Jakarta Selatan melawan tim kota lain, seluruh siswa SMA di wilayah Jaksel pasti akan kompak.

Apakah ada jaminan dengan cara-cara diatas dapat mencegah dan menanggulangi tawuran? Belum tentu. Tapi setidaknya ada proses, dan konsistensi proses itulah yang seharusnya tetap terus dijaga. Karena kita semua pasti tak ingin tragedi-tragedi tawuran kembali berulang, bukan?

Anda punya pendapat? Share, please.

PS: Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bersatu: Cara Mencegah Dan Menanggulangi Tawuran.