Ok, kalau ada yang bertanya gimana sih cara menulis artikel blog? Well, saya akan memakai analogi tubuh seksi sebagai panduannya. Check it out!

Tubuh seksi, singset, dan enak dipandang adalah dambaan setiap orang. Tak tua, muda, wanita, pria, dheso, kutho, kriting, gundul, siapa pun itu, setuju bila hal yang berbau seksi pasti menyenangkan dan serasa tak jemu diperbincangkan.

Rupa-rupanya ideologi itu klop jua jika kita teliti lebih jauh plus penerawangan mendetail tentang hal ihwal pembentukan artikel di blog. Dari mulai judul, isi, hingga penutup, perlu kiranya dikaji ulang agar artikel yang terpublish itu terlihat lebih seksi, segar, dan memberi nilai tambah bagi pembacanya.

Untuk lebih jelas, perhatikan diagram berikut…

cara menulis artikel blogDari sudut pandang kartunis newbie seperti saya, sketsa Tomb Raider di samping bisa mewakili gambaran tubuh seksi dari sebuah artikel blog.

10% bagian yang pertama, adalah judul artikel dan/atau paragraf awal. Bagian ini merupakan ujung tombak, first sight, dan pengiklan utama dari artikel. Makin ciamik bagian ini, makin menarik khalayak tuk mencoba menelusuri lebih ke dalam.

Ada yang bilang, nasib artikel itu 90% bergantung pada head ini. Wajar sih. Pengecualian bagi para blogwalker yang hanya menitip link, penampilan awal sebuah judul plus paragraf awal yang heboh, tentu lebih menggiurkan ketimbang pembukaan yang biasa-biasa saja, datar dan terkesan umum.

Ok, setelah pandangan pertama mulus, pindaian pembaca lanjut ke isi/tubuh artikel. Bagian ini mengambil komposisi sebesar 80% dari keseluruhan artikel blog.

Ya, di bagian ini, taburlah aksesori yang matching dengan judul, polesan total, maupun barisan-barisan kalimat pelebur gelisah. Bayangkan kita menggandeng pembaca, meremas pandangannya yang haus, dan mengajaknya ke dunia imajinasi kita. Layaknya seorang guide dalam sebuah tour terspesial, berikan detail-detail penggugah selera, sajikan spot-spot terindah, kalau perlu ikat pembaca dengan dongeng pengantar blogwalking yang tak pernah didengarnya seumur hidup. Bang! Bang!

Setelah pembaca mabuk kepayang, dan penulis sudah merasa cukup menyuapi kata pemanis hingga tetes terakhir, barulah beranjak ke 10% bagian terakhir, yaitu penutup. Cooling down

Di sinilah peran artikel dipertaruhkan. Kemana pembaca selanjutnya akan diarahkan? Apakah itu berupa ajakan? Penegasan? Pertanyaan? Terserah lah, asal jangan ngambang. Karena bagaimanapun, membaca artikel yang mengambang alias tulisan kentang maknanya ya sama saja seperti melahap selusin krupuk udang tanpa minuman, alias seret bo’. Jadi, bijak-bijaklah mengisi paragraf penutup ini.

Nah, begitulah, cara menulis artikel blog itu mudah kalau mengerti jurusnya. Dan jurus dengan gambaran di atas lebih dimengerti kan? Tunggu apa lagi,Β fitness menulis yooo! πŸ˜€