Dua Bulan Memakai MacBook Pro. Kesannya?

Sudah dua bulan saya memakai MacBook, dan sebagai pengguna Windows sejak awal mengenal laptop, ada beberapa hal yang mungkin bisa saya share di sini.

Sebagai informasi awal, saya memakai MacBook Pro seri 2017 bermonitor 13 Inch non touch-bar. Saya membelinya di salah satu distributor resmi di Kota Solo, tepatnya di Mall Paragon. Soal harga – ya – semua sudah ngeh kalau produk-produk Apple memang kadang tak masuk di akal.

Dengan spesifikasi yang sama (prosesor Intel i-5, 8 GB RAM), harga Macbook Pro dibandrol 3 hingga 4 kali lipat dari laptop-laptop berbasis Windows. Belum lagi jika mengingat Apple terkesan ‘pelit’ dengan kapasitas hardisk. Daya tampung 256 GB di MacBook Pro tak ada apa-apanya dibanding hardisk di laptop Asus lama saya yang berisi 1 TB.

So, kenapa saya ngebet pindah ke MacBook?

Pertama, sisi maintenance. Di laptop Windows yang lama, sudah beberapa kali saya instal ulang. Entah karena virus atau untuk membersihkan program-program sampah, proses itu kadang bikin stres, apalagi jika kejadian di tengah kebutuhan pekerjaan yang mendesak.

Lain hal dengan MacBook yang semua programnya masuk dalam ekosistem Apple. Belum ada cerita program mendadak hang, terjangkit malware atau – amit-amit – nge-blue screen. Bukan tanpa alasan. Proteksi built-in anti-malware di MacOS memang terkenal sadis dengan malware.

Kedua, performa. Sudah bukan rahasia lagi jika sistem operasi MasOS lebih mulus kinerjanya dibanding laptop Windows. Dari mulai booting, mode sleep, daya terima sinyal wifi, hingga program-program yang berjalan, it works seamlessly.

Dari segi tampilan? Dengan teknologi retina dari Intel Iris Graphics 640 1536 MB, nonton YouTube, video editing, grafis, coding atau aplikasi-aplikasi lain secara umum, tampilannya adem di mata. Saya merasakan sendiri, setelah agak lama memakai MacBook lalu nonton film di laptop berbasis Windows, terasa sekali perbedaan nuansanya.

Ya, dari dua aspek itu saja, maintenance dan performa, MacBook lebih unggul dibanding laptop Windows.

Namun, keunggulan itu tentu ada harganya. Selain nominal di struk pembelian, harga lain yang harus dibayar adalah ‘penyesuaian diri’. Apa saja kah itu?

Tak ada lagi kebebasan
Bagi yang terbiasa memakai program-program bajakan, memakai MacBook itu seperti masuk ke dalam kantor perusahaan berbirokrasi ketat. Tak ada lagi kemudahan memakai program di luar kebijakan. No more flexibility. Jadi bagi saya yang masih memakai program Civil 3D (bajakan tentunya), laptop lama tentu masih jadi andalan.

Lebih bijak mengelola kapasitas hard disk
Dengan ‘hanya’ 256 GB, tentu pemakaian hard disk saya tak seleluasa dulu. Kini, lebih baik streaming daripada download. Lebih baik mengunggahnya di iCloud daripada disimpan di folder. Yah, semua demi menghemat daya tampung. Tapi kabarnya eksternal HD Samsung SSD bagus juga ya? Mungkin kalau sudah kepepet saya akan mencobanya.

Transfer media ribet
Jika di laptop Windows hanya semudah copy paste, di MacBook ada yang namanya export import untuk transfer foto dan video. Ditambah lagi, port yang ada di MacBook berjenis Thunderbolt 3, jadi butuh dongle tambahan jika ingin menghubungkan lewat kabel USB.

No more gaming?
No, tentu saja saya tak berhenti main game. Untuk urusan game, laptop-laptop Windows masih jadi rujukan. Jauh lah jika dibanding MacBook. Tapi, kenapa ya rendering video di MacBook lebih lancar ketimbang Windows tapi lemot kalau untuk game? Ini yang masih jadi misteri.

Well, ke-empat penyesuaian di atas bersifat mayor sih, karena yang minor-minor juga banyak. Seperti sistem penyimpanan, tombol-tombol short-cut, dan proses instalasi aplikasi yang tutorialnya bejibun di internet.

Dan kembali ke kesan penggunaan, saya akan sangat bersalah jika menulis ‘biasa saja’. No. MacBook Pro sungguh telah merubah standar saya dalam menggunakan laptop. Dari mengetik di keyboard, penggunaan touch pad secara masif, hingga konstruksi gadget yang mengedepankan esensi ketimbang aksesori, this is incredible.

Plus, sekarang saya tengah belajar bahasa pemrograman Swift dan iOS development. Dengan aplikasi XCode bawaan MacOS, goal saya untuk menjadi seorang app developer semoga saja bisa terwujud di kemudian hari (aminin dong).

Amiiin… *satu kelurahan*

Freelance Engineer • Books • WordPress •  Users • Digital Artist • Accidental iOS App Developer • Gamers • Find me on: Twitter | Instagram

5 comments On Dua Bulan Memakai MacBook Pro. Kesannya?

  • Eciye udah pake macbook. Semoga saya ikut ketularan juga deh nantinya. Amin. hhh

    Btw, mas Darin masih buka guest post di blog ini ya? soalnya kemarin saya sempat ngirim artikel di sini tapi belum dapat respon. –“

  • Saya juga sempat dulu bingung, mau ambil MacBook atau Windows Laptop, toh anggaran tidak jauh beda. Akhirnya setelah banyak pertimbangan saya memutuskan membeli Windows Laptop Dell. Perfoma lumayan baik dengan SSD, walau sama juga mesti berhemat karena cuma 128 GB, tapi kemarin sempat upgrade RAM jadi 12 GB, lumayan membuat bernapas lega.

    Kalau masalah game, saya pakai Steam, pada akhirnya banyak permainan jadi tidak terpakai karena saya juga harus menyelesaikan banyak kerjaan.

    Untuk lisensi, memang lisensi perangkat lunak tidak murah, tapi lumayan membantu ke depannya.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer