Seberapa Gilakah Anda Membaca Buku?

Berapa buku yang sudah Anda baca sepanjang tahun 2018 ini? Apakah Anda mengalokasikan waktu khusus untuk membaca buku di keseharian? Lalu, apakah Anda mencatat intisari, rangkuman dan faedah-faedah buku yang sudah dibaca?

Pertanyaan-pertanyaan di atas kembali menjadi sorotan saat saya merampungkan buku ini…

review buku gila baca ala ulama

Buku yang berjudul Gila Baca Ala Ulama, Potret Keteladanan Ulama Dalam Menuntut Ilmu, karya Ali bin Muhammad Al-‘Imran ini adalah hasil terjemahan dari buku yang berjudul Al-Musyawwiq Ila Al-Qiraah Wa Thalab Al-‘Ilm oleh Kuttab Publishing.

Dari sub judul sudah ditebak, buku ini menitikberatkan pada pembaca muslim yang ingin mengetahui lebih jauh bagaimana cara ulama-ulama terdahulu menuntut ilmu. Namun secara garis besar, semua orang dari berbagai latar belakang dapat mengambil hikmah dan menuai inspirasi yang terkandung di dalamnya.

Dan dari judulnya – gila baca – saja membuat banyak orang penasaran, termasuk saya. Apa sih yang dilakukan ulama-ulama terdahulu itu sampai diistilahkan ‘gila baca’?

Pentingnya Motivasi Dalam Menuntut Ilmu

Motivasi kita dalam menuntut ilmu tentu beragam. Dari sekedar mengikuti aturan seperti saat mulai memasuki Sekolah Dasar hingga Menengah Atas, untuk mencapai gelar tertentu, agar cepat naik jabatan, atau meningkatkan kapabilitas diri.

Dan setelah ilmu itu kita anggap telah dikuasai, apa selanjutnya? Buku ini menulis:

Jangan merasa puas dengan ilmu yang telah engkau ketahui. Sebab, perasaan puas menunjukkan kurangnya perhatian terhadap ilmu. Kurangnya perhatian terhadap ilmu akan mendorong seseorang meninggalkan ilmu. Apabila seseorang meninggalkan ilmu, maka dia pun menjadi bodoh – Al-Mawardi

Jadi motivasi apa yang sebenarnya mendasari ulama-ulama tersebut begitu getol menuntut ilmu? Mereka ternyata memiliki prinsip: menambah ilmu berarti menambah peluang untuk menyebar kebaikan. Dengan kata lain, semangat untuk mengejar pahala berada di atas tujuan-tujuan lain.

perbandingan ilmu dan kebaikan

Diagram di atas yang disajikan buku ini memperlihatkan, dimana pun tingkatan ilmu yang kita punya, sejatinya dapat memberikan kebaikan pada orang lain. Skalanya pun meningkat secara eksponensial.

Buku, Buku dan Buku

Dalam Risalah Maratib Al-Ulum, Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm menyebut: Perbanyaklah buku, sebab tidak ada buku yang tidak bermanfaat. Saran beliau diamini oleh Al-Jahizh:

Barangsiapa yang ketika membeli buku tidak merasa nikmat melebihi nikmatnya membelanjakan harta untuk orang yang dicintai, berarti dia belum mencintai ilmu.

Berkaca pada diri sendiri, saya dan mungkin Anda juga merasa eman kalau menyisihkan uang untuk membeli buku. Kalau pun bisa, belum tentu buku itu dibaca sampai habis. Seperti pada artikel yang pernah saya tulis, keinginan untuk membeli buku kadang terhalang oleh kekhawatiran tentang alokasi waktu untuk membacanya.

Padahal di buku ini, semua hal itu tergantung niatnya. Saya bengong saat membaca kisah-kisah ulama terdahulu yang begitu cintanya dengan buku. Seperti sikap Zubair bin Abu Bakr ini…

keutamaan membaca buku

Begitu pun kisah-kisah ulama yang lain.

Ada yang selama 40 tahun tak pernah tertidur selain ada buku di dadanya, ada yang sampai melupakan shalat sunnah, ada yang singgah di kuburan hanya untuk membaca dan menghindari bercengkerama dengan manusia, bahkan ada yang tak berpikir untuk menikah, saking cintanya pada buku.

Kalau dibanding sekarang, mungkin bentuknya sudah beda ya? Di era smartphone ini kita bisa saja menenteng ribuan buku dalam saku dan bisa dibaca kapan saja kita mau. Ya, baik buku fisik maupun bentuk digital sebenarnya bukan masalah. Yang jadi perhatian adalah: apakah kita bisa mengambil manfaat semaksimal mungkin dari bacaan tersebut?

Membaca Buku dan Mencatatnya

Kita mengenal teknik skimming, scaning dan fast reading dalam proses membaca. Di buku ini, yang utama bukanlah tekniknya, melainkan latar belakang motivasi yang mendasari keinginan untuk membaca buku tersebut. Ada dua benang merah yang bisa ditarik, yaitu:

  • Jika ingin menimba ilmu fikih, ushul atau buku-buku yang mengulas hal terperinci yang sama sekali belum diketahui, kita dianjurkan untuk membaca secara lambat. Ini agar proses pengkajian dan pemahaman.
  • Jika sudah merasa menguasai satu jenis ilmu, membaca buku pada bahasan ilmu tersebut sudah boleh menggunakan teknik membaca cepat sembari mencatat poin-poin permasalahan dan manfaat di dalamnya.

Dan setelah buku terbaca, apakah selesai begitu saja? Ulama-ulama terdahulu mencontohkan, bahwa cara terbaik untuk mengikat ilmu yang sudah dipelajari dari buku yaitu dengan membacanya berulang kali, mencatat dan mengajarkannya.

Mengapa begitu? Buku ini menulis:

…guna mengokohkan ilmu, menyajikan kembali permasalahan pada disiplin ilmu tersebut, serta menghindari terpecahnya konsentrasi.

Khusus untuk mencatat, ternyata banyak ulama yang sangat bersemangat mencatat ulang kitab-kitab dan – kadang – menjualnya untuk kebutuhan umat. Ada pula yang setelah membaca sebuah kitab, ia langsung menulis sebuah buku. Seperti kisah Abul Faraj bin Al-Jauzi yang mampu menulis 4 buku dalam sehari, atau Ibnu Manzhur yang selama hidupnya telah melahirkan 500 jilid kitab.

Kita? Bikin artikel blog aja males, ye kan? 🙁

Epilog

Buku Gila Baca Ala Ulama ini seperti sebuah rangkuman tentang perjuangan ulama-ulama terdahulu dalam menuntut ilmu. Apa motivasinya, bagaimana metodenya pun bagaimana cara mereka mengikatnya. Dan di beberapa tempat, terdapat nukilan-nukilan petuah yang mampu menggerakkan hati, bahwa menuntut ilmu bukanlah semata urusan duniawi belaka, namun lebih jauh maknanya.

Ya, apapun yang kita baca dan ilmu yang didapat, semestinya mampu mengubah pola pikir dan memberi manfaat lebih pada sekitar, bukan hanya semata jadi eksperimen pribadi apalagi sampai membuat kita sombong. Betul?

Freelance Engineer • Books • WordPress •  Users • Digital Artist • Accidental iOS App Developer • Gamers • Find me on: Twitter | Instagram

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer