Wahai Pengguna WordPress, Bersiaplah Dengan Kedatangan Gutenberg

Di tahun 2017 lalu, Matt Mullenweg, seorang co-founder proyek open-source WordPress mengumumkan sebuah hal penting di WordCamp Eropa. Di ajang kumpul-kumpul pengguna WordPress dari berbagai kalangan dan status se-eropa itu, editor Gutenberg diluncurkan sebagai plugin, dan mempersilahkan semua orang untuk mencobanya.

kelebihan kekurangan gutenberg

Apa Itu Gutenberg?

Gutenberg adalah sebuah program pembuat konten, atau Content Builder. Bisa juga diistilahkan dengan Page Builder. Jika Anda pernah menyaksikan iklan Wix di channel Youtube, seperti itulah penampakannya. Atau ada yang pernah menginstal plugin Elementor? Ya, semirip itulah kira-kira.

Jika belum yakin juga, silakan Anda mampir kesini untuk melihat dan mengetes secara langsung bagaimana cara kerja dari Gutenberg.

Sepertinya asyik, kan? Ya, mudah sekali membuat satu tampilan konten yang mengesankan dengan Gutenberg. Sesuatu hal yang rumit dilakukan jika menggunakan platform TinyMCE yang menempel di editor klasik saat ini.

Dan bagi pengguna WordPress yang baru update, atau baru kembali dari hiatus dan login ke dashboard, pasti pernah melihat kolom pengumuman seperti yang terlihat pada gambar berikut.

editor wordpress gutenberg

Try Gutenberg?

Berhubung saya memiliki blog pribadi yang bisa dijadikan kelinci percobaan, saya pun ber-trial error ria dengan editor baru yang bakal menjadi platform editor tetap WordPress di masa mendatang ini.

Mencoba Editor Gaya Gutenberg

Setelah memilih opsi Try Gutenberg dan membuat posting baru, tampilan editornya langsung membuat saya terkesima.

cara menggunakan gutenberg

Pada kolom editor sudah terpampang dua block kosong untuk judul artikel dan paragraf awal. Saya masih mengira-ngira dimana fitur-fitur editing lain, seperti menebalkan, memiringkan dan menambah image. Dan jawaban itu langsung terlihat saat mulai mengetik huruf demi huruf.

tutorial gutenberg

Opsi editing muncul setiap kita meng-hover pointer di block teks. Ada opsi mengganti keseluruhan teks pada format tertentu di tombol paling kiri. Di tengah merupakan barisan ikon editing yang sudah tak asing lagi, dan yang paling kanan adalah opsi yang berkaitan dengan block itu sendiri.

kelemahan editor gutenberg wordpress

Dari beberapa langkah awal ini saya mulai menduga-duga gambaran cara kerja Gutenberg. Rupanya editor ini menggunakan konsep block untuk setiap pergantian paragraf, yang secara default berupa blok teks. Tapi apa tidak malah bikin pusing ya? Sepertinya lebih sederhana dengan editor klasik?

Tapi ketika saya melirik ke sidebar kanan, wow, ternyata banyak opsi pilihan lain yang bisa dipilih!

cara menulis di gutenberg

Jenis font, ukuran font dan ada juga fitur Drop Cap, yang membuat artikel serasa membaca koran. Lalu dengan menggulung sidebar makin ke bawah, fitur-fitur lain pun mulai bermunculan, seperti mewarnai background blok dan teks.

edit teks wordpress gutenberg

Agak aneh memang. Siapa pula yang gemar mewarnai teks artikel? Eh, ada mungkin ya sebagian blogger yang kepingin salah satu paragraf teksnya ((berbeda)) dari yang lain.

Thus, semua fitur editor Gutenberg pun saya coba, dan hasilnya bisa dilihat di blog darin.id.

contoh blog gutenberg

Terlihat janggal ya? Jauh lah jika dibanding dengan live demo di laman resminya.

Kesan Setelah Mencoba Gutenberg

Hmm, it’s fine. Walau terkesan terlalu banyak fitur yang dijejali dalam platform ini, saya merasa sesuatu yang berbeda. Nuansa menulis artikel jadi lebih fokus. Apalagi bagi blogger yang hanya berkutat pada teks, image dan link, editor ini cukup bagus.

apa arti gutenberg

Namun jika saya memandang diri sendiri sebagai blogger yang suka dengan penampilan berbeda di tiap postingan, itu hal lain. Gutenberg bisa jadi taman bermain yang asyik tuk dieksplorasi. Jadi mirip blogger-blogger blogazine yang dulu sempat menggebrak dunia blogging.

Dan walau sepertinya masih banyak bug plus beberapa hal minor yang harus dibenahi, saya akan terus menggunakan plugin editor ini di blog personal. Karena – yah – mau tak mau harus begitu. Kabarnya, dalam upgrade versi WordPress nanti, Gutenberg telah fix menggantikan editor versi klasik.

Alasan WordPress Memakai Gutenberg?

It’s all about page builder.

Ya, semuanya bermuara pada satu alasan: WordPress tidak mau ketinggalan dalam hal teknologi pembuatan konten.

Kompetisi web yang semakin dinamis, ditambah dengan banyaknya pengguna yang mulai melirik platform-platform yang memberi keleluasaan lebih pada desain konten seperti Wix, Weebly dan Squarespace, membuat WordPress berusaha membuat gebrakan baru. Dan itu terwakili dengan Gutenberg.

Lihat saja bagaimana gampangnya membuat laman yang catchy dengan Squarespace:

laman squarespace saingan wordpress

Dan hawa-hawa berbau page builder pun sepertinya sudah merasuk di kalangan pengguna WordPress. Coba saja cari plugin dengan kata kunci page builder, well, ada sekitar sekitar 1800-an plugin!

plugin page builder di wordpress

Bahkan Envato, salah satu pengembang web terkemuka, menawarkan hampir 350 plugin page builder yang bisa dipakai oleh pengguna WordPress. Ini menandakan cukup tingginya minat pengguna tehadap konsep page builder.

CMS open-source lain? Setali tiga uang. Drupal yang sudah menginjak versi 8 mencoba memikat hati dengan meluncurkan test page yang bisa dijadikan bahan utak-atik. Joomla hadir dengan RS Page Builder-nya. Dan tak mau ketinggalan, Magento pun beraksi dengan page builder Blue Foot.

Wabah page builder yang kian santer terasa inilah yang mungkin menjadikan WordPress perlu membuat satu lompatan besar.

Melompat lebih tinggi (Sheila on 7)

Lalu…

Bagaimana Dengan Respon Pengguna WordPress?

Kalau dilihat dari review-nya, menyedihkan…

review plugin gutenberg wordpress

Mungkin perasaan mereka sama dengan saya. Susah move on dari editor klasik. Tapi ternyata bukan hanya itu, penggunaan Gutenberg sebagai editor di WordPress juga memiliki banyak efek samping, atau ekstrimnya, mimpi buruk. Kenapa?

Karena dengan banyaknya theme dan plugin yang menggantungkan nasibnya pada WordPress, kehadiran editor baru ini bakal merubah semua tatanan yang sudah apik terjalin.

Developer theme yang kadung lengket dengan TinyMCE misalnya, mulai ramai-ramai memberikan saran, sugesti dan kritikan pada developer plugin Gutenberg.

Dalam hati saya berdoa, semoga saja developer theme Genesis yang saya pakai ini pun bereaksi cepat. Kalau tidak ya, wassalam 🙁

Begitu pula dengan developer plugin, seperti Joost De Valk yang concern penggunaan Gutenberg akan berdampak dari sisi SEO di plugin Yoast.

Sikap Kita Sebagai Pengguna WordPress

Meninggalkan zona nyaman dan menemui zona yang sama sekali baru memang butuh adaptasi. Semua tergantung dari bagaimana cara kita memandang zona baru tersebut.

Dari sudut pandang pengguna awam seperti saya, Gutenberg adalah berkah. Seperti yang sudah diuraikan di atas, it’s fine. Saya cukup nyaman membuat artikel dan mengostumisasi tampilan sesuai dengan kebutuhan.

Namun tak bisa dipungkiri pula, kebiasaan memakai editor klasik tak jarang membuat konsentrasi terpecah. Misalnya saat saya ingin menambah image di artikel, pointer reflek mencari tombol Add Media, padahal di Gutenberg cukup dengan drag and drop.

Yah, kembali lagi pada pepatah lama:

Bisa karena terbiasa.

Bagaimana dengan Anda, sudah mencicipi editor Gutenberg? Bagaimana kesannya?

Freelance Engineer • Books • WordPress •  Users • Digital Artist • Accidental iOS App Developer • Gamers • Find me on: Twitter | Instagram

12 comments On Wahai Pengguna WordPress, Bersiaplah Dengan Kedatangan Gutenberg

  • Pas rilis dulu pernah coba, kayanya setahun lebih sudah. Saya tetap ndak suka yang diterapkan di self-hosting saat itu. Tapi kalau menggunakan di WP.com sepertinya baik-baik saja. Kadang jadi heran sendiri.

    • Iya, sekarang Gutenberg sudah banyak berbenah.
      Tapi kayaknya masih belepotan juga kalau diakses versi mobile. Tergantung theme-nya juga mungkin ya Bli? Sekarang theme wordpress kudu ada syarat Gutenberg ready 😀

  • saya sendiri dari bulan kemarin mulai pake plugin gutenberg sampai sekarang. Ya meskipun masih sering muncul bug, terutama dengan beberapa plugin, saya tetap kekeuh make gutenbert. Lebih enak soalnya. hehe

    • Iya, bagi blogger konvensional kayak kita ini ya makin nyaman. Nulis jadi lebih bebas distraksi.
      Semoja aja nanti pas update WordPress terbaru, Gutenberg dah maksimal coding-nya.

  • Enak ya pengguna wordpress banyak page builder… Kalau di blogspot ada yang punya kualitas seperti gutenberg gak ya?

    • Untuk yang setara ada kanyaknya mas. Coba aja ketik ‘blogazine blogspot’ di google, nanti muncul tutorial2 page builder versi blogspot.

  • In some cases, gutenberg ini bagus dan mnrtku sih oke2 aja mas. Memang tujuannya lebih ke page builder. Skrg kan mau ndak mau, semua pengguna wp akan diarahkan ke sini. saya sendiri blm maksimal nguliknya. masih biasa aja makenya.

    • Iya mas. Sepertinya nanti kita dituntut untuk terbiasa melihat postingan blog2 WordPress ‘penuh warna’ 😀
      Tapi sepertinya untuk blog ini saya bertahan dengan editor klasik dulu. Lihat perkembangan. Kalau udah stabil baik dari segi theme maupun SEO, baru saya berani pakai. Untuk di blog personal, Gutenberg akan saya maksimalkan untuk bahan eksplorasi.

  • Pernah coba, sejauh ini masih lebih suka yg klasik.

  • Udah nyobain Gutenberg, konsepnya bagus tapi sebaiknya bebaskan dulu dari bug-bug yang masih ada dan terus nambah sampe saat ini.

    Padahal tidak semua orang membutuhkan editor ala page builder, banyak yg ngeluh terutama blogger minimalis dan blogger usia sepuh, ketika nanti Gutenberg jadi bagian core WP maka menulis postingan sudah tak sesimpel dulu.

    Kalo saya pribadi, lebih setuju kalo Gutenberg tetap sebagai plugin. Karena alasan banyak orang memilih WP karena simpel dan mudah digunakan.

    • Bagi kita2 generasi sepuh (uhuks) mungkin betul juga. Ke-simpel-an adalah sesuatu yg sdh begitu nyaman di WordPress.
      Entah mungkin nanti ketika update WP terbaru beneran pakai Gutenberg dan (malah) mem-plugin-kan editor klasik..

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer