Menjenguk Kepingan Surga di Ilaga (Lagi)

Sepertinya baru kemarin saya ke Ilaga, dan di perjalanan kali ini, Ilaga yang dulu saya kenal pun sama sekali tak berubah. Masih selaksa surga.

Namun tidak dengan penerbangannya.

Meski melewati rute yang sama, sensasi menyusuri ketinggian awan di pegunungan Sudirman kali ini terasa berbeda. Karena sejak meninggalkan Bandara Timika dan setelah melewati zona climbing pesawat, hampir sebagian besar waktu perjalanan dihabiskan dengan bengong melihat kabut putih. Stres? Ya. Tapi pilotnya santai saja tuh main GPS…

pesawat ke ilaga

Dan setelah sekitar tiga puluh menit (yang terasa satu abad) mengudara, pesawat komersil berbaling-baling tunggal itu pun meluncur mulus di bandara Ilaga.

Di sela-sela sibuknya bandara pagi itu, saya dan tim sibuk pula mengatur strategi. Mengingat kami hanya diberi waktu lima hari untuk survey topografi jalan sepanjang lima kilometer, mencari tempat menginap dan kordinasi dengan pihak berwenang adalah hal pertama yang harus segera dicari solusinya.

Pucuk dicinta ulam tiba, bersama kami di bandara ada seorang konsultan yang sedang mengantar kepergian rekannya kembali ke Timika. Pak Noya namanya. Seorang humoris asal Ambon berbadan tegap itu menawarkan mess tempatnya bernaung tuk menjadi base camp kami.

orang orang ilaga

This is a miracle. Apalagi setelah ngobrol panjang lebar, beliau juga ingin ikut serta dalam kegiatan tim. Dan tak butuh waktu lama, kami pun bergegas memboyong semua peralatan tempur ke mess dan selanjutnya menuju kantor dinas setempat untuk kordinasi.

dinas pu ilaga

Mumpung masih setengah hari, tim memutuskan langsung menuju titik nol ruas-ruas yang akan disurvey. Yah, selain tujuan pekerjaan, modus lainnya yaitu ingin segera melepas penat dengan menikmati pesona ibukota Kabupaten Puncak Papua ini. Teman satu tim asal Bandung yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Ilaga pun begitu bersemangat. Hawana leuwih tiis katimbang Lembang euy, katanya 🙂

Tapi kegirangan itu tak berlangsung lama. Menjelang senja dan kabut mulai turun menyelimuti lansekap kota, ia menggigil kedinginan. Tiga rangkap kaus, sweater dan jaket kulit yang dipakai sepertinya masih kurang untuk hawa dingin versi Ilaga. Kalah dong sama saya yang meski kurus tapi cuma pakai kaus plus sweater *lol.

suhu dingin di ilaga

Malam pertama itu perjuangan.

Well, kiasan itu benar adanya untuk setiap kondisi. Selain teman saya yang berjuang menahan terjangan dingin, saya pun akhirnya ikutan berjuang menahan suara ngorok saat dia tertidur pulas. Ya salaam 🙁

Selanjutnya, sisa empat hari yang tersisa kami manfaatkan untuk tancap gas mengejar target survey. And here the shots!

jalan kota ilaga

suku dani ilaga

Keindahan pegunungan tengah Papua memang tak ada duanya. Seperti di Yahukimo, Ilaga juga memiliki jalur wisata tracking. Namun bedanya, di sini jalur track-nya lebih resmi dan harus melewati pos pendaftaran khusus. Maklum, yang datang untuk mencicipi jalur track itu kebanyakan turis asing. Mereka diharuskan membawa helper dari Ilaga demi keselamatan menuju satu dari tujuh atap dunia, atau yang kesohor dengan nama The Seven Summits.

pengukuran jalan di gunung

Saat itu saya sempat berpikir, apa jadinya ya jika suatu saat nanti Ilaga menjadi salah satu ikon wisata negeri ini, khususnya untuk sektor eco-tourism seperti yang ada di Pegunungan ArfakSemua aspek ada disini lho. Alam natural, budaya lokal kental dan dekat dengan puncak gunung tertinggi di Indonesia.

Bukannya promosi atau kampanye, tapi semenjak kepemimpinan ditampuk Pak Jokowi, banyak perubahan yang menjadikan Ilaga tampak semakin dinamis. Gagasan BBM satu harga misalnya, itu memang bukan isapan jempol belaka. Disini yang dulu harga bensin seliter 50 ribu, sekarang harganya sama dengan daerah lain. Meski memang harus menunggu pesawat khusus Pertamina yang landing membawa BBM satu minggu sekali, setidaknya progress itu ada.

Dan untuk impian wisata tadi, sepertinya itu harus menunggu lebih lama. Selain jalan yang belum juga tembus menuju Timika, prasarana yang ada sama sekali belum memadai. Lha gimana, mau tahu harga sewa penginapan di sini? Satu juta semalam bo!

anak anak ilaga

Mungkin hanya impian, entahlah. Tapi dari obrolan dengan penduduk setempat dan kicauan anak-anak di Ilaga, visi ke arah sana itu ada. Ini yang membuat saya merenungkan kembali makna sila ke-lima Pancasila: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ya, tantangan yang ada di depan seharusnya bukanlah sebuah masalah pelik jika pengemban amanat di Jakarta sono mau mendengar dan turun langsung ke lapangan. Bukannya malah nyebar kabar nggak jelas dan ngurus keselamatan politik sendiri-sendiri. Setuju brader?

pesawat rute timika ilaga

Setelah survey selesai dan kembali mengusap keringat di panasnya kota Timika, dalam hati, saya berbisik lirih…

Farewell Ilaga, kapan pun dibutuhkan, aku kan datang.

Freelance Engineer • Books • WordPress •  Users • Digital Artist • Accidental iOS App Developer • Gamers • Find me on: Twitter | Instagram

8 comments On Menjenguk Kepingan Surga di Ilaga (Lagi)

  • Itu pilotnya mas bule itu ya? Berani ya nyetir pesawat sendirian, hahaha.
    Btw, lihat sepintas dari foto-foto di sini, Ilaga benar-benar kepingan surga. Duh, kapan ada kesempatan (dan rejeki tentu saja) ke sini ya. Bakalan emoh pulang ke Jawa kayanya hahaha.

    • Iya bung, beliau tipe-nya single fighter. Heran juga kok nggak pake co-pilot 😀
      Tenang aja, kalau bung Eko kesini saya dah sediain tempat nginap sepuasnya. Mau nggak pulang setahun jg gapapaa hahaha

  • Impian lama bisa dtg ke papua ini.. Dulu papa kerja di LNG Tangguh di sana. 30 hr kerja, 30 hr pulang. Tp kita wkt itu ga ada yg tertarik utk dtg. Skr aku nyesel.. Tapi list hrs bisa melihat tempat2 di papua, masih ada :). Moga2 thn depan bisa kesana

    • LNG Tangguh di Papua Barat itu ya?
      Amiiin, setiap ada niat pasti ada jalan. Semoga dimudahkan mbak 🙂

  • Hai Darin, pesawat komersil ke Ilaga itu pakai maskapai apa?
    Ada di situs online apa kalau mau beli tiketnya?

    • Ada beberapa maskapai mbak: Airfast, Dimonim, Jonlin, Susi Air. Beli tiketnya langsung di bandara, dan itu harus pesan jauh-jauh hari mbak. Misal seminggu sebelumnya, karena yang diprioritaskan naik ke Ilaga itu berupa kargo/barang.
      Kalau mbak vicky butuh tiket ke Ilaga, nanti kalau sudah di Timika hubungi saya. Saya ada teman di bandara yang bisa bantu carikan tiket kalau2 mbak ingin cepat.

  • Irian memang gak perlu diragukan lagi pasti banyak spot yang keren-keren di sana.. kalau jadi tempat wisata yang eco-tourism pasti menarik sekali.. Gak ngebayangin dinginnya kayak apa ya disana? Apa lebih dingin daripada Dieng?

    • Saya belum pernah ke Dieng mas, jadi belum tau perbandingannya begaimana 😀
      Ya, di papua alamnya masih asri. Tapi ya butuh tantangan tersendiri untuk mengembangkan parawisata di sini.

Leave a Reply to Fanny F Nila Cancel Reply

Your email address will not be published.

Site Footer