Apa yang terlintas di benak kita saat mendengar kata ‘munafik’? Suka berdusta, ingkar janji, dan kerap berkhianat? That’s right. Sejak bangku SD kita sudah hafal teori itu.

Pertanyaan lain, apakah salah jika kita mendustai kenyataan demi berusaha untuk mengejar tujuan yang lebih baik? Apakah tak dibenarkan kala kita ingkar pada janji-janji yang dulu pernah terucap dan kemudian melakukan hal yang sama sekali berbeda seratus delapan puluh derajat dengan janji tersebut? Dan apakah sebuah kekeliruan bila kita berkhianat pada sifat pesimis yang selama ini setia menemani, dan beralih mengakrabi sifat optimis?

Simpan dulu jawabannya, dan perhatikan kalimat berikut:

Bukankah hampir kebanyakan blogger dalam berbahasa itu kebanyakan suka begitu (munafik)? Penuh dengan basa-basi, kurang terus terang, suka meng-hidden teks sasaran yang dibicarakan, dan bahasanya cenderung hanya berputar-putar, bermain-main dalam argumen bahasa penuh metafora.

Untuk lebih jelas, silahkan membaca artikel lengkapnya di sini agar bahasan permasalahan tidak melebar, karena saya di sini hanya sekedar menyampaikan opini dari perspektif saya sendiri.

Nah, sekarang Anda boleh menjawab pertanyaan-pertanyaan di paragraf dua tadi. Sudah? Kemudian, bayangkan jika karena jawaban-jawaban Anda tersebut, Anda dicap sebagai orang yang munafik.

mu.na.fik
[a] berpura-pura percaya atau setia dsb kpd agama dsb, tetapi sebenarnya dl hatinya tidak; suka (selalu) mengatakan sesuatu yg tidak sesuai dengan perbuatannya; bermuka dua: ia tidak pernah berpura-pura, selalu jujur dan tidak – (KBBI)

Munāfiq atau Munafik (kata benda, dari bahasa Arab: منافق, plural munāfiqūn) adalah terminologi dalam Islam untuk merujuk pada mereka yang berpura-pura mengikuti ajaran agama namun sebenarnya tidak mengakuinya dalam hatinya. (Wikipedia)

Ok, agar tak merembet jauh ke ranah kerohanian, saya istilahkan saja kata ‘agama’ itu dengan ‘pegangan atas suatu keyakinan’.

Keyakinan Seorang Blogger
Saya yakin setiap blogger adalah individu yang unik. Itu harga mati. Ada yang unik dengan topik bahasannya, desainnya, gaya tulisannya, bahkan unik karena sering copy paste dan kerap memainkan auto generated content. Dan saya juga yakin setiap blogger memiliki aturan (rules) sendiri-sendiri berkenaan perihal bahan-bahan mentah yang kelak menjadi artikel yang di-publish di blognya, karena itu berkaitan erat dengan keterbatasan ilmu dan wawasan yang dipunyai.

Contoh, saya dulu memiliki keyakinan bahwa WordPress itu susah, dan bahkan hingga kini masih tak begitu mahir memainkan platform blog ini. Nah, lalu kenapa saya sekarang akhir-akhir ini sering mengulas tentang WordPress? Apakah karena saya sok pintar? Nope. Itu dilakukan semata-mata karena saya memiliki keyakinan baru tuk bisa dan mampu mendalami platform ini dan bermaksud mendokumentasikan progress-nya di artikel blog. Thus, apa dengan meninggalkan keyakinan lama dan memeluk keyakinan baru itu berarti menjadikan saya orang yang munafik?

Tips Menjadi Blogger Sukses

Hmm, sepertinya agak riskan juga bila disamakan dengan konteks keagamaan. Tapi begini, kalau saja semua blogger memiliki sebuah keyakinan dan sekuat tenaga berusaha agar produk artikelnya tak melenceng dari keyakinan tersebut, wah, repot dong blogger yang punya keyakinan bahwa dirinya newbie? Seumur-umur progress-nya bakal mandeg karena takut dicap sebagai blogger munafik.

Munafiklah Dengan Berdusta Pada Kenyataan
Ya, salah satu yang dianjurkan – menurut saya lho – untuk menjadi blogger sukses adalah dengan berdusta pada kenyataan. Kenapa? Berikut beberapa alasannya:

  • Tak harus menunggu menjadi mahir menulis dulu, baru menjadi blogger. Maka munafiklah. Pura-pura saja Anda sudah pintar menulis and start blogging. Dustai kenyataan bahwa Anda tak mahir menulis.
  • Tak harus menunggu menjadi jago ngutak-ngatik blog, baru menjadi blogger. Maka munafiklah. Pura-pura saja Anda sudah pintar coding and start blogging. Dustai kenyataan bahwa Anda nol besar dalam bahasa pemrograman.
  • Tak harus menunggu waktu luang, baru mulai ngeblog. Maka munafiklah. Pura-pura saja Anda punya banyak waktu luang and start blogging. Dustai kenyataan bahwa Anda memang benar-benar tak memiliki waktu sama sekali tuk mengurus blog.
  • Anda tambahkan sendiri.

Perspektif ini memang tak lazim. Namun saya merasakan sendiri saat melihat gaya tulisan saya yang mulai berubah-ubah. Dari nyeplos, menjadi serius, kembali nyeplos. Dari santai, menjadi agak kaku dan terikat pada EYD, kemudian santai lagi. Yep, anggap saja saya sudah menjadi salah satu korban kemunafikan *hehe*.

Lalu Apa?
Keep the proggress, itu kuncinya. Biarlah tulisan kita terkesan basa-basi, kurang berterus terang, tata bahasa berputar-putar dan penuh kiasan serta metafora. Karena hal-hal itu lumrah adanya dalam sebuah proses menuju keyakinan baru. Apa keyakinan baru itu? Ya cuma kita sendiri yang tahu. Bisa berupa sukses menjadi bloggerpreneur, penulis buku, desainer blog, atau.. mungkin ada yang punya keyakinan tuk menjadi the next seleblogger? Who knows?

Syaratnya mudah saja, jadilah munafik! 🙂

— * —

PS : Artikel ini bukan untuk meng-counter tulisan di blog diptara.com, juga mohon dimaafkan bila penggalan kalimatnya dipakai untuk menjelaskan topik bahasan artikel kali ini, dan bahkan keluar dari konteks asal (kritik-mengkritik). Sekali lagi maaf, karena ini sekedar perspektif subyektif dari saya.