Konon dalam satu penelitian yang menganalisis negara-negara dengan penduduk paling bahagia di muka bumi, menempatkan setidaknya empat negara di daratan Skandinavia di urutan paling atas. Norwegia, Swedia, Denmark dan Finlandia adalah beberapa negara yang dijadikan patokan. Dan saat pertama kali saya membaca perihal ini, saya pun tak meragukan keabsahannya dan langsung mengamini. Ya, siapa sih yang tak ingin hidup di negara dengan  pendapatan perkapita besar, tatanan negara apik, berpanorama indah dan nyaris tak pernah diguncang prahara bencana dan teror keamanan?

Namun anehnya, di kesempatan lain saya pernah juga membaca sebuah kolom artikel, ternyata hal itu tak sepenuhnya benar.

Sang kolumnis pada artikel tersebut sempat mewancarai seorang berkebangsaan Denmark dan menyatakan kekagumannya karena orang tersebut hidup di negara yang disebut-sebut berpenduduk paling bahagia di muka bumi. Apa responnya?

Orang Denmark tersebut malah balik menyaluti Indonesia yang dilihatnya sebagai sebuah negara dinamis dan mampu survive. Ia bahkan tercengang saat mengetahui bahwa dalam kurun waktu yang singkat setelah kejatuhan orde baru, Indonesia telah berganti presiden selama empat kali dan – mengabaikan kecilnya pengaruh Timor Leste –kesatuan negara tetap utuh hingga sekarang. Sesuatu yang mustahil terjadi di belahan bumi manapun!

Tambahnya lagi, penelitian itu tak sevalid kenyataannya. Di Denmark, pajak diberlakukan sangat tinggi, yaitu hampir 50 persen dari penghasilan perbulannya. Ini memicu permintaan gaji yang mau tak mau harus disesuaikan bila ingin hidup layak. Imbasnya, angka pengangguran cukup tinggi dan mengakibatkan pemerintah mengalokasikan sebagian besar anggarannya untuk mensubsidi para penganggur.

Well, membandingkan kedua kenyataan di atas, saya jadi ingat kembali satu ungkapan Jawa, wang sinawang. Ya, kita selalu menganggap orang lain lebih bahagia, atau seandainya kita jadi orang tersebut maka kita akan lebih berbahagia. Seorang petani merasa akan lebih berbahagia bila menjadi pemilik tanah. Pemilik tanah merasa akan lebih bahagia jika menjadi pedagang. Pedagang merasa hidupnya akan senang jika ia menjadi pengusaha pabrik. Pengusaha pabrik melihat betapa bahagianya menjadi seorang petani yang hidupnya damai dan tak pernah dibebani tekanan tanggung jawab pekerjaan.

Definisi kebahagiaan memang sulit dinyatakan dalam angka yang pasti. Dalam satu buku psikologi populer menyebutkan, ini disebabkan karena definisi kebahagiaan yang selalu berubah dari waktu ke waktu, juga berbeda pandangannya dari orang yang satu dan yang lain. Contoh kecil, kemarin lusa mungkin kita berfikir akan berbahagia bila memiliki seorang kekasih. Setelah tercapai dan ternyata tak berjalan dengan mulus, kita lalu berfikir ulang dan menyatakan akan lebih bahagia bila seandainya tetap sendiri.  It’s complicated. Definisi kebahagiaan pun berubah seiring waktu.

Dan selain contoh rangkaian petani-pengusaha pabrik di atas, arti kebahagiaan yang berbeda di masing-masing individu yang lebih nyata dan dekat pun ada pada puncak-puncak podium di setiap perlombaan. Sebuah riset yang meneliti tingkat kepuasan atlit-atlit yang berlaga di Olimpiade Barcelona tahun 1995 silam memberi kesimpulan yang menarik, yaitu bahwa peraih medali perunggu ternyata lebih puas dan berbahagia daripada peraih medali perak. Apa pasal? Peraih medali perunggu merasa bahagia karena meraih medali daripada tak mendapatkan medali sama sekali. Sedang peraih medali perak tak merasa bahagia dan terus menerus dibebani penyesalan karena kesalahan kecilnya di pertandingan final ia tak mampu meraih emas.

Mungkin itu sebabnya Rossi begitu sumringah dan jadi pusat perhatian meski berada di peringkat ketiga dibawah Stoner dan Dovizioso saat GP Prancis silam. 😀

Nah, pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apa sih arti bahagia yang sesungguhnya itu?

Ada yang berpendapat bahwa kita akan berbahagia yang sesungguhnya bila kita menerima dan mensyukuri apa yang kita miliki tanpa membandingkannya dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Setuju? Pertama kali pun saya akan setuju. Tapi ada pula yang menyangkal hal tersebut, karena jika itu yang jadi pedoman maka akan menggiring kita pada keadaan statis dan cenderung melalaikan kerasnya arti berusaha. Kita akan dengan mudah ‘membahagiakan’ diri dengan keadaan ‘apa adanya’ sekarang dan mengaku telah berusaha, padahal mungkin usahanya jauh dari kata maksimal.

Ngapain bermimpi jadi direktur? Toh dengan jadi karyawan juga sudah merasa bahagia. Titik.

Salahkah? Tidak juga. Seperti yang tertulis di atas, pendapat masing-masing individu tentang arti kebahagiaan akan berbeda dan relatif satu sama lain. Tapi yang pasti, kita adalah mahluk cerdas yang dikaruniai anugerah tuk memilih. Jika dengan kenyataan yang sekarang dijalani kita sudah memilih tuk merasa bahagia, kenapa tidak? Dan bila kita memilih tuk belum merasa bahagia dan berusaha semaksimal mungkin tuk menciptakan kenyataan lain yang dapat membahagiakan kita, bersiap saja tuk menyingsingkan lengan baju setinggi mungkin.

So, di hari ini, apakah sobat memilih untuk berbahagia, atau belum? Make your choice! 🙂