Media jejaring sosial online kini tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Setelah kisah kesuksesan Obama yang memanfaatkan Facebook sebagai media kampanye hingga meloloskannya ke puncak pemerintahan AS, semua pandangan dunia pun tertuju pada keampuhan media yang satu ini. Perspektif mulai bergeser, dari yang menganggap jejaring sosial hanyalah sebangsa sampah orang-orang exhibisionis, sampai pada akhirnya sadar, ternyata media ini bisa pula dimanfaatkan tuk meraih profit, baik materi maupun ketenaran.

Sebagai referensi, kita intip beberapa fakta berikut yang diambil dari berbagai sumber:

  • Facebook kini digilai lebih dari 500 juta user dari seluruh belahan dunia (jika dijadikan sebuah negara maka terbentuk 3 buah negara baru berpopulasi besar), dan 100 juta diantaranya aktif mengaskes secara mobile, dikunjungi rata-rata 55 menit perhari, 6 jam 50 menit perminggu, sebanding dengan selama 1,2 hari perbulan, dan dalam sebulannya menyebarkan lebih dari 30 milyar kepingan informasi berbentuk link, cerita, posting blog, notes, album foto, dan lain-lain.
  • Twitter berhasil meraih tweet ke 10 milyar pada bulan Maret 2010 kemarin lewat lebih dari 110 juta pengguna (80 persen diantaranya online-mobile), dan terdapat 600 juta mode pencarian untuk akun, tweet, dan sebagainya.
  • YouTube perharinya memanjakan 2 milyar pengakses, permenitnya mengunggah berkas video berdurasi 24 jam, dan dibutuhkan umur lebih dari 1000 tahun bila ingin melihat seluruh video.
  • Foursquare di tahun pertama kemunculan telah mencetak 1,4 juta venues dan 15,5 juta check-ins oleh lebih dari 500 ribu user.
  • Fakta bonus: 90 persen pengguna internet tahu dan menggunakan setidaknya satu jejaring sosial, plus rata-rata memiliki 195 teman yang terhubung.

Sungguh fantastik.

Social media perlahan menjadi sebuah trend, dan tajinya akan terus menyebar. Ia berevolusi secara dinamis, semakin membuai user dengan kemudahannya, dan bahkan ia mampu menemukan celah-celah yang tak bisa dimasuki media lain. Buktinya, kini sudah jarang sebuah media tak bersentuhan dengan jejaring sosial. Mengintegrasi televisi sehingga dapat menuai polling pemirsa, mempercepat akselerasi dunia advertising/periklanan, menunjang profil sebuah korporasi/perusahaan, adalah sebagian kecil peran jejaring sosial di dunia informasi abad ini.

Prediksi pun bergulir. Akankah media jejaring sosial online akan tetap menjadi mainstream di tahun-tahun mendatang?

Menilik prestasi di tahun 2009, tak salah jika dunia masih menganggap social media adalah salah satu hal yang diminati di tahun ini, atau mungkin secara sadis bisa dikatakan media jejaring sosial online telah membunuh segala bentuk pertukaran informasi konvensional. Sehingga nanti tak lagi mengherankan jika arus informasi akan lebih diminati dan diakses dari timeline Twitter, wall Facebook dan gambar bergerak YouTube.

Nah, sekarang, bagaimana perbandingan pertumbuhan social media dengan blog? Meski diakui sendiri oleh Technorati bahwa pertumbuhan blog kini lebih lambat dari era keemasannya, blogging setidaknya masih diminati, mengingat telah ada 181 juta blog yang terdaftar di direktori utama Technorati, 77 persen pengguna internet membaca dan mengunjungi blog, dan satu dari lima blogger selalu meng-update konten setiap hari. Well, tiga fakta utama yang tentunya kalah pamor jika dibanding gegap gempitanya ekspansi media jejaring sosial online di atas.

Tren blog memang melambat, tapi bukan berarti musnah. Nasibnya bisa jadi sama dengan media informasi lain yang dengan terpaksa berintegrasi dengan jejaring sosial. Halaman fans Fecebook, promosi posting blog lewat Twitter, atau menyebarkan tutorial blog via YouTube, adalah jenis-jenis integrasi dan penyesuaian yang mau tak mau diterapkan di blog. Jika tidak, apa yang dikatakan Alexander Graham Bell akan menjadi kenyataan…

Sometimes we stare to long at a door that is closing that we see too late that is open (kadang kita menatap terlalu lama pada pintu yang kita anggap tertutup, padahal pintu itu terbuka)

Benarkah begitu?