Melongo di Mamberamo

Berjejal di tepian dock pelabuhan penumpang Jayapura, saya dan tim menunggu konfirmasi pembelian tiket dari staf administrasi. Sebuah kapal besar menjulang tepat di sisi belakang loket yang hanya berbentuk meja berteduhkan payung tenda. Cantika Lestari, begitu nama kapal itu. Memang cantik. Bernuansa putih dengan akses garis merah sporty, kehadirannya makin mencolok tertempa terik matahari.

Cantika Lestari akan membawa saya dan tim menuju Kasonaweja, sebuah distrik di Kabupaten Mamberamo Raya. Ada kegiatan survey proyek pembangunan jalan yang menghubungkan titik nol ke distrik Trimuris.

pelabuhan penumpang jayapura ke mamberamo

Sebelumnya, saya sudah pernah menggunakan moda transportasi laut ketika terombang-ambing selama tiga hari dua malam pulang dari Nabire. Dan di pengalaman kedua ini, kabarnya perjalanan cukup singkat, hanya satu hari saja menuju lokasi. Well, mengingat saya cukup tersiksa di pengalaman pertama, berkardus-kardus logistik pun diboyong tuk jadi penghibur.

Kapal Cantika Lestari 88 memiliki tiga level lantai. Lantai satu gabungan antara deretan ranjang tingkat penumpang dan kargo, lantai dua untuk kamar-kamar penumpang VIP, sedang lantai tiga khusus kamar kru dan ruang kemudi. Dan seiring lolongan klakson yang memekakkan, perjalanan menyisir samudera pun dimulai.

Menjelang siang di keesokan harinya, saya dan tim berlabuh di Trimuris. Lokasi kegiatan – ternyata – berada di desa Wini. Cukup jauh dari pusat distrik Kasonaweja. Jadi untuk menghemat waktu, kami pun memakai perahu motor.

pelabuhan trimuris kabupaten mamberamo raya

Disinilah saya melongo. Seumur-umur baru lihat sungai yang begitu besar!

Dengan panjang aliran 670 kilometer dan daerah aliran sungai seluas 138000 kilometer persegi, Sungai Mamberamo pantas dinobatkan sebagai sungai terpanjang ke-7 di Indonesia. Dan jika melihat lebarnya yang mencapai 520 meter-an, sungai ini konon adalah yang terlebar.

Cocok dengan namanya Mamberamo, yang dari bahasa suku Dani: mambe berarti besar, dan ramo yang berarti air.

Dari cerita-cerita penduduk lokal, ikan di sini sangat berlimpah. Wajar saja ya, disamping kondisinya masih sedemikian alami, nelayan yang ada pun terhitung sedikit. Berhembus kabar, jika menyusur sampai ke hulu, kita akan menemukan beberapa suku pedalaman yang tak terhubung dunia luar.

Conservation Internasional (CI) tahun 2008 saja melaporkan ada lebih dari 30 spesies baru ditemukan di kawasan ini. Spesies-spesies baru itu terdiri dari tikus berukuran raksasa atau lima kali ukuran tikus kota, kanguru pohon berbulu emas, echidna berparuh panjang, burung pemakan madu, kanguru pohon berbulu putih, burung elang kecapi, burung punjung paruh emas, burung nuri daun, kura-kura raksasa berkulit halus, spesies katak, kupu-kupu delia, tanaman raksasa, dan palem.

Di sepanjang aliran yang saya lewati pun menggambarkan hal tersebut. Bunyi hewan bersahutan dan berbagai macam burung dengan bentuk dan warna yang unik berkelebatan ditingkah deru suara motor. Sempat ada gerakan di semak belukar, dan teman penduduk lokal sontak menunjuk, buaya *what the…..*

Ya, sungai Mamberamo dikenal juga sebagai sungai buaya. Ada dua jenis, yaitu buaya muara dan buaya air tawar (jangan tanya buaya darat ya). Bahkan di desa tertentu ada penduduk setempat yang khusus berprofesi sebagai pemburu buaya.

Syahdan, setelah setengah jam ajrut-ajrutan, sampai juga di desa Wini.

kasonaweja kabupaten mamberamo

Tim langsung bergerak ke titik awal survey dengan menaiki dump truck karena jaraknya sekitar 10 kilometer-an dari camp.

Tiga hari berlalu, saatnya tim untuk pulang. Dengan rute yang sama, kami berperahu motor lagi ke arah Trimuris dimana kapal Cantika Lestari akan bersandar. Namun pucuk dicinta ulam tiba, bensinnya habis di tengah jalan sodara-sodara! Jadilah kami terkatung-katung mengikuti arus sungai selama satu jam-an menuju desa terdekat yang memiliki akses jalan ke Trimuris (swear, itu lamanya serasa seabad!).

rute jayapura trimuris mamberamo

Alhamdullilah-nya, seperti hukum law of attraction, semesta pun mendukung keprihatinan kami. Disaat sibuk mencari tempat di kabin penumpang, seorang kru kapal menawarkan kamar untuk disewakan. Yeah, that’s great!

Sesampainya di Jayapura, apapun yang terjadi, saya takkan pernah melupakannya.

Yes, Mamberamo, sungai yang sukses membuat saya melongo.

ruang nahkoda kapal cantika lestari

Have a good time, friends.

Seorang freelance engineer penyuka konten tentang teknologi dan desain, terutama seputar web development/UX design. Yuk, saling sapa di Twitter!

4 comments On Melongo di Mamberamo

Leave a reply:

Your email address will not be published.