Mengenal 3 Jenis Phobia Yang Sering Menjangkiti Blogger Dan Cara Mengatasinya

Ngeblog itu gampang.

Ada ide, tulis, draft, edit sana sini, publish dan promosi. Sebuah rangkaian proses yang kerap dilewati oleh semua yang mengaku blogger, baik musiman maupun yang sudah tahunan.

Dan bila mengacu pada teori 10000 jam untuk menjadi ahli, tentu dengan makin sering mekanisme itu diulang, seorang blogger akan lebih piawai dalam mengelola blognya.

Benarkah seperti itu?

Saya jadi ingin bercerita sedikit. Blog ini kembali saya jamah sejak awal bulan Oktober, dan selayaknya blogger yang tengah dirundung kangen *tsah* saya pun sibuk mengoprek posting-posting lama yang ada di dashboard. Dan saya melongo ketika membuka tab draft, lha kok banyak betul postingan yang nongkrong di sana?

Saya telusur, ada beberapa artikel dengan ide mentah, ada pula yang sudah lumayan terstruktur, bahkan ada yang sudah pantas dipublish tapi kok nggak dipublish-publish?

Bayangan saya saat itu – yah – mungkin lagi nunggu waktu yang tepat, dan asumsi blog yang cepat panas akan cepat dingin terlanjur lengket di ingatan. Namun benak ini masih penasaran, adakah sesuatu yang lebih spesifik dari itu?

Saya pun kemudian menganalisa, membuat hipotesa dan menyimpulkan *hwow* bahwa setidaknya ada tiga hal yang menjadi sumber kecemasan yang membuat proses blogging maju mundur (tapi sama sekali nggak syantik).

Saya sebut saja 3 phobia blogger.

Apa sajakah itu? Yang pertama:

Menulis sempurna

Perfeksionis

Yang selalu ingin terlihat sempurna tolong tunjuk tangan? *celingukan*

Ya, entah tujuan menulis hanya untuk kesenangan pribadi maupun sharing hal yang bermanfaat, sifat perfeksionis ini kadang datang mengganggu.

Sempurna dalam konsep tulisan, lalu mengerucut ke tata bahasa, kronologis paragraf, urutan kalimat, pemilihan kata.. sesudah itu melebar ke topik, ke theme blog, lalu membandingkannya dengan blog lain yang kelihatannya mengkilat abis *haduuw*

Kalau diturutin, tuntutan untuk perfect itu nggak bakal habis-habis. Artikel dirombak lagi, disusun ulang, dilamunin.. dan ujung-ujungnya? Kita down. Artikel pun tak jadi diposting dan harus rela jadi penghuni folder draft.

Bagaimana cara mengatasinya?

..sempurna itu hanya milik Tuhan dan Andra And The Backbone..

Pernah baca artikel yang menurut Anda – ih -biasa tapi blognya asyik-asyik aja? Coba pikir kenapa?

Lha iya, narablog nya asyik aja kok. Karena ngeblog adalah sebuah proses yang terus menerus diasah, maraton – bukan sprint – dan mitos ‘kesempurnaan’ itu sebangsa propaganda dari pikiran kita sendiri.

Dan juga, sempurna itu tidak jelas standarnya. Yang ada cuma gambaran atau visi yang kita buat secara pribadi. Jadi tak ada salahnya lah jika kita terus mencoba untuk memproduksi sesuatu dan membentuk persepsi bahwa kita terus melaju di track yang benar ke arah sana.

So, just publish it.

Itu phobia yang pertama. Yang kedua:

Trauma

Sudah capek-capek nulis dan begadang semaleman dan publish.. trus, nggak ada respon apa-apa. Sehari, dua hari, seminggu.. beneran ini nggak ada yang baca?

Dari sisi psikologis, ini memang berat, terutama bagi blogger-blogger penganut mi instan.. eh, maksudnya yang kepingin hasil instan. Begitu publish, wutt, banyak komentar, bejibun share dan nangkring di pejwan.

Kekecewaan pun merembet ke fakta bahwa selama ngeblog, apapun usaha yang dilakukan untuk meningkatkan mutu tulisan tak ada hasilnya. Trafik statis. Kolom komentar serasa kuburan.

Bila dibiarkan berlanjut, phobia jenis ini hanya akan menghabiskan energi, yang seharusnya dipakai untuk menghasilkan tulisan-tulisan berikutnya.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Every writing has its own reader

Coba ditelisik lagi, adakah yang bilang Anda gagal? Atau, hey, artikelmu gak mutu. No?

Ya, setiap tulisan itu ada segmen pembacanya sendiri-sendiri. Kita suka nulis curhat ya akan menarik di mata pembaca yang punya kesamaan cerita. Kita doyan nulis tentang traveling ya keren di mata pembaca yang satu hobby.

Terlalu ambisius jika kita berusaha memuaskan semua jenis pembaca. Itu non sense.

So, apapun hasil tulisannya, publish!

Dan phobia yang ke-tiga yaitu:

Tips lancar menulis

Minder

Ini phobia yang tak kentara namun dahsyat dampaknya.

Minder alias rendah diri. Ya, apalah daya sebelum publish postingan kita sempat jalan-jalan dan – wuih – bersua blog-blog bagus. Kontennya mantep-mantep. Dan makin jauh jalan-jalannya makin banyak ketemu blog aduhai.

Lalu kemudian melihat tulisan sendiri, alamak, kok berasa amatiran. Mau nekat dipublish takut ada yang bilang datanya kurang greget, cuma njiplak, dan super khawatir kalau nanti artikelnya dianggap tulisan kentang.

Berikutnya, boro-boro nyari ide tulisan baru, tulisan yang ada masih di depan mata pun dipantengin, entah harus melakukan apa.

Bagaimana cara mengatasinya?

Tak ada cara lain: upgrade kemampuan diri. Perbanyak bahan bacaan, persempit perspektif blogwalking yaitu niatkan hanya untuk belajar dan bukannya membandingkan, ikuti workshop ngeblog kalau ada, dan jangan lupa, perbanyak terus jam terbang menulis.

I always start writing with a clean piece of paper and a dirty mind – Patrick Dennis

Begitulah, tiga phobia blogger versi saya yang bisa jadi pernah juga Anda alami.

Apakah phobia-phobia itu real? Tentu saja, namun efeknya tergantung dari sikap kita sendiri; apakah kita menjadikan mereka teman sekaligus tantangan atau malah membuat kita mundur.

Mundur? No way.

Bagaimana menurut Anda?

Freelance Engineer • Books • WordPress •  User • Digital Artist • Accidental iOS App Developer • Gamer • Poke me on Twitter

Leave a reply:

Your email address will not be published.