Menulis Tiap Hari Demi Myelinasi

Apa? Alien.. nasi..

No. Myelinasi.

Akar katanya dari myelin. Sebuah lapisan berbungkus saraf-saraf yang menghubungkan sel-sel pusat otak dan sel-sel yang berhubungan dengan aktivitas. Lapisan seperti kabel ini dicetus oleh Rudolf Ludwig Karl Winchow pada tahun 1854.

menulis tiap hari

Lalu myelinasi? Ini adalah gagasan yang pertama kali dikemukakan Daniel Coyle dalam penyampaian teori keterbakatan (Menulispedia, Bambang Trim).

Masih hangat sebenarnya. Karena baru di tahun 2008 fungsi myelin ini terbongkar, dari yang hanya jaringan penghubung semata, menjadi satu sarana vital dalam revolusi hidup manusia. Revolusi itu bernama Copernicus-Size Revolution.

Beberapa temuan dari revolusi yang mengagetkan itu adalah:

  • Ternyata setiap gerakan, perasaan dan pikiran yang dilakukan manusia itu ‘disetrum’ oleh sinyal-sinyal elektrik yang melaju melalui rantai jaringan saraf.
  • Adapun lapisan pembungkus rantai jaringan saraf itu disebut dengan myelin, yang memiliki peranan tuk meningkatkan pancaran, kecepatan dan tingkat akurasi pengiriman sinyal.
  • Semakin sering manusia memberi perintah dan melatih diri pada satu aktivitas, sama artinya dengan terus menerus ‘membakar’ atau ‘menembak’ sirkuit tertentu. Dengan kata lain, itu akan semakin mengoptimalkan kerja jaringan, menguatkan daya, juga memahirkan gerakan dan pikiran manusia tersebut.

Kalau dihubungkan dengan ‘kebiasaan’, tentu sangat sinkron. Bisa karena terbiasa, atau dalam pepatah Jawa: iso jalaran seko kulino.

Bagaimana dengan menulis? Bambang Trim menjelaskan:

…jika Anda hubungkan dengan menulis, myelin menulis Anda akan semakin menebal jika Anda melakukannya berulang-ulang. Jika ada yang mengatakan menulis itu gampang, itu benar adanya, karena Anda telah mengulang-ulang proses menulis sampai kemudian Anda makin cepat dan mahir.

Betul juga. Jadi maklum jika banyak penulis terkenal yang menyarankan untuk memperbanyak menulis. Seperti Caroline See dalam Making a Literary Life: Advice for Writers and Other Dreamers yang menganjurkan untuk menulis setidaknya 1000 kata perhari. Juga Stephen King yang berpetuah: if you want to be a writer, you must do two things above all others: read a lot and write a lot.

Write.. a lot.

Hubungan Motivasi dan Myelinasi

Dalam artikel terdahulu, mas Agus Siswoyo pernah menulis tentang hubungan antara menulis dan kepercayaan diri. Disitu beliau mendeskripsikannya dengan bagus: ibarat sebilah pisau tajam, bila dibiarkan tanpa dipakai, maka lama kelamaan akan berkarat. Dengan mengasah secara teratur, pisau yang semula tumpul pun bisa menjadi tajam.

Ya, itu bisa diterima, namun pertanyaan selanjutnya: apa yang menyebabkan kita untuk mengasah pisau itu dan tidak membiarkannya berkarat?

Disinilah perlu adanya motivasi. Dan kabar buruknya, myelin tak akan terbentuk begitu saja tanpa motivasi. Bukan hanya dengan angan-angan dan sugesti ‘ah, menulis seribu kata perhari gampang banget, gampang banget, gampaaang‘ lalu tetiba langsung bisa punya bakat menulis seribu kata. No.

Dalam proses myelinasi, motivasi adalah pemicu, pemantik atau pembakar. Dan Daniel Coyle menggambarkan hal tersebut dengan ilustrasi berikut:

diagram proses bakat daniel coyle
Sumber: http://www.ridingwiththewindowdown.com/wp-content/uploads/2014/05/talent-code-diagram.jpg

Ignition adalah gambaran dari motivasi. Apa alasan kita menulis? Curhat, membagi pengalaman, bagi-bagi kenarsisan? Boleh-boleh saja, dan setelah percikan api motivasi itu menyala, kita akan masuk ke dalam proses ‘Deep Practice‘. Bisa dengan jalan otodidak, atau ada ‘bimbingan’ yang dalam diagram di atas disebut Master Coaching.

Dan di dalam pusaran Deep Practice, jaringan myelin ini akan semakin menebal seiring aktivitas menulis berulang-ulang dilakukan dan dalam jangka waktu yang berkesinambungan. Mungkin sama dengan proses menghafal, tapi ini lebih cenderung ke sisi fisik (ke-prigel-an).

Jadi myelinasi harus dengan motivasi yes.

Universalitas dan Keawetan Myelin

Kabarnya, myelin tak pandang bulu dari mana kita berasal, suku apa, agamamu apa (nah loh), kaya atau pun kismin. Myelin bersifat universal. Tak ada bedanya antara manusia di belahan timur maupun barat. Yang berbeda adalah cara kita memanfaatkan jaringan tersebut.

Sebagai contoh, di masa kanak-kanak, kita tanpa sadar telah memanfaatkan jaringan myelin untuk membentuk bahasa, dimana kita melatih diri dan menirukan bahasa ibu. Saya misalnya. Karena sedari kecil berlatih dan mendengar ibu berbicara bahasa Sunda, maka bahasa tersebut terus melekat meski seiring bertambahnya usia mempelajari bahasa lain, seperti Bahasa Indonesia dan Jawa.

Sama juga dengan menulis. Dari sekolah dasar hingga bangku perkuliahan, kita sebenarnya tengah ditempa untuk myelinasi menulis. Tapi ya begitulah, karena menulis hanya demi kebutuhan dan bukan keinginan, jadinya kadang kita merasa kikuk bila ingin menulis semacam curriculum vitae atau proposal agustusan.

Inilah yang jadi topik bahasan menarik selanjutnya: apakah jaringan myelin bisa hilang?

Bambang Trim menjelaskan:

Sekali insulasi (pelapisan) terbentuk, ia tidak dapat dibongkar lagi. Ibaratnya tato permanen yang sulit dihapus dari kulit.

Wew. Tato.

Bisa jadi benar adanya. Kalau kita sudah pernah mahir naik sepeda motor, tentu mudah saja langsung ikut touring meski bertahun-tahun tak pernah naik motor. Menulis pun begitu. Blogger yang lama hiatus semestinya mampu untuk menulis postingan baru. Kalau berbicara motivasi, ya baca lagi sub bab di atas.

Kalau begitu, myelin sama sekali takkan terhapus? Tidak juga. Selain penebalan dari jaringan myelin yang sudah terbentuk, kita bisa membentuk jaringan sirkuit myelin baru dengan berulang-ulang melakukan kebiasaan yang belum pernah dilakukan. Proses ini – sesuai dengan artikel terdahulu – dinamakan dengan proses pembelajaran. Jadi, jaringan lama tidak hilang, hanya dikalahkan prioritasnya oleh jaringan myelin baru.

Saya jadi teringat saat sesi pelatihan online #NgeblogPro yang dikawal oleh Mbak Carolina Ratri, dimana peserta disarankan membuat blog baru untuk dijadikan kelinci percobaan. Saat itu saya memilih membuat blog baru dengan platform blogspot. Apa jadinya? Akibat lama tak menyentuh platform ini, alhasil untuk ngutak-ngatik sidebar saja pusing kakaa 😀

Nulis Tiap Hari Yuk!

Dari artikel ini bisa dibaca arahnya, kan?

Ya, ternyata ada ‘sesuatu’ yang menjadikan kita kok serasa sulit sekali untuk mulai menulis, atau – wah – menulis itu nikmat. Sesuatu itu bernama myelin yang menghiasi tempurung otak kita dengan tingkat ketebalan yang berbeda-beda.

Kalau mau makin lancar menulis – ya – tak ada jalan lain untuk mulai menebalkan myelin menulis. Perjelas dulu motivasi agar ada perasaan kebakaran jenggot di lubuk hati, lalu masuk ke practice, practice dan practice. Untuk blogger yang blog-nya mati suri, bisa baca artikel ini dulu di blognya Mbak Isnuansa.

Bagaimana, siap mulai menulis?

Penyuka kopi, konten tentang teknologi dan desain, terutama seputar web development. Yuk, saling sapa di Twitter!

1 comments On Menulis Tiap Hari Demi Myelinasi

Leave a reply:

Your email address will not be published.