Misteri Tulisan Kentang

Tulisan kentang? Apa itu?

Saya baru tahu istilah ajaib itu lewat kicauan Mbak Vicky:

tulisan kentang

Sejumlah blogger pun bereaksi, seperti Mbak Endah ini:

Nanggung, oke. Dangkal, masuk lah. Info generik? Info yang bagaimana itu?

Ternyata dugaan saya benar: ngawang-ngawang. Padahal saya juga belum ngeh betul definisi ngawang-ngawang dalam artikel itu yang bagaimana.

Tapi dari pernyataan itu, saya jadi mendadak tersadar. Jangan-jangan saya juga sering ngentang dalam menulis, atau yang lebih parah, bisa jadi saya termasuk dalam jajaran blogger kentang!

Well, kategori artikel yang nanggung, dangkal dan info generik itu – jujur saja – sering banget saya temukan di internet, terutama di blog. Jadi ibarat musafir yang menemukan oasis, kicauan Mbak Vicky itu bak dahaga yang terpuaskan. Akhirnya! Ya, akhirnya ada seseorang yang mengungkap telak persis seperti apa yang saya rasakan.

Dan tak berhenti sampai di situ, saya pun mencoba mereka-reka; kenapa ya sebuah tulisan bisa dianggap kentang bagi pembacanya?

Menulis semata untuk google

Saya anggap inilah biang utamanya. Masih banyak blogger yang ternyata belum sembuh dari sihir yang bernama google oriented.

Terlalu fokus pada keyword tertentu yang kemudian dengan acuan ‘demi pejwan’, kata kunci itu disebar, ditebalkan, dimiring, diguling, dibolak-balik sedemikian rupa dengan asumsi simbah akan ‘tertipu’ dan mengendusnya sebagai informasi terfaktual.

Belum lagi tautan demi tautan bertaut, sampai -sampai ada yang tega menautkan balik ke artikel itu sendiri. Lha, kan algoritma google kini sudah banyak berubah?

Ya itu tadi, karena mungkin belum update informasi atau jangan-jangan hanya sekedar ikut-ikutan, teknik jadul itu masih saja ada yang mempraktikkan.

Judul tak mencerminkan isi

Ini juga yang nggak kalah bikin kentang.

Penggunaan kata dan istilah yang bombastis sering toh kita lihat di judul artikel, seperti: terkuak, terbukti, terbongkar.. Memang dari sisi konversi klik dan visual, itu lebih makjleb.

Namun seperti yang pernah saya tulis di artikel tentang bagaimana membentuk tubuh seksi di artikel blog, meski porsi judul dan paragraf awal hanya sebesar 10 persen, itu sekaligus pula mempengaruhi persepsi dan ekspektasi pembaca sebesar 90 persen.

Nah, bagaimana ceritanya jika harapan 90 persen itu nggak kesampean setelah baca keseluruhan artikel? Bahkan malah tekor? Yang ada hanya buang-buang waktu?

Kentang kan jadinya?

Itu baru judul, belum lagi ke masalah:

Minim Data

Sepertinya nggak ada ide yang orisinal sekarang ini. Walau berusaha njelimet menemukan sesuatu yang benar-benar baru, ide dasar dari penemuan itu pasti sudah ada yang mencetuskan sebelumnya.

Yang ada sekarang mungkin sesuai dengan apa kata Picasso:

Good artist copy. Great artist steal.

Atau prinsip yang melegenda; ATM, yang berarti amati, tiru, modifikasi.

Tujuannya sama, meski Picasso lebih dalem maknanya, menyajikan produk yang unik versi kita sendiri versi kekinian adalah berupa upgrade atau kombinasi dari produk-produk yang sudah ada.

Setali tiga uang dengan ngeblog kan? Misal bikin artikel tips, pastinya ya research kata kunci, siapa-siapa yang udah duluan ngebahas, kombinasikan parameternya, meneliti poin-poin apa yang belum ada, lalu hajar dengan bahasa kita sendiri dalam satu artikel yang fresh.

Tapi kan kebanyakan nggak gitu?

Padahal peselancar internet semacam Mbak Vicky itu sudah umum lho. Zaman sekarang orang-orang sudah makin terlatih menilai mana asupan informasi yang bagus beneran dan mana yang ‘cuma’ kentang.

Tapi mungkin juga…

Memang masih berproses

Kemampuan menulis – seperti halnya blogging – tentu melalui sebuah proses. Beda halnya jika kita memang sudah ditakdirkan menjadi seleblogger sedari orok. Proses menulis itu sama halnya jogging pagi. Kalau biasa tiap hari lari pagi kan enak. Badan sigap, nafas anti pengap, teknik dan jarak lari pun makin mantap. Tapi coba libur jogging seminggu, sebulan, tiga bulan…

Dan menulis di media intenet seperti blog, proses menulis itu sangat kentara. Progress log-nya terekspos secara luas. Saya pun menyadari hal itu setiap kali hendak menulis postingan. Ya memang sih, kadang insyaf kadang luput..

Jadi ya saya sering maklum kalau baca artikel yang diistilahkan kentang itu. Mungkin saja narablog di belakangnya masih berproses seperti halnya saya, kan? Who know?

Bagaimanapun, kicauan Mbak Vicky itu bisa jadi satu lecutan semangat, bahwa menulis memang bukan perkara mudah, apalagi menulis tulisan yang bisa dipahami oleh pembaca.

Pendapat sobat? Saya kepingin banget denger pendapatnya tentang misteri tulisan kentang ini.

Freelance Engineer • Books • WordPress •  Users • Digital Artist • Accidental iOS App Developer • Gamers • Find me on: Twitter | Instagram

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer