Weekend kemarin, saya menyempatkan diri tuk hang out bersama keluarga di sebuah mall. Sebenarnya ngga bisa dibilang hang out sih, karena masing-masing memiliki agenda tersendiri. Lha ibunya sibuk tenggelam di swalayan, anaknya berlarian ga sabar ke timezone, sedang bapaknya cuma santai berlenggang-kangkung ke gramedia. Sungguh, keluarga yang mengagumkan sekaligus aneh *hehe*

Well, seperti biasa, kalau kita masuk di toko buku tersebut, suguhan pertama setelah masuk pintu utama adalah rak buku yang masih hangat dipublikasikan, alias New Release. Dan di hari itu, salah satu buku di rak tersebut sepertinya bagus. Judulnya: Melejitkan Otak Lewat Gaya Menulis Bebas (Freewriting). Wow, keren. Kalimat pengantar di sampul belakangnya pun boleh juga:

Otak lebih hebat daripada yang dapat kita bayangkan. Jika kamu “memerasnya” dengan cara yang tepat, otak mampu memproduksi ide-ide brilian dalam waktu singkat. Caranya, ambil sehelai kertas dan pena – atau nyalakan program komputer untuk menulis – dan gunakan salah satu metode menulis yang paling efisien di dunia, yaitu freewriting.

Hoho, ok ok, ambil!

Buku Melejitkan Otak Lewat Gaya Menulis Bebas (Freewriting)Buku ini ditulis oleh Jubilee Enterprise, sebuah perusahaan yang menyediakan konten bagi media-media kreatif dan partner utama dari PT. Elex Media Komputindo.  Dengan tebal 163 halaman, berisi 12 bab dan dicetak di atas kertas buram, buku ini cukup ringan tuk dibawa kemana-mana. Namun jangan salah, isinya ternyata tak seenteng penampilannya lho.

So, karena saya fikir akan terlalu singkat jika me-review buku ini dalam satu tulisan, saya akan membuatnya secara berseri, dan saya anggap postingan kali ini adalah seri pertamanya yang diberi tag: Inspirasi Dari Jean Bauby.

Mari kita mulai dengan sebuah pertanyaan…

Mengapa mayoritas manusia tidak menulis?

Saya agak tersindir juga saat membaca sub judul di atas. Iya, kenapa sih mayoritas manusia tidak atau tidak suka menulis? Sebenarnya kan menulis itu gampang. Bukannya hanya mengurai abjad A sampai Z menjadi kata, merangkai kata jadilah kalimat, kalimat-kalilmat disusun menjadi sebuah paragraf dan kemudian akhirnya paragraf-paragraf itu didesain tuk menjadi satu tulisan utuh? Ditambah lagi, dari bangku Sekolah Dasar kita sudah mengenal pelajaran mengarang, lanjut ke SLTP, SMU pun begitu, hingga – bagi yang sempat menyicipi – saat kuliah kita dijejali berbagai tugas menyusun paper dan diakhiri dengan skripsi. Jadi apa susahnya?

Buku ini berargumen, hal itu dikarenakan kita terlalu memilih tuk mengekspresikan apa yang ada di dalam fikiran dengan cara berbicara, bukan dengan menuliskannya. Speak first, write-nya kapan-kapan. Jadilah sebuah paradoks yang ekstrem: menulis sudah dipelajari sejak berusia 7 tahun, namun uniknya tidak semua orang bisa menulis dengan baik.

Faktor lainnya – ini yang menarik – yaitu bisa jadi karena kita terlalu kaku atau kurang berani tampil ekspresif. Penjelasan masuk akal dari pertanyaan mengapa kita sulit menuangkan ide-ide kreatif dalam bentuk tulisan adalah karena adanya ‘hambatan’ yang mengunci otak sekaligus tangannya. Kenapa bisa begitu?

Semua terjadi karena satu alasan:

Otak selalu menginginkan sesuatu yang ideal, prima dan sebagus mungkin bagi diri kita sendiri.

Akibatnya, itu berimbas pula pada proses menulis. Otak terlalu khawatir nanti kita terlihat konyol dan ditertawakan oleh orang lain. Sensornya sedemikian ketat sehingga untuk menulis satu kalimat pun sulitnya bukan main. Nah, esensi di bagian pendahuluan ini cukup memberi gambaran tentang manfaat metode freewriting sebagai solusi untuk mengatasi kesulitan tersebut.

Mengapa freewriting? Alasannya karena freewriting merupakan metode paling bersahabat untuk membantu seseorang yang ingin menulis gagasan-gagasannya namun belum sempat mewujudkannya hingga sekarang. Selain itu, freewriting membutuhkan kinerja otak secara maksimal sehingga tujuan dari buku ini, yaitu melejitkan potensi otak lewat proses tulis menulis dapat tercapai.

Right, meski ini baru janji seorang penulis di bukunya di bagian pendahuluan, aplikasi sederhana untuk menggunakan metode freewriting dengan cepat pun diperkenalkan, yakni kita ngga akan dituntut untuk membuat tulisan seperti halnya novel-novel karangan Stephanie Meyer atau Stephen Hawking. Karena – yang asyik – kita akan belajar menerapkan metode freewriting ini dengan menuliskan hal-hal yang paling kita kuasai terlebih dahulu, yaitu tentang diri sendiri.

So, berani menerima tantangan ini?

Kalau masih ada yang belum yakin seperti halnya saya, penulis menceritakan sebuah kisah inspiratif yang mungkin akan memotivasi dan merubah mindset kita tentang menulis. Berikut kisahnya…

—- 0 —-

Orang yang pantas menjadi “pahlawanmu” saat kamu merasa tidak bisa atau tidak punya waktu menulis mungkin adalah Jean-Dominique Bauby. Ia adalah editor kepala majalah Elle, majalah fashion yang mendunia itu. Ketika berumur 43 tahun, Bauby mengalami stroke yang membuat ia mengalami sindrom bernama locked-in-syndrome yang menyebabkan ia hanya bisa menggerakkan mata kirinya saja. Dengan kondisi seperti itu ia mampu menyelesaikan sebuah buku setebal 140 halaman.

Mau tahu bagaimana ia melakukan hal itu? Caranya, ia menyewa seorang asisten berama Claudia Mendibil yang membantunya menulis huruf demi huruf. Bauby hanya mendiktekan saja huruf-huruf itu dengan cara mengedipkan mata kirinya. Satu kedipan untuk ‘ya’ dan dua kedipan untuk ‘tidak’ saat asistennya mengeja huruf demi huruf.

Inspirasi menulis dari Jean-Dominique Bauby

Kegigihan Bauby telah menginspirasi banyak orang bahwa hambatan sesulit apapun ternyata tak dapat menghalangi keinginan untuk menuangkan isi fikiran dalam sebuah tulisan. Bahkan, cerita kegigihannya sudah difilmkan dengan apik oleh sutradara bernama Julian Schnabel yang berjudul sama dengan judul bukunya, ‘The Diving Bell and The Butterfly‘.

—- 0 —-

Ok, sambil merenungi kisah Jane Bauby, nantikan lanjutan review buku ini yang akan menjelaskan apa dan bagaimana metode freewriting beserta opini saya di seri berikutnya!

PS: Sobat pernah juga memiliki hambatan untuk menulis? Bagaimana tanggapan sobat tentang pengaruh sensor otak yang selalu menghambat proses menulis? Share di kotak komentar ya 🙂