Pesan Mengguncang Dari Novel The Circle

Selesai membaca novel ini, saya cuma bisa bengong.

Entah apa yang saya rasakan, tapi yang jelas saya merasa terganggu. Pesan moral yang diselipkan novel ini begitu kuat, yaitu tentang dilema antara transparansi digital dan kebebasan privasi. Benturan keduanya memang kerap jadi isu yang relevan hingga kini.

Hanya saja, saya tak terlalu terkesan dengan jalan ceritanya. Jadi maklum, kenapa saya selalu menunda-nunda menghabiskan novel setebal 589 halaman ini. Setiap baru membaca beberapa halaman – aih – kembali lagi ia menghuni rak buku.

Novel apa sih?

Review Novel The Circle

Novel The Circle

Buku fiksi karangan Dave Eggers. Seingat saya, dulu saya beli novel ini di Gramedia Jayapura di jajaran rak New Release. Meski kala itu masih berbungkus plastik, saya tertarik untuk memboyongnya pulang karena ada faktor ‘bintang’ yang tak bisa dianggap remeh: The New York Times Best Seller!

Sinopsis di cover belakangnya pun cukup menarik:

Ketika Mae Holland diterima bekerja di The Circle, dia merasa telah diberikan kesempatan emas dalam hidupnya. The Circle merupakan perusahaan internet dan teknologi yang paling berkuasa di dunia. Mereka menyatukan akun penggunanya dengan surel pribadi, media sosial, internet banking, dan lainnya ke dalam sistem operasi mereka. Sehingga, satu pengguna hanya memiliki satu identitas dan satu akun universal. The Circle merevolusi transparansi dunia digital.

Berhubung saya penyuka genre adventure-thriller, pembukaan sinopsis itu sangat menjanjikan. Setting cerita disajikan utuh, dan kemudian berlanjut ke plot berupa konfilk di paragraf kedua:

Akan tetapi, di balik itu, The Circle ingin masuk sepenuhnya ke semua aspek kehidupan manusia. Mereka berambisi mengawasi setiap langkah, merekam setiap percakapan, dan meneliti seluruh gerak gerik manusia.

Di dunia yang telah terintegrasi dengan The Circle, privasi, rahasia serta identitas anonim adalah kejahatan berat. The Circle perlahan berubah menjadi tiran yang mengontrol penuh hak dan kebebasan manusia.

Terjebak dalam jerat The Circle, piliha Mae kini hanya dua: tetap aman dalam lingkaran penguasa, atau membahayakan nyawanya untuk menumbangkan raksasa digital tersebut.

Wow. This is perfect.

Dan tak kalah memikat adalah biografi singkat penulis. Dave Eggers ternyata seorang finalis penghargaan Pulitzer dan masuk daftar 100 orang paling berpengaruh versi majalah TIME.

Tentang Gaya Penulisan

Mulanya saya menduga, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga (third person point of view) yang melukiskan perilaku tokoh-tokohnya dengan sifat segala tahu (God eyes), seperti hanya Dan Brown dan Dee Lestari.

Itu tergambar saat Mae Holland, sang figur protagonis di novel ini diperkenalkan langsung di halaman awal sewaktu menjadi rekrutan anyar perusahaan Circle. Begitu pula saat tokoh-tokoh lain mulai bermunculan, baik sekedar pendukung maupun tokoh yang berpeluang menjadi ‘pembeda’.

Tapi ternyata hingga sampai pertengahan buku, sudut pandang penulis itu tak pernah lepas dari sosok Mae. Seakan-akan novel ini adalah the big diary of Mae! Jarang – atau mungkin sedikit sekali – penulis menukil background maupun batu landasan motif tokoh-tokoh yang lain.

Novel The Circle Jelek

Beda halnya ketika membaca petualangan Robert Langdon di seri-seri novel Dan Brown, dimana sejarah dan detail antar tokoh diceritakan dengan porsi yang nyaris berimbang. Begitu pula dengan Dee Lestari dalam Inteligensi Embun Pagi, yang apik mengaduk emosi pembaca lewat beberapa tokoh dengan sudut pandang dan pribadi yang berbeda-beda.

Tapi di novel The Circle, Dave Eggers memaksa kita untuk fokus dan hanya tertuju pada sepak terjang Mae. Dengan kata lain, detail dan apapun yang melekat di tokoh lainnya adalah hasil dari pengamatan Mae, sampai di halaman akhir!

Yah, mungkin memang sudah gaya penulisnya begitu ya, atau saya yang kurang luas wawasan bahan bacaan? *haha*

Plot, Spoiler Singkat dan Ending

Bila kita termasuk dalam jajaran die-hard fans medsos, novel ini membuka mata tentang bagaimana cara kerja situs-situs media sosial dari mulai perancangan, trial error hingga pengoperasiannya.

Novel ini pun memberi kisi-kisi mengenai hal ihwal pandangan teknologi digital di masa depan. Saya pikir, tak heran jika Dave Eggers termasuk dalam jajaran orang yang berpengaruh, karena ia memiliki sense of vision yang tinggi. Dan lewat novel The Circle, penulis membuka mata para pembacanya, bahwa pesatnya perkembangan teknologi digital akan membawa manusia dalam keadaan ‘terikat’ di satu jaringan universal.

teknologi digital

Konsep yang diusung perusahaan bernama Circle sederhana saja, yaitu bagaimana agar kehidupan puluhan ribu karyawannya yang tersebar di seluruh dunia meningkat lebih baik lewat satu jaringan media sosial. Namun seiring waktu berjalan serta ‘gila’-nya ambisi para pendiri perusahaan, jaringan itu semakin mengunci rapat ruang kebebasan. Sekali masuk ke dalam jaringan, tak ada lagi yang bersifat pribadi.

Sarapan apa tadi pagi, lagu apa yang sering diputar, tadi malam keluyuran kemana, semua terekam dalam memori Circle. Kenapa bisa begitu? Perusahaan toh tak memaksa karyawannya untuk terus-terusan mengakses jaringan sosial tersebut?

Disini saya mengerti, mengapa kita terobsesi dengan istilah-istilah viral dan eksis. Karena pada dasarnya, manusia memiliki sifat hewani untuk merasa ‘lebih’. Kalau lebih berprestasi, lebih kaya, lebih mapan, itu sih bisa dilihat secara fisik. Namun ada satu perasaan ‘lebih’ yang tak kasat mata namun sangat berpengaruh dalam kehidupan, yaitu ingin ‘lebih terlihat’.

hilangnya privasi di the circle

Wadah untuk penyaluran perasaan eksis itu dalam perusahaan Circle dinamakan dengan PartiRank, atau peringkat popularitas. Suatu angka yang dihitung berdasarkan tingkat partisipasi pengguna – yang terdaftar dalam akun Zing – dalam setiap aktivitas di dalam maupun dari luar perusahaan.

Ketika Mae – dan saya selaku pembaca – sedikit bingung, Gina (salah satu senior perusahaan) menjelaskan:

Angka ini memperhitungkan Zing, pengikut Zing internal dari luar perusahaan, komentar dari Zing, komentarmu di profil staf Circle lain, foto yang kau unggah, kehadiran di acara Circle, komentar dan foto tentang acara itu, jadi pada dasarnya angka itu menghitung dan menonjolkan semua yang kau lakukan di sini. Yang paling aktif tentu peringkatnya paling tinggi.

Seperti yang kau lihat, peringkatmu sekarang rendah, tetapi itu karena kau masih baru dan baru mengaktifkan media sosialmu. Tetapi, setiap kau mengunggah sesuatu atau memberi komentar atau menghadiri apa pun, semua itu akan dihitung dan peringkatmu akan berubah.

Di sinilah serunya. Kalau kau mengunggah sesuatu, peringkatmu naik. Ada yang suka dengan masukanmu, peringkatmu melesat. Sepanjang hari, peringkat itu bergerak terus. Asyik kan?

Ini persis dengan adiksi media sosial, right?

Dan ending-nya – you know – bisa ditebak sejak awal. Persis seperti yang diungkap di sinopsis awal tadi, pergelutan antar kepentingan dalam diri seorang Mae Holland akhirnya ya kembali ke hati nurani. It’s all about humanity, yang terekam jelas di satu paragraf di halaman akhir:

Tak lama lagi semua itu akan digantikan dengan keterbukaan baru yang indah, dunia yang selalu terang. Penyempurnaan akan segera datang dan membawa kedamaian, juga persatuan. Dan, semua kekacauan kemanusiaan sampai saat ini, semua ketidakpastian yang melingkupi dunia sebelum Circle, hanya akan menjadi kenangan.

kesadaran bermedia sosial the circle

Impresi Akhir?

Ya, novel The Circle ini menyuarakan kegundahan hati manusia di tengah jeratan media sosial yang menagih, dan Dave Eggers sangat ulung ‘membungkus’ isu itu dalam jalinan cerita yang digawangi tokoh Mae.

Meski agak hambar karena kurangnya greget dan nyaris tak ada plot-twist yang berarti, novel ini bagus untuk menambah wawasan, bahwasanya kehadiran media sosial itu mengagumkan jika dibarengi dengan kesadaran dalam menggunakannya. Well, seperti petuah yang sering kita dengar:

Apa pun yang berlebihan itu tidak baik…

Satu hal lagi, saya tak begitu ngeh dengan penerjemahan novel ini. Seakan terlalu ‘kaku’ dan mengikuti saja apa kata teks aslinya. Sangat berbeda rasanya dengan membaca novel terjemahan semisal The Da Vinci Code atau novel thriller lainnya. Hmm, saya menduga ada dua kemungkinan: satu, memang aslinya begitu; atau dua, sudah tuntutan dari penerbit yang memegang lisensi.

Yah, whatever it is…

…pesan mengguncang dari novel The Circle ini adalah: jangan sampai kita terkekang oleh perasaan ‘ingin eksis’ dengan mengorbankan privasi, that’s the point.

Bagaimana dengan Anda, sudah membaca novel ini?

Freelance Engineer • Books • WordPress •  User • Digital Artist • Accidental iOS App Developer • Gamer • Poke me on Twitter

2 comments On Pesan Mengguncang Dari Novel The Circle

Leave a reply:

Your email address will not be published.