Sewaktu menjadi tenaga honorer di salah satu instansi penelitian, saya pernah memiliki sosok panutan. Beliau adalah seorang peneliti senior jebolan S2 dari Perancis yang punya selera humor tinggi. Meski pintar dan disegani, beliau sangat friendly dan membumi. Sekilas tak tampak pangkat golongan yang tinggi dan rumah yang megah saat beliau hanya ber-Honda 70, ikut bercanda waktu sparing partner di lapangan badminton, dan dermawan dalam memberi petuah-petuah bernas. Yes, he’s my role model, waktu itu.

Role model, atau orang yang menjadi panutan, sering kita jumpai dalam perjalanan hidup, profesi dan keseharian. Apakah itu dari segi fisik, intelektual, spiritual, buah karya, atau apapun, role model secara tak sadar ikut mempengaruhi pola fikir dan bagaimana kita bertindak tanduk. Ababil (ABG labil) yang demen Sex Pistols, berdandan ala punk: rambut mohawk, jarang mandi, plus kalung rantai bulldog menyeret-nyeret di aspal. Itu contoh yang sederhana.

Tahu Jose Mourinho? Ternyata pelatih sepakbola sekelas beliau pun tak sungkan tuk memantau role model-nya sendiri, seperti katanya…

Dengarkan mereka, raihlah informasi tersebut, tetapi jangan meniru semuanya. Ambilah beberapa yang baik saja. Setelah itu kreasilah falsafah kita sendiri.

Nah, lalu bagaimana dengan blogger?

Tak bisa dipungkiri, dengan semakin maraknya era informasi dan begitu gencarnya kisah-kisah sukses yang beredar, blogger mau tak mau akan mengambil satu contoh kongkrit yang sesuai dengan motifnya. Jika money oriented, mungkin ikut ala John Chow. Yang suka ngocol, ngiblat ke Raditya Dika. Begitu pula motif-motif yang lain, yang prosesnya bisa dimulai dari pemilihan dan nuansa template, topik/cakupan pembahasan, hingga ke gaya bahasa si penulis.

Tapi tak jarang pula lho yang memilih single fighter, apa kata gue, dan sebisa mungkin menjadi role model bagi yang lain. Yah, selera masing-masing sih.

Kalau sobat, punyakah role model atau panutan saat blogging? Dan, apakah itu perlu?