Terpana Dengan Eloknya Pegunungan Yahukimo

Pagi itu masih berselimut kabut tipis saat Mistubishi Strada yang kami tumpangi pelan menyusur jalanan utama kota Wamena menuju Yahukimo.

Dari balik kaca jendela yang berembun dan kondisi setengah mengantuk, saya memandangi kelengangan kota sebelum akhirnya bersemangat sewaktu melintasi pasar sayur. Keramaian dan warna-warni aneka komoditi yang terhampar itu kontras dengan hawa dingin yang menusuk. Saya yang sudah lacur membuka kaca jendela pun langsung sigap menutupnya kembali. Setelah berjibaku dengan belasan mobil-mobil angkutan umum yang terparkir dengan formasi total parking, tim tancap gas dan melaju ke arah timur.

Syahdan, ada empat jembatan yang rencananya akan dibangun pada kegiatan ini. Masing-masing terletak di desa Yetni, Kut, Melage dan Kulugi. Ke-empatnya berada di wilayah Kabupaten Yahukimo, namun pencapaian lokasinya lebih dekat dari Kota Wamena. Dan tepat sebelum jam di tangan menunjukkan pukul delapan pagi, tim tiba di lokasi pertama, sungai Yetni.

Disini saya langsung terpana, ini sungai atau alur bekas longsor?

sungai yetni yahukimo

Lokasi yang disebut ‘sungai’ itu ternyata adalah jalur longsoran dari perbukitan. Limpahan material berupa batu dengan berbagai ukuran dan jutaan kubik pasir terbentang sepanjang hampir lima kilometer. Ini yang membuat kami bingung. Menurut masyarakat setempat, alur sungainya kerap berpindah-pindah. Lha terus, jembatannya mau dibangun di sebelah mana?

longsoran sungai yetni yahukimo
di ujung atas itu, bukit yang ‘terpecah’ dan longsor sejak dahulu

Setelah berembuk dan adu argumentasi, tim akhirnya menentukan solusi. Alur sungai terakhir yang terbentuk dengan debit paling deras lah yang jadi titik perencanaan, dengan syarat, beberapa kilometer ke arah hulu harus ada normalisasi agar arah sungai besar di Yahukimo ini tak berpindah.

perbatasan wamena yahukimo
saya nggak ngeh kalau ternyata tim drone itu mas Syukron dari telusuRI 😀

Sementara tim dari divisi mekanika tanah dan dokumentasi lansekap beraksi, saya dan tim lainnya meneruskan perjalanan untuk mengetahui titik lokasi jembatan selanjutnya, Kut. Singkat kata, berhubung bentangan di sungai Kut pendek, saya pun langsung menurunkan tim pengukuran untuk mengambil data topografi.

sungai kut yahukimo
tim topografi in action

Pengukuran Kut selesai, tim bergerak menuju jantung Yahukimo. Dan sesuai perkiraan, makin jauh dari perbatasan, makin parah kondisi jalannya. Yang sebelumnya beraspal mulus kini kendaraan harus rela ber-off road ria bermandikan debu. Namun itu semua jadi tak terasa, karena saya begitu terbius dengan keindahan panorama pegunungan di Yahukimo yang rupawan.

Oh ya, kabarnya daerah elok ini juga sering jadi tempat wisata bagi traveler yang doyan trekking.

kondisi jalan di yahukimo papua

keindahan pegunungan yahukimo

Berbeda dengan pengalaman sewaktu di Ilaga, temperatur di sini lebih panas. Masyarakat di pegunungan Yahukimo yang didominasi suku Yali pun sangat welcome dengan kehadiran kami.

Beberapa kali kami sangat terbantu dengan petunjuk mereka mengenai arah jalan. Tapi bagi Anda yang sewaktu saat berjalan-jalan di pegunungan Yahukimo atau Papua pada umumnya, jangan sampai kecele begitu saja, karena penduduk lokal di sini tak mengenal kata ‘jauh’. Yang ada hanya ‘dekat’.

Desa Melage ke arah mana ya, Pak?
Ooh, ke arah sana!
Masih jauh kah, Pak?
Aaah, dekaaat sa. Itu di balik gunung itu!

((( di balik gunung ))) 😀

kondisi jalan kabupaten yahukimo papua

Titik jembatan sungai Melage dan Kulugi pun ditemukan setelah memakan waktu sekitar tiga jam dari Kut. Demi efisiensi, tim pengukuran dipisah menjadi dua dan mulai pengukuran esok hari dengan target selesai hingga dua hari ke depan.

– – – – –

Ada yang menarik dari perjalanan ke Yahukimo ini. Bergabung dengan tim perencanaan, ada salah seorang traveler kondang yang tak saya ketahui sebelumnya. Saya baru tahu hal itu saat mengunggah foto selfie di Instagram pas sebentar lagi berangkat ke bandara untuk pulang kembali ke Jayapura. Oleh Bung Eko, foto itu dikomentari dengan kata-kata salam untuk Mas Syukron.

bertemu traveler syukron telusuRI

 

Berhubung beliau ada di samping, langsung saja saya kasih tau dan ndilalah ikut meresponnya juga 😀

By the way, saya senang sekali jika beliau membaca tulisan ini, dan pastinya itu akan membuat saya terpana untuk yang kesekian kali 🙂

Freelance Engineer • Books • WordPress •  Users • Digital Artist • Accidental iOS App Developer • Gamers • Find me on: Twitter | Instagram

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer